Gosong Sungai Kahayan: Damang Pahandut Ingatkan Bahaya Pusaran Air, Ajak Lestarikan Kearifan Lokal

PALANGKA RAYA,PROKALTENG.CO — Kasus tenggelamnya Muhammad Kasfi Rosadi di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan, Palangka Raya, Senin (10/8/2026) lalu, memicu perhatian serius dari Damang Kecamatan Pahandut, Wiliam Ngabe Soekah, SE. Ia mengingatkan bahaya yang tersembunyi di balik arus yang tampak tenang serta pentingnya menghidupkan kembali kearifan lokal leluhur.

Musim kemarau membuat aliran Sungai Kahayan surut, kondisi yang biasa disebut “gosong”. Area dangkal dan terbuka itu kerap menjadi tempat bermain yang disukai masyarakat.

Namun, Wiliam mengingatkan, di balik keseruan bermain itu tersembunyi bahaya yang tidak selalu terlihat mata. Arus yang tampak tenang menyimpan pusaran air yang bisa menjadi ancaman keselamatan setiap saat.

Baca Juga :  Setengah Jam, Wanita Gemuk Ini Akhirnya Selamat Setelah Terjepit Beton Drainase

“Saya imbau masyarakat agar menghindari bermain di area seperti ini. Di seputaran Jembatan Kahayan terdapat pusaran di dalam air yang tidak terlihat. Apalagi bagi anak-anak yang belum bisa berenang,” tegas Wiliam kepada Prokalteng.co, Kamis (13/8/2026).

Peristiwa seperti ini nyaris terulang setiap musim kemarau. Hal itu menjadi perhatian serius bagi mantan Lurah Pahandut Seberang ini. Ia menekankan perlunya sikap berhati-hati dari seluruh warga.

Lebih jauh, Wiliam menyoroti kian memudarnya tradisi “Mambaleh Bunu” sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Dayak Kaharingan yang seharusnya menjaga lingkungan dan melindungi warga dari bahaya.

“Mambaleh Bunu adalah kearifan lokal leluhur orang Dayak untuk menjaga lingkungannya sendiri. Jika dilestarikan, hal-hal yang tidak diinginkan seperti kejadian ini dapat terhindar,” ujarnya menegaskan.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Zhezee Galuh Minta Maaf di Forum Adat, Polemik Review Bika Ambon Ci Mehong Dimediasi DAD Palangka Raya

Tradisi Mambaleh Bunu bukan sekadar upacara biasa, melainkan warisan leluhur yang mengandung pesan menjaga kelestarian sekaligus keselamatan di sepanjang aliran Sungai Kahayan. Dengan melestarikan kearifan lokal tersebut sekaligus meningkatkan kewaspadaan saat musim kemarau, diharapkan musibah tenggelam seperti yang menimpa korban Muhammad Kasfi Rosadi tidak lagi terulang.

Masyarakat diimbau tetap berhati-hati, kenali bahaya di balik arus yang tenang, dan bersama-sama menjaga keselamatan serta menghormati sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bumi Tambun Bungai ini. (mg_1/hnd)

 

PALANGKA RAYA,PROKALTENG.CO — Kasus tenggelamnya Muhammad Kasfi Rosadi di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan, Palangka Raya, Senin (10/8/2026) lalu, memicu perhatian serius dari Damang Kecamatan Pahandut, Wiliam Ngabe Soekah, SE. Ia mengingatkan bahaya yang tersembunyi di balik arus yang tampak tenang serta pentingnya menghidupkan kembali kearifan lokal leluhur.

Musim kemarau membuat aliran Sungai Kahayan surut, kondisi yang biasa disebut “gosong”. Area dangkal dan terbuka itu kerap menjadi tempat bermain yang disukai masyarakat.

Namun, Wiliam mengingatkan, di balik keseruan bermain itu tersembunyi bahaya yang tidak selalu terlihat mata. Arus yang tampak tenang menyimpan pusaran air yang bisa menjadi ancaman keselamatan setiap saat.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Setengah Jam, Wanita Gemuk Ini Akhirnya Selamat Setelah Terjepit Beton Drainase

“Saya imbau masyarakat agar menghindari bermain di area seperti ini. Di seputaran Jembatan Kahayan terdapat pusaran di dalam air yang tidak terlihat. Apalagi bagi anak-anak yang belum bisa berenang,” tegas Wiliam kepada Prokalteng.co, Kamis (13/8/2026).

Peristiwa seperti ini nyaris terulang setiap musim kemarau. Hal itu menjadi perhatian serius bagi mantan Lurah Pahandut Seberang ini. Ia menekankan perlunya sikap berhati-hati dari seluruh warga.

Lebih jauh, Wiliam menyoroti kian memudarnya tradisi “Mambaleh Bunu” sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Dayak Kaharingan yang seharusnya menjaga lingkungan dan melindungi warga dari bahaya.

“Mambaleh Bunu adalah kearifan lokal leluhur orang Dayak untuk menjaga lingkungannya sendiri. Jika dilestarikan, hal-hal yang tidak diinginkan seperti kejadian ini dapat terhindar,” ujarnya menegaskan.

Baca Juga :  Zhezee Galuh Minta Maaf di Forum Adat, Polemik Review Bika Ambon Ci Mehong Dimediasi DAD Palangka Raya

Tradisi Mambaleh Bunu bukan sekadar upacara biasa, melainkan warisan leluhur yang mengandung pesan menjaga kelestarian sekaligus keselamatan di sepanjang aliran Sungai Kahayan. Dengan melestarikan kearifan lokal tersebut sekaligus meningkatkan kewaspadaan saat musim kemarau, diharapkan musibah tenggelam seperti yang menimpa korban Muhammad Kasfi Rosadi tidak lagi terulang.

Masyarakat diimbau tetap berhati-hati, kenali bahaya di balik arus yang tenang, dan bersama-sama menjaga keselamatan serta menghormati sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bumi Tambun Bungai ini. (mg_1/hnd)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru