Kemarau 2026 Lebih Awal dan Kering, Kalteng Perketat Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Meningkatnya suhu panas dalam beberapa hari terakhir di Kalimantan Tengah (Kalteng) memicu kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama menjelang musim kemarau 2026.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menegaskan bahwa berbagai upaya pengendalian karhutla telah dilakukan sejak awal tahun secara terstruktur dan berkelanjutan.

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Kalteng, Alpius, menyampaikan bahwa langkah kesiapsiagaan sudah dimulai sejak Januari 2026 melalui aktivasi Posko Krisis Karhutla yang beroperasi sepanjang tahun.

“Upaya pengendalian karhutla sudah kita lakukan sejak awal tahun, salah satunya dengan mengaktifkan Posko Krisis Karhutla dari 20 Januari sampai 31 Desember 2026,” ujarnya, Senin (27/4).

Posko tersebut berlokasi di Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Kalteng di Jalan Tjilik Riwut Km 2, Palangka Raya, yang menjadi pusat koordinasi penanganan karhutla.

Selain itu, BPBD juga menggelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Karhutla Tahun 2026 yang melibatkan BPBD kabupaten/kota se-Kalteng serta BMKG. Langkah ini bertujuan menyatukan strategi dalam menghadapi potensi kebakaran.

Dalam rangka memperkuat pemahaman terhadap kondisi iklim, BPBD turut mengikuti konferensi pers BMKG pada 4 Maret 2026 yang menyampaikan peringatan dini bahwa musim kemarau diperkirakan datang lebih awal, lebih kering, dan lebih lama, serta berpotensi dipengaruhi fenomena El Niño.

Electronic money exchangers listing

Selanjutnya, Pemprov Kalteng menggelar rapat diseminasi prediksi musim kemarau pada 9 Maret 2026 yang dipimpin Sekretaris Daerah. Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forkopimda, OPD, instansi vertikal, BPBD kabupaten/kota, camat, hingga pelaku usaha.

Baca Juga :  Kecewa, Gubernur Agustiar Soroti Pihak Perusahaan yang Tak Hadir dalam Rakor PAD

Tidak hanya di tingkat koordinasi, langkah konkret juga dilakukan melalui supervisi lapangan pada 25 Maret 2026 di lima wilayah prioritas, yakni Palangka Raya, Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur, dan Katingan.

“Supervisi ini kita lakukan di daerah yang diprediksi memasuki musim kemarau lebih awal dan lebih lama, sehingga perlu kesiapan lebih dini,” jelasnya.

Upaya penguatan kesiapsiagaan juga dilakukan melalui Rapat Teknis Sinergi Rencana Operasi Penanganan Karhutla pada 16 April 2026, yang melibatkan Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD kabupaten/kota, serta Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan.

Sebagai bentuk kesiapan di lapangan, pemerintah juga menggelar Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Sarana Prasarana Pengendalian Karhutla di Mapolda Kalteng yang dipimpin langsung oleh Gubernur Kalteng bersama Kapolda dan Pangdam.

Selain kesiapan teknis, BPBD juga aktif melakukan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat.

“Kami juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat, baik secara tatap muka maupun melalui media sosial, agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” tegasnya.

Alpius menambahkan, prioritas penanganan karhutla tahun ini difokuskan pada wilayah dengan lahan gambut karena tingkat kerawanannya lebih tinggi.

“Secara umum prioritas penanganan berada di wilayah yang memiliki lahan gambut, seperti Barito Timur, Barito Selatan, Kapuas, Pulang Pisau, Palangka Raya, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat, dan Sukamara,” ungkapnya.

Dengan meningkatnya suhu udara akibat minimnya tutupan awan pada masa peralihan musim, pemerintah mengingatkan bahwa risiko karhutla tetap harus diwaspadai.

“Melalui berbagai langkah antisipasi yang telah dilakukan sejak dini, kami berharap potensi kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau 2026 dapat ditekan semaksimal mungkin,” tandasnya.

Baca Juga :  Jelang Akhir Tahun, Komisi A Minta PAD 2022 Capai Target

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalteng, Indra Wiratama, menyampaikan bahwa pada Jumat (24/4) tidak ditemukan kejadian karhutla. Namun, pada Sabtu (25/4) tercatat tiga kejadian di Kota Palangka Raya, Kabupaten Barito Utara, dan Kabupaten Gunung Mas, dengan total luasan sekitar 3,62 hektare.

“Untuk hari Minggu (26/4), ada empat kejadian karhutla, tiga di Palangka Raya dan satu di Gunung Mas, dengan total luasan sekitar 5,27 hektare. Seluruh kejadian sudah berhasil dipadamkan,” ujarnya, Senin (27/4).

Indra menegaskan, peningkatan suhu dalam beberapa hari terakhir belum dapat dikategorikan sebagai awal karhutla, karena sejak awal tahun 2026 kasus serupa sudah terjadi.

“Terhitung sejak 1 Januari hingga 26 April 2026, sudah terjadi 262 kejadian karhutla dengan total luasan terbakar mencapai 393,47 hektare,” jelasnya.

Sementara itu, Prakirawan BMKG, Chandra, menjelaskan bahwa suhu panas yang dirasakan masyarakat beberapa hari terakhir merupakan fenomena wajar pada masa peralihan musim atau pancaroba menuju kemarau.

“Beberapa hari ini suhu panas dikarenakan minimnya tutupan awan di wilayah Kalteng saat masa peralihan musim. Tanpa awan sebagai payung alami, radiasi matahari langsung menyinari permukaan bumi tanpa hambatan sehingga terasa lebih panas,” jelasnya.

Kondisi tersebut menyebabkan sinar matahari terasa lebih terik dari biasanya, meski secara umum suhu udara masih berada pada kisaran normal, yakni 23 hingga 34 derajat Celsius. (zia/*rif/ala/kpg)

 

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Meningkatnya suhu panas dalam beberapa hari terakhir di Kalimantan Tengah (Kalteng) memicu kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama menjelang musim kemarau 2026.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menegaskan bahwa berbagai upaya pengendalian karhutla telah dilakukan sejak awal tahun secara terstruktur dan berkelanjutan.

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Kalteng, Alpius, menyampaikan bahwa langkah kesiapsiagaan sudah dimulai sejak Januari 2026 melalui aktivasi Posko Krisis Karhutla yang beroperasi sepanjang tahun.

Electronic money exchangers listing

“Upaya pengendalian karhutla sudah kita lakukan sejak awal tahun, salah satunya dengan mengaktifkan Posko Krisis Karhutla dari 20 Januari sampai 31 Desember 2026,” ujarnya, Senin (27/4).

Posko tersebut berlokasi di Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Kalteng di Jalan Tjilik Riwut Km 2, Palangka Raya, yang menjadi pusat koordinasi penanganan karhutla.

Selain itu, BPBD juga menggelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Karhutla Tahun 2026 yang melibatkan BPBD kabupaten/kota se-Kalteng serta BMKG. Langkah ini bertujuan menyatukan strategi dalam menghadapi potensi kebakaran.

Dalam rangka memperkuat pemahaman terhadap kondisi iklim, BPBD turut mengikuti konferensi pers BMKG pada 4 Maret 2026 yang menyampaikan peringatan dini bahwa musim kemarau diperkirakan datang lebih awal, lebih kering, dan lebih lama, serta berpotensi dipengaruhi fenomena El Niño.

Selanjutnya, Pemprov Kalteng menggelar rapat diseminasi prediksi musim kemarau pada 9 Maret 2026 yang dipimpin Sekretaris Daerah. Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forkopimda, OPD, instansi vertikal, BPBD kabupaten/kota, camat, hingga pelaku usaha.

