PROKALTENG.CO – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menyoroti kembali meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan.
Kondisi tersebut dinilai tidak lagi sebatas persoalan lingkungan, tetapi telah berdampak pada kesehatan, pendidikan, ekonomi, pariwisata hingga kehidupan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Ketua PB HMI Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nur Ghina Muslimah, menanggapi perkembangan karhutla Kalimantan yang berdasarkan monitoring hingga 20 Agustus 2026 menunjukkan eskalasi hotspot, sebaran asap, serta dampak yang semakin luas.
“Karhutla bukan hanya tentang berapa banyak titik panas yang muncul. Ketika asap mulai mengganggu kesehatan, aktivitas sekolah, penerbangan, kehidupan ekonomi masyarakat, bahkan bergerak melewati batas negara, maka ini sudah menjadi persoalan kemanusiaan dan tata kelola negara,”ujar Nur Ghina, Kamis (20/8).
Berdasarkan data monitoring, sepanjang Januari–Juli 2026 tercatat 34.262 hotspot di Pulau Kalimantan dengan luas indikatif 33.837 hektare.
Pada 4 Agustus 2026, Kalimantan Barat mencatat 887 hotspot, Kalimantan Tengah 273 hotspot, Kalimantan Timur 253 hotspot, dan Kalimantan Selatan 211 hotspot dalam pemantauan 24 jam.
Namun demikian, hotspot harus dibaca secara hati-hati karena merupakan indikator anomali panas dan tidak serta-merta identik dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan terbakar.
Dampak Karhutla Sudah Menyentuh Kehidupan Masyarakat
Nur Ghina menilai, indikator paling penting dalam membaca krisis karhutla bukan hanya angka hotspot, tetapi dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Di Kalimantan Tengah misalnya, data hingga 9 Agustus mencatat 1.114 kejadian karhutla dengan luas 2.237,73 hektare.
Sementara Kalimantan Selatan mencatat luas terbakar 3.387,90 hektare hingga 11 Agustus 2026.


