Didemo Massa Aksi Soal Antrean SPBU, Pertamina Kalteng Tambah Pasokan Pertalite 10 Persen

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Merespons desakan aksi massa Aliansi Masyarakat Resah yang menuntut transparansi data distribusi BBM, PT Pertamina Patra Niaga Kalteng memutuskan mempertebal pasokan stok Pertalite hingga 10 persen, Senin (14/9/2026).

Penambahan pasokan ini dilakukan sebagai langkah darurat untuk mengurai antrean panjang di SPBU setelah konsumsi Pertalite tercatat melonjak 7 persen akibat pergeseran perilaku konsumen.

Itu disampaikan saat aksi demonstrasi yang digelar puluhan massa dari Aliansi Masyarakat Resah di depan Kantor PT Pertamina Patra Niaga Sales Area Retail Kalimantan Tengah, Senin (14/9/2026).

Salah satu anggota Aliansi Masyarakat Resah, Aris, menyampaikan empat tuntutan kepada Pertamina. Salah satunya meminta transparansi kuota harian distribusi BBM di setiap SPBU di Kalteng.

Baca Juga :  24 KK Mengungsi ke Posko, Warga Membutuhkan Pakaian Layak Pakai

Selain itu, massa mendesak Pertamina mengevaluasi kebijakan penyesuaian harga BBM dan menjelaskan secara terbuka dasar pertimbangan kenaikan harga kepada publik.

Aliansi juga meminta Pertamina menjamin ketersediaan dan kelancaran distribusi BBM agar masyarakat tidak lagi menghadapi antrean panjang maupun kesulitan memperoleh bahan bakar.

“Kami mendesak transparansi kuota harian distribusi di setiap SPBU di Kalimantan Tengah,” tegas Aris saat menyampaikan tuntutan aksi.

Electronic money exchangers listing

Menanggapi desakan tersebut, Sales Area Manager Retail Pertamina Kalteng Donny Prasetya menghargai aspirasi yang disampaikan masyarakat dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.

Namun, Donny menjelaskan antrean yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dipicu pergeseran pola konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite setelah harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan.

Baca Juga :  Minta Keadilan untuk Ben dan Ary, Massa Sampaikan Aspirasinya

“Terkait masalah antrean memang terjadi switching atau perpindahan perilaku konsumen. Sebelumnya membeli Pertamax, kemudian beralih menggunakan Pertalite. Kami hitung kurang lebih sekitar tujuh persen untuk seluruh Provinsi Kalimantan Tengah,” ujarnya.

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Merespons desakan aksi massa Aliansi Masyarakat Resah yang menuntut transparansi data distribusi BBM, PT Pertamina Patra Niaga Kalteng memutuskan mempertebal pasokan stok Pertalite hingga 10 persen, Senin (14/9/2026).

Penambahan pasokan ini dilakukan sebagai langkah darurat untuk mengurai antrean panjang di SPBU setelah konsumsi Pertalite tercatat melonjak 7 persen akibat pergeseran perilaku konsumen.

Itu disampaikan saat aksi demonstrasi yang digelar puluhan massa dari Aliansi Masyarakat Resah di depan Kantor PT Pertamina Patra Niaga Sales Area Retail Kalimantan Tengah, Senin (14/9/2026).

Electronic money exchangers listing

Salah satu anggota Aliansi Masyarakat Resah, Aris, menyampaikan empat tuntutan kepada Pertamina. Salah satunya meminta transparansi kuota harian distribusi BBM di setiap SPBU di Kalteng.

Baca Juga :  24 KK Mengungsi ke Posko, Warga Membutuhkan Pakaian Layak Pakai

Selain itu, massa mendesak Pertamina mengevaluasi kebijakan penyesuaian harga BBM dan menjelaskan secara terbuka dasar pertimbangan kenaikan harga kepada publik.

Aliansi juga meminta Pertamina menjamin ketersediaan dan kelancaran distribusi BBM agar masyarakat tidak lagi menghadapi antrean panjang maupun kesulitan memperoleh bahan bakar.

“Kami mendesak transparansi kuota harian distribusi di setiap SPBU di Kalimantan Tengah,” tegas Aris saat menyampaikan tuntutan aksi.

Menanggapi desakan tersebut, Sales Area Manager Retail Pertamina Kalteng Donny Prasetya menghargai aspirasi yang disampaikan masyarakat dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.

Namun, Donny menjelaskan antrean yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dipicu pergeseran pola konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite setelah harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan.

Baca Juga :  Minta Keadilan untuk Ben dan Ary, Massa Sampaikan Aspirasinya

“Terkait masalah antrean memang terjadi switching atau perpindahan perilaku konsumen. Sebelumnya membeli Pertamax, kemudian beralih menggunakan Pertalite. Kami hitung kurang lebih sekitar tujuh persen untuk seluruh Provinsi Kalimantan Tengah,” ujarnya.

Terpopuler

Artikel Terbaru