PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO — Tak tahan lagi mengantre bahan bakar minyak (BBM) hingga berjam-jam di SPBU, sejumlah ibu rumah tangga di Kota Palangka Raya nekat bergabung dalam aksi Aliansi Masyarakat Resah di depan Kantor PT Pertamina Patra Niaga Kalteng, Senin (14/9/2026).
Kehadiran emak-emak ini menjadi penanda puncak kekecewaan warga terhadap krisis BBM yang kian menyita waktu dan mengganggu perekonomian di tengah ancaman kabut asap.
​Pemandangan antrean panjang di hampir setiap SPBU tak hanya memicu kemacetan, tetapi juga menyita waktu produktif warga.
Keharusan berlama-lama mengantre di bawah paparan kualitas udara yang buruk mulai memicu gangguan kesehatan serta menurunkan pendapatan harian masyarakat.
​Keresahan atas antrean yang tak kunjung usai ini disuarakan langsung oleh Ibu Dian (40), warga Jalan G. Obos, Palangka Raya, yang berada di barisan massa aksi.
​”Setiap SPBU antrenya panjang. Kondisi ini mengkhawatirkan, mengganggu kesehatan, dan merusak perekonomian karena waktu kita habis hanya untuk antre di SPBU. Penghasilan jelas terdampak,” tegas Ibu Dian kepada Prokalteng.co.
​Ia menambahkan, sulitnya mendapatkan Pertalite di SPBU resmi akibat antrean parah memaksa warga beralih ke pedagang eceran dengan harga melonjak tajam.
Dampaknya, pengeluaran untuk kebutuhan harian membengkak dan merembet hingga ke alokasi kebutuhan anak.
​”Saya banyak menggunakan bensin harian, nurani saya sebagai ibu terganggu. Warga dengan gaji pas-pasan sudah menganggarkan modal BBM, tapi karena antrean SPBU parah dan harga eceran mahal, akhirnya uang jajan anak yang dikorbankan,” keluhnya.
​Para ibu rumah tangga bersama elemen massa aksi mendesak pemerintah dan Pertamina tidak tinggal diam.


