PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – BMKG menyebut Kota Palangka Raya masuk dalam empat besar daerah dengan jumlah hotspot karhutla terbanyak di Kalimantan Tengah. Tingginya titik panas tersebut berdampak pada kualitas udara yang kerap berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya berdasarkan pemantauan konsentrasi PM2,5.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Anton mengatakan hingga saat ini jumlah hotspot di Kota Palangka Raya masih tergolong tinggi dibandingkan sejumlah daerah lain di Kalimantan Tengah.
“Untuk wilayah Palangka Raya, kita termasuk empat besar dengan hotspot terbanyak di Kalimantan Tengah. Saat ini memang hotspot di Palangka Raya masih lumayan banyak,” ujarnya, Kamis (17/9/2026).
Selain dipengaruhi kebakaran yang terjadi di wilayah kota, kondisi kualitas udara juga diperparah oleh arah angin yang membawa asap dari daerah sekitar.
“Palangka Raya di samping banyak kebakaran di wilayahnya sendiri, anginnya bergerak dari arah tenggara. Jadi ada potensi mendapat kiriman asap dari daerah atau kabupaten sebelah, dalam hal ini Pulang Pisau,” katanya.
BMKG juga mencatat kualitas udara di Palangka Raya lebih buruk dibandingkan Pangkalan Bun berdasarkan hasil pemantauan sensor PM2,5 yang ditempatkan di dua wilayah tersebut.
“Palangka Raya kondisinya lebih jelek dibandingkan dengan Pangkalan Bun. Dari pantauan kami, PM2,5 di Palangka Raya berkisar berwarna merah dan berwarna hitam,” ungkap Anton.
Menurutnya, warna merah menunjukkan kualitas udara sangat tidak sehat, sedangkan warna hitam menandakan kondisi udara sudah berada pada tingkat berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
“Artinya sangat tidak sehat dan berbahaya kalau sudah hitam. Berbahaya bagi kesehatan,” tegasnya.
Di sisi lain, BMKG memprediksi musim hujan di Kalimantan Tengah tahun 2026 akan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
“Untuk prediksi musim hujan tahun 2026 ini, kita prediksi akan lebih mundur dari normalnya sekitar satu, dua atau tiga dasarian,” jelas Anton.
Dia menerangkan, musim hujan diperkirakan mulai terjadi terlebih dahulu di wilayah utara Kalimantan Tengah sebelum bergerak ke bagian selatan, termasuk Kota Palangka Raya.
“Untuk wilayah Palangka Raya sendiri kita prediksi akan masuk musim hujan di sekitar Oktober dasarian tiga tahun 2026 atau akhir bulan Oktober,” lanjutnya.
Berdasarkan akumulasi pemantauan hotspot sejak Januari 2026, BMKG mencatat terdapat empat daerah dengan jumlah titik panas tertinggi di Kalimantan Tengah.
“Dari akumulasi Januari, ada empat besar kabupaten dan kota dengan hotspot relatif lebih banyak. Yakni Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, Kapuas dan Kota Palangka Raya,” pungkasnya. (adr)


