Kabut asap tebal kembali menyelimuti Nanga Bulik akibat karhutla, membuat orang tua khawatir terhadap kesehatan anak dan meminta sekolah mempertimbangkan pembelajaran daring.
Kabut asap di Kalimantan Tengah bukan sekadar persoalan kualitas udara, tetapi telah berdampak pada pendidikan, produktivitas, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kualitas udara Palangka Raya memburuk pada Kamis pagi. BMKG mencatat kondisi udara sempat masuk kategori berbahaya, sementara konsentrasi PM2,5 mencapai 206 mikrogram per meter kubik.
Dinkes Palangka Raya menyiapkan layanan oksigen di 11 puskesmas untuk memberikan penanganan cepat bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap karhutla.
DPRD Murung Raya mengimbau masyarakat mewaspadai kabut dan debu selama musim kemarau serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla yang dapat mengganggu kualitas udara.
Kabut asap yang semakin pekat membuat Disdik Kota Palangka Raya menerapkan penyesuaian pembelajaran dan mewajibkan penggunaan masker di seluruh satuan pendidikan.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra Mukti Wijaya menyebut kualitas udara di Kota Palangka Raya hingga Selasa (21/7) pukul 11.00 WIB masih berada dalam kategori b
Kebakaran hutan dan lahan masih marak terjadi di Kota Palangkaraya. Hal ini berdampak pada kualitas udara di Kota Palangkaraya yang saat ini berada di angka 155 dengan parameter kritis PM2.5.
Selama dua hari pada Minggu (8/10) dan Senin (9/10), beberapa wilayah di Kota Palangkaraya kembali diguyur hujan, yang tentunya berpengaruh pada kualitas udara.
Adanya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sejumlah wilayah di Kota Palangkaraya, Minggu (8/10). Membantu kualitas udara membaik. Menurut pantauan Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangkaraya, kualitas udara mengalami penurunan nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).
Kualitas udara di Kota Palangka Raya berdasarkan pantauan ISPU dari alat pemantau udara, Sabtu (30/9), masih dalam kategori sangat tidak sehat. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Achmad Zaini, melalui Kepala UPTD Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangkaraya, Ahmad Riadi.