Pada 19 Agustus 2026, pemantauan SIPONGI menunjukkan peningkatan tajam *hotspot high confidence* di Kalimantan Barat, yakni 259 titik dalam pemantauan pukul 07.00 WIB. Secara kumulatif selama 17–19 Agustus, tercatat 367 hotspot high confidence di Kalimantan Barat.
Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap jarak pandang. Pada 19 Agustus, BMKG mencatat jarak pandang di Bandara Supadio, Pontianak, sekitar *1,2 kilometer* pada pukul 08.00 WIB dalam kondisi berasap.
Asap Semakin Tebal, Sekolah Beralih Belajar dari Rumah
Nur Ghina secara khusus menyoroti dampak karhutla terhadap dunia pendidikan.
Menurutnya, salah satu indikator bahwa karhutla telah memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat adalah ketika sejumlah sekolah harus menghentikan sementara pembelajaran tatap muka dan memindahkan kegiatan belajar ke rumah demi melindungi peserta didik dari paparan asap.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melaporkan bahwa hingga *22 Agustus 2026, sebanyak 3.524 satuan pendidikan dengan jangkauan 571.338 murid telah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Wilayah tersebut meliputi Provinsi Kalimantan Barat, Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Kayong Utara, Kota Palangka Raya, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kota Banjarbaru.
“Ketika anak-anak sudah harus belajar dari rumah karena udara di luar tidak lagi aman untuk aktivitas sekolah, kita harus melihat karhutla sebagai persoalan kemanusiaan dan pendidikan. Anak-anak tidak boleh menjadi korban kedua dari bencana lingkungan,”demikian pokok pandangan Nur Ghina.
Kemendikdasmen sendiri menegaskan tiga prinsip dalam menghadapi kondisi tersebut, yaitu keselamatan warga sekolah sebagai prioritas, hak belajar murid tetap dijamin, dan pemulihan pascabencana harus dipersiapkan sejak awal.


