Mukhtarudin Gandeng Pensiunan BNP2TKI-BP2MI Perkuat Tata Kelola Pekerja Migran

Karena itu, pemerintah kini membangun sistem penyiapan Pekerja Migran yang dimulai dari kebutuhan pasar kerja di negara tujuan. Kebutuhan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kebutuhan sektor dan kompetensi sebelum menentukan jenis pelatihan yang diberikan.

“Jadi, latih, kompeten, tempatkan. Sehingga yang dilatih ini insyaallah mayoritas semuanya akan siap untuk bekerja di luar negeri sesuai kompetensi yang dibutuhkan,” jelas Mukhtarudin.

SMK Go Global Jadi Program Prioritas

Dalam kesempatan tersebut, Mukhtarudin juga memaparkan Program SMK Go Global yang menjadi salah satu program prioritas nasional Kementerian P2MI periode 2026–2029.

Program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden pada Sidang Kabinet 20 Oktober 2025 untuk menyiapkan 500.000 tenaga kerja, khususnya untuk sektor welder dan hospitality, sekaligus membuka akses lulusan pendidikan vokasi ke pasar kerja global.

Baca Juga :  Solar Langka, Mukhtarudin Sarankan Pertamina Tambah Kuota

Target penempatan melalui program tersebut dilakukan secara bertahap, yakni 40.000 orang pada 2026, 140.000 pada 2027, 180.000 pada 2028, dan 140.000 pada 2029.

“Ini semuanya skilled worker. Jadi mulai dari hulu sampai hilir. Mulai peningkatan kapasitasnya, kemudian penempatannya, sampai perlindungannya semuanya dalam satu lembaga, yaitu di Kementerian P2MI,” beber Menteri Mukhtarudin.

Electronic money exchangers listing

Untuk 2026, program tersebut telah memasuki tahap pelatihan Batch 1 dengan sekitar 3.340 peserta di 20 wilayah BP3MI.

Menteri Mukhtarudin menjelaskan, skema SMK Go Global dirancang berbeda karena proses penyiapan tenaga kerja dimulai dari kebutuhan nyata pasar kerja luar negeri.

“Jadi ada Job Order-nya dulu, sektornya apa, kompetensinya apa, baru kita latih seperti apa. Kita balik dari hulunya dulu baru ke hilirnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Bakal Hidup Lama dengan Covid-19, Menkes Atur Cara Makan di Restoran

Dengan pola tersebut, pelatihan diharapkan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan, tetapi benar-benar menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pengguna di negara tujuan.

Karena itu, pemerintah kini membangun sistem penyiapan Pekerja Migran yang dimulai dari kebutuhan pasar kerja di negara tujuan. Kebutuhan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kebutuhan sektor dan kompetensi sebelum menentukan jenis pelatihan yang diberikan.

“Jadi, latih, kompeten, tempatkan. Sehingga yang dilatih ini insyaallah mayoritas semuanya akan siap untuk bekerja di luar negeri sesuai kompetensi yang dibutuhkan,” jelas Mukhtarudin.

SMK Go Global Jadi Program Prioritas

Electronic money exchangers listing

Dalam kesempatan tersebut, Mukhtarudin juga memaparkan Program SMK Go Global yang menjadi salah satu program prioritas nasional Kementerian P2MI periode 2026–2029.

Program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden pada Sidang Kabinet 20 Oktober 2025 untuk menyiapkan 500.000 tenaga kerja, khususnya untuk sektor welder dan hospitality, sekaligus membuka akses lulusan pendidikan vokasi ke pasar kerja global.

Baca Juga :  Solar Langka, Mukhtarudin Sarankan Pertamina Tambah Kuota

Target penempatan melalui program tersebut dilakukan secara bertahap, yakni 40.000 orang pada 2026, 140.000 pada 2027, 180.000 pada 2028, dan 140.000 pada 2029.

“Ini semuanya skilled worker. Jadi mulai dari hulu sampai hilir. Mulai peningkatan kapasitasnya, kemudian penempatannya, sampai perlindungannya semuanya dalam satu lembaga, yaitu di Kementerian P2MI,” beber Menteri Mukhtarudin.

Untuk 2026, program tersebut telah memasuki tahap pelatihan Batch 1 dengan sekitar 3.340 peserta di 20 wilayah BP3MI.

Menteri Mukhtarudin menjelaskan, skema SMK Go Global dirancang berbeda karena proses penyiapan tenaga kerja dimulai dari kebutuhan nyata pasar kerja luar negeri.

“Jadi ada Job Order-nya dulu, sektornya apa, kompetensinya apa, baru kita latih seperti apa. Kita balik dari hulunya dulu baru ke hilirnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Bakal Hidup Lama dengan Covid-19, Menkes Atur Cara Makan di Restoran

Dengan pola tersebut, pelatihan diharapkan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan, tetapi benar-benar menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pengguna di negara tujuan.

Terpopuler

Artikel Terbaru