Menurutnya, ada beberapa indikator yang perlu terus diperhatikan ke depan, yakni rasio utang terhadap PDB, rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara, keseimbangan primer, pertumbuhan penerimaan pajak, profil jatuh tempo utang, serta pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau indikator-indikator tersebut tetap sehat, maka utang masih dapat dikelola. Tetapi kalau utang tumbuh lebih cepat daripada kapasitas ekonomi dan penerimaan negara dalam jangka panjang, di situlah lampu kuning harus mulai kita nyalakan.” tegas Rio
Ia menegaskan bahwa posisi yang tepat bukan mempertentangkan antara kelompok yang mengatakan utang aman dengan kelompok yang mengatakan utang sudah berbahaya.
“Kita harus objektif. Tidak perlu panik, tetapi jangan lengah. Tidak perlu menakut-nakuti masyarakat, tetapi pemerintah juga perlu terus diingatkan untuk menjaga disiplin fiskal. Utang bukan sesuatu yang tabu, tetapi juga bukan ruang pembiayaan tanpa batas,” bebernya.
”Sebagai generasi ekonom muda, saya percaya Indonesia mempunyai potensi ekonomi yang sangat besar. Optimisme harus tetap kita jaga. Namun optimisme terbaik adalah optimisme yang didukung disiplin. Setiap rupiah utang yang kita tarik hari ini harus mampu menciptakan kapasitas ekonomi yang lebih besar bagi generasi berikutnya, bukan justru mewariskan beban yang lebih besar.” tutupnya.(tim)
Menurutnya, ada beberapa indikator yang perlu terus diperhatikan ke depan, yakni rasio utang terhadap PDB, rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara, keseimbangan primer, pertumbuhan penerimaan pajak, profil jatuh tempo utang, serta pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau indikator-indikator tersebut tetap sehat, maka utang masih dapat dikelola. Tetapi kalau utang tumbuh lebih cepat daripada kapasitas ekonomi dan penerimaan negara dalam jangka panjang, di situlah lampu kuning harus mulai kita nyalakan.” tegas Rio
Ia menegaskan bahwa posisi yang tepat bukan mempertentangkan antara kelompok yang mengatakan utang aman dengan kelompok yang mengatakan utang sudah berbahaya.
“Kita harus objektif. Tidak perlu panik, tetapi jangan lengah. Tidak perlu menakut-nakuti masyarakat, tetapi pemerintah juga perlu terus diingatkan untuk menjaga disiplin fiskal. Utang bukan sesuatu yang tabu, tetapi juga bukan ruang pembiayaan tanpa batas,” bebernya.
”Sebagai generasi ekonom muda, saya percaya Indonesia mempunyai potensi ekonomi yang sangat besar. Optimisme harus tetap kita jaga. Namun optimisme terbaik adalah optimisme yang didukung disiplin. Setiap rupiah utang yang kita tarik hari ini harus mampu menciptakan kapasitas ekonomi yang lebih besar bagi generasi berikutnya, bukan justru mewariskan beban yang lebih besar.” tutupnya.(tim)