BERBAGAI daerah di Indonesia, minat melakukan ultra cycling atau gowes jarak jaruh, termasuk hingga melebihi 1.000 kilometer (km) secara berkesinambungan cukup tinggi. Khususnya di Jogjakarta, geliat race sepeda jarak jauh turut menjadi bagian dari berkembangnya kultur ultra cycling.
Jarak 100 km umumnya menjadi batas awal sebuah perjalanan dikategorikan sebagai ultra, sementara format randonneuring atau Audax mengenal jarak 200, 300, 400, 600 hingga 1.000 km, bahkan lebih. Masing-masing memiliki batas waktu penyelesaian yang berbeda. Format perlombaannya pun beragam, dari yang mendapat dukungan panitia sepanjang rute hingga kategori unsupported yang menuntut peserta lebih mandiri.
Bagi pehobi sekaligus bagian dari penyelenggaraan event sepeda, Febrian Wijanarko, tantangan terbesar justru bukan sekadar menaklukkan jarak, melainkan bagaimana peserta mampu mengelola perjalanan dari awal hingga garis finis.
Dalam kategori unsupported, peserta tidak mendapatkan dukungan langsung dari tim penyelenggara sepanjang rute. Karena itu, kemampuan menentukan kapan harus berhenti, makan, memperbaiki sepeda hingga beristirahat menjadi bagian penting dari strategi. “Ultra cycling unsupported itu lebih ke manajemen waktu. Kapan kita harus istirahat, kapan kita harus makan, tidur berapa jam, 10 menit, 20 menit, per sekian berapa, kan gitu,” ujar Febrian, Jumat (4/9/2026).
Konsep tersebut membuat ultra cycling memiliki karakter berbeda dibandingkan balapan sepeda yang berorientasi pada kecepatan. Peserta dituntut mampu mempertahankan ritme dalam perjalanan panjang dengan kondisi yang terus berubah.
Persoalan teknis juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Kerusakan seperti ban bocor, ruji patah hingga kerusakan komponen sepeda dapat terjadi di tengah perjalanan. Dalam event unsupported, peserta dituntut mampu menangani persoalan tersebut secara mandiri.
Namun, bukan berarti peserta sama sekali tidak boleh mencari bantuan. Peserta tetap perlu melaporkan kondisi kepada panitia apabila mengalami kendala serius sebelum mengambil langkah perbaikan di luar. “Inisiatif boleh, tapi kita harus ngasih tahu panitia. Ini tadi kronologinya seperti ini, seperti ini. Itu ada. Harus kayak gitu,” katanya.
Berbeda dengan unsupported, event dengan format supported biasanya menyediakan mekanisme bantuan dari panitia. Ketika peserta mengalami masalah, tim penyelenggara dapat memberikan bantuan atau mencarikan mekanik terdekat.
Dari sisi sepeda, ultra cycling juga tidak menetapkan satu jenis sepeda tertentu yang wajib digunakan peserta. Road bike, gravel bike hingga sepeda dengan karakter berbeda dapat digunakan selama memenuhi ketentuan perlombaan dan sesuai dengan kenyamanan pengendaranya.
“Kalau untuk sepeda jarak jauh itu sebetulnya enggak ada spesifik kamu harus sepeda apa. Ini kan balik sama keyakinan dan kenyamanan kita,” jelasnya.
Salah satu hal yang lebih diperhatikan justru ukuran dan karakter ban. Ban dengan ukuran lebih besar dinilai memberikan kenyamanan lebih ketika peserta menghadapi jalan berlubang atau permukaan yang tidak mulus.
Sementara itu, beberapa perlengkapan dasar tetap menjadi persyaratan penting. Peserta harus menggunakan sepeda tanpa bantuan mesin, memiliki rem, serta membawa lampu, terutama karena sejumlah event berlangsung hingga malam hari.
Perlengkapan untuk menangani kerusakan sepeda juga menjadi bagian penting dalam perjalanan. Ban cadangan, alat tambal dan tool kit memang tidak selalu menjadi starter pack wajib yang sama pada setiap event, tetapi perlengkapan tersebut semestinya dibawa peserta. Sebab, para peserta juga tidak bisa selalu mengandalkan keberadaan toko sepeda atau mekanik di sepanjang rute.
“Kalau kita bersepeda, senyamannya adalah kita membawa itu. Karena belum tentu di kota A atau di tempat B jenis yang misalnya kita pakai ban A atau dengan ukuran A itu ada,” terangnya.
Tak hanya itu, risiko lain seperti kelelahan dan kehilangan fokus menjadi ancaman yang jauh lebih serius. Febrian menyebut kecelakaan akibat microsleep sebagai salah satu yang kerap muncul dalam perjalanan panjang. “Bayangin aja bersepeda jauh ngantuk, jatuh. Hilang fokus ya. Microsleep itu kan bahaya. Itu paling bahaya dan itu sering terjadi,” bebernya.
Karena itu, kesiapan mental menjadi faktor penting sebelum seseorang memutuskan mengikuti race dengan jarak ekstrem. Febrian mengingatkan peserta agar tidak sekadar mengikuti tren atau merasa harus ikut event tertentu karena takut tertinggal dari komunitas.
“Yang pertama, enggak usah fomo. Misal ini Bentang Jawa, terus fomo mau ikut Bentang Jawa. Mungkin kamu bisa keterima, tapi mentalmu belum tentu bisa keterima,” pesannya.
Menurutnya, memiliki sepeda mahal atau modal yang cukup untuk mengikuti sebuah event tidak otomatis membuat seseorang siap menempuh ratusan kilometer. Peserta tetap membutuhkan pengalaman, konsistensi latihan dan kemampuan menghadapi kejenuhan selama berada di atas sadel. Justru, latihan tidak selalu harus dilakukan dengan mengejar jarak sejauh mungkin. Konsistensi bersepeda setiap hari dinilai lebih penting untuk membangun kebiasaan dan ketahanan.
“Kalau saya lebih menyarankan mending sepedaan sehari satu jam, tapi rutin. Itu saya yakin, akan lebih kuat ketika misalnya 100 kilo dibanding yang seminggu sekali dengan jarak 100, 70,” tuturnya.
Dari perspektif penyelenggaraan, fenomena race sepeda jarak jauh di Jogja sendiri tidak sepenuhnya bertumpu pada satu organisasi atau event organizer tertentu. Penyelenggaraan umumnya melibatkan tim inti dari masing-masing event serta volunteer lokal di kota tempat perlombaan digelar.
Sejauh ini, dia lebih banyak terlibat dalam penyelenggaraan event yang berlangsung di Jogja. Ia belum berencana memperluas keterlibatannya sebagai penyelenggara ke kota lain.
Baginya, ekosistem tersebut tetap menjadi bagian dari perkembangan kultur bersepeda jarak jauh. Race dengan jarak 100 hingga 200 km bahkan menjadi format yang lebih ia nikmati karena dapat diselesaikan dalam satu hari. “Makanya aku lebih nyaman 100-200, karena kan bisa ditempuh dalam sehari selesai,” tambahnya. (iza/wia/jpg)