Baca Juga :  Kecewa, Gubernur Agustiar Soroti Pihak Perusahaan yang Tak Hadir dalam Rakor PAD

Tidak hanya di tingkat koordinasi, langkah konkret juga dilakukan melalui supervisi lapangan pada 25 Maret 2026 di lima wilayah prioritas, yakni Palangka Raya, Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur, dan Katingan.

“Supervisi ini kita lakukan di daerah yang diprediksi memasuki musim kemarau lebih awal dan lebih lama, sehingga perlu kesiapan lebih dini,” jelasnya.

Upaya penguatan kesiapsiagaan juga dilakukan melalui Rapat Teknis Sinergi Rencana Operasi Penanganan Karhutla pada 16 April 2026, yang melibatkan Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD kabupaten/kota, serta Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan.

Sebagai bentuk kesiapan di lapangan, pemerintah juga menggelar Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Sarana Prasarana Pengendalian Karhutla di Mapolda Kalteng yang dipimpin langsung oleh Gubernur Kalteng bersama Kapolda dan Pangdam.

Selain kesiapan teknis, BPBD juga aktif melakukan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat.

“Kami juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat, baik secara tatap muka maupun melalui media sosial, agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” tegasnya.

Alpius menambahkan, prioritas penanganan karhutla tahun ini difokuskan pada wilayah dengan lahan gambut karena tingkat kerawanannya lebih tinggi.

“Secara umum prioritas penanganan berada di wilayah yang memiliki lahan gambut, seperti Barito Timur, Barito Selatan, Kapuas, Pulang Pisau, Palangka Raya, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat, dan Sukamara,” ungkapnya.

Dengan meningkatnya suhu udara akibat minimnya tutupan awan pada masa peralihan musim, pemerintah mengingatkan bahwa risiko karhutla tetap harus diwaspadai.

“Melalui berbagai langkah antisipasi yang telah dilakukan sejak dini, kami berharap potensi kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau 2026 dapat ditekan semaksimal mungkin,” tandasnya.

Baca Juga :  Jelang Akhir Tahun, Komisi A Minta PAD 2022 Capai Target

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalteng, Indra Wiratama, menyampaikan bahwa pada Jumat (24/4) tidak ditemukan kejadian karhutla. Namun, pada Sabtu (25/4) tercatat tiga kejadian di Kota Palangka Raya, Kabupaten Barito Utara, dan Kabupaten Gunung Mas, dengan total luasan sekitar 3,62 hektare.

“Untuk hari Minggu (26/4), ada empat kejadian karhutla, tiga di Palangka Raya dan satu di Gunung Mas, dengan total luasan sekitar 5,27 hektare. Seluruh kejadian sudah berhasil dipadamkan,” ujarnya, Senin (27/4).

Indra menegaskan, peningkatan suhu dalam beberapa hari terakhir belum dapat dikategorikan sebagai awal karhutla, karena sejak awal tahun 2026 kasus serupa sudah terjadi.

“Terhitung sejak 1 Januari hingga 26 April 2026, sudah terjadi 262 kejadian karhutla dengan total luasan terbakar mencapai 393,47 hektare,” jelasnya.

Sementara itu, Prakirawan BMKG, Chandra, menjelaskan bahwa suhu panas yang dirasakan masyarakat beberapa hari terakhir merupakan fenomena wajar pada masa peralihan musim atau pancaroba menuju kemarau.

“Beberapa hari ini suhu panas dikarenakan minimnya tutupan awan di wilayah Kalteng saat masa peralihan musim. Tanpa awan sebagai payung alami, radiasi matahari langsung menyinari permukaan bumi tanpa hambatan sehingga terasa lebih panas,” jelasnya.

Kondisi tersebut menyebabkan sinar matahari terasa lebih terik dari biasanya, meski secara umum suhu udara masih berada pada kisaran normal, yakni 23 hingga 34 derajat Celsius. (zia/*rif/ala/kpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru