Sebanyak tujuh titik karhutla melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lamandau dalam sehari.Tim gabungan dikerahkan untuk memadamkan api yang menyebar di area pemukiman, perkebunan, hingga lahan gambut.
Kabut asap tebal kembali menyelimuti Nanga Bulik akibat karhutla, membuat orang tua khawatir terhadap kesehatan anak dan meminta sekolah mempertimbangkan pembelajaran daring.
Kabut asap di Kalimantan Tengah bukan sekadar persoalan kualitas udara, tetapi telah berdampak pada pendidikan, produktivitas, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Karhutla kembali mengancam Kalteng di tengah kemarau panjang. DPRD Kalteng meminta pelaku pembakaran lahan sengaja diproses hukum untuk memberikan efek jera.
Karhutla melanda Desa Bunut, Lamandau, dan menghanguskan lebih dari 10 hektare lahan. Bupati Lamandau turun langsung memantau upaya pemadaman oleh tim gabungan.
Sebanyak 399 kejadian karhutla telah membakar 481,04 hektare lahan di Palangka Raya hingga 30 Agustus 2026. Warga diminta tetap waspada di tengah cuaca kering dan minim hujan.
Karhutla masih mengancam wilayah Lamandau. Kapolsek Delang meminta warga tidak hanya melapor, tetapi segera bertindak memadamkan titik api yang masih kecil untuk mencegah kebakaran meluas.
Delapan warga sempat terjebak akibat meluasnya karhutla di Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya.Setelah dua jam proses evakuasi, seluruhnya berhasil diselamatkan dalam kondisi selamat.
Pemko Palangka Raya mengusulkan 42 sumur bor untuk memperkuat ketersediaan sumber air di kawasan rawan karhutla dan mendukung pemadaman agar lebih cepat dan efektif.
Karhutla menghanguskan sekitar 1 hektare lahan di belakang Pasar Induk Nanga Bulik. Polisi masih menyelidiki dugaan pembakaran untuk memastikan penyebab dan kronologi kejadian.
Pemko Palangka Raya menganggarkan sekitar Rp1,7 miliar melalui BTT untuk mendukung penanganan karhutla selama 29 hari perpanjangan status tanggap darurat hingga 8 September 2026.
Wagub Kalteng Edy Pratowo turun langsung memantau penanganan Karhutla di Palangka Raya. Ia juga memberikan dukungan logistik berupa vitamin dan nutrisi bagi petugas yang berjibaku di lapangan.
Karhutla di Lamandau telah membakar 142,77 hektare sepanjang 2026. Warga menghirup asap, sementara hingga kini belum ada satu pun tersangka yang ditetapkan.
Orangutan terlihat di lahan warga Bapanggang Raya saat karhutla berlangsung. BKSDA Kotim memastikan lokasi kemunculan berbeda dari titik kebakaran dan masih memantau keberadaannya.
Polda Kalteng menangani 51 kasus karhutla. Delapan kasus telah naik ke tahap penyidikan dengan 13 tersangka, sementara dugaan keterlibatan empat korporasi masih didalami.
Empat korporasi sedang diselidiki terkait dugaan keterlibatan dalam karhutla. Pemerintah menegaskan pelaku terbukti melanggar dapat dikenai sanksi hingga pencabutan izin.
Keterbatasan sumber air menjadi kendala pemadaman karhutla di Kalteng. Pemerintah menyiapkan penambahan sumur bor dan embung di wilayah rawan kebakaran.
Warga Palangka Raya yang tinggal di kawasan rawan karhutla diimbau menyiapkan penampungan air sederhana untuk membantu mempercepat pemadaman jika api mendekati permukiman.
DPRD Kalteng mengingatkan pentingnya respons cepat dalam menangani karhutla sejak dini, terutama di tengah meningkatnya risiko kebakaran pada musim kemarau.
BMKG mengimbau masyarakat Kalimantan Tengah mewaspadai potensi karhutla pada 3–9 Agustus 2026 serta tidak melakukan pembakaran lahan di tengah cuaca yang cenderung kering.
BPBD Kabupaten Pulang Pisau menyiapkan operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi dampak El Nino yang memperparah musim kemarau dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
BPBD Kota Palangka Raya mencatat lebih dari dua titik api masih muncul meski hujan turun.Petugas gabungan terus melakukan pemadaman dan mengimbau masyarakat tetap waspada selama musim kemarau.
DPRD Kalteng meminta pemerintah memprioritaskan anggaran penanggulangan karhutla agar penanganan bencana dapat berjalan optimal tanpa terkendala keterbatasan dana.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal, lebih kering, dan berlangsung lebih lama.
Dengan sekitar 75 persen wilayahnya berupa ekosistem gambut, Kota Palangka Raya menghadapi tantangan besar dalam menjaga lingkungan sekaligus mencegah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).