60 Kasus HIV Tercatat di Palangka Raya, Dinkes: Tak Semuanya Warga Kota

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya menjelaskan data 60 kasus HIV yang menempatkan ibu kota Kalteng sebagai daerah dengan kasus HIV tertinggi di provinsi ini. Angka tersebut ternyata tidak seluruhnya merupakan warga Kota Palangka Raya.

Kepala Dinkes Kota Palangka Raya, Riduan, mengatakan sebagian pasien yang tercatat dalam data layanan kesehatan di Palangka Raya berasal dari daerah lain. Mereka datang untuk berobat maupun mengambil obat secara rutin di fasilitas kesehatan yang ada di kota tersebut.

“Angka 60 kasus itu tidak semuanya warga Kota Palangka Raya. Ada juga warga dari daerah lain yang berobat dan mengambil obat di Palangka Raya sehingga tercatat dalam layanan kesehatan di kota ini,” ujar Riduan, Sabtu (8/8/2026).

Penjelasan itu disampaikan menyusul data Dinkes Provinsi Kalteng yang menempatkan Palangka Raya sebagai daerah dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Kalteng.

Menurut Riduan, posisi Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi sekaligus pusat layanan kesehatan rujukan membuat banyak pasien dari kabupaten lain memilih mendapatkan pengobatan di kota ini. Kondisi tersebut turut memengaruhi jumlah kasus yang tercatat dalam sistem layanan kesehatan.

Baca Juga :  Viral Isu Penagihan Pajak Kafe TKB usai Terbakar, Bapenda Palangka Raya Beri Klarifikasi

“Palangka Raya merupakan ibu kota provinsi sekaligus pusat layanan kesehatan rujukan. Banyak pasien dari kabupaten lain memilih menjalani pengobatan di sini, sehingga turut memengaruhi jumlah kasus yang tercatat dalam data layanan kesehatan,” katanya.

Riduan menegaskan, data layanan kesehatan tidak dapat langsung disamakan dengan data berdasarkan domisili penduduk. Karena itu, angka 60 kasus tersebut tidak bisa serta-merta diartikan seluruhnya merupakan warga yang tinggal di Palangka Raya.

Electronic money exchangers listing

“Karena itu masyarakat perlu memahami bahwa data pelayanan kesehatan berbeda dengan data berdasarkan domisili penduduk. Ada pasien dari luar daerah yang memang rutin mengambil obat di Palangka Raya,” jelasnya.

Di sisi lain, Dinkes Palangka Raya terus memperkuat pencegahan HIV/AIDS melalui edukasi dan sosialisasi. Upaya tersebut melibatkan keluarga, tokoh agama, organisasi masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan.

Riduan menilai penguatan keluarga dan nilai-nilai agama menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman masyarakat, terutama di tengah semakin mudahnya akses informasi melalui teknologi.

“Yang perlu kita tanamkan kepada masyarakat adalah penguatan keluarga dan penguatan nilai-nilai agama. Teknologi saat ini sangat mudah diakses melalui telepon genggam, sehingga perlu ada benteng yang kuat agar tidak terjerumus pada perilaku berisiko,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ingat! WFH Bukan Long Weekend, Wali Kota Palangka Raya Siapkan Sanksi Tegas bagi ASN Nakal

Dia juga menilai perkembangan teknologi informasi dapat memengaruhi perilaku masyarakat, terutama kelompok usia muda dan kelompok rentan.

“Peran keluarga menjadi sangat penting dalam memberikan pemahaman, pendampingan, dan pengawasan agar generasi muda memiliki ketahanan terhadap berbagai pengaruh negatif yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV,” tuturnya.

Berdasarkan temuan kasus yang ada, penularan HIV tidak hanya ditemukan pada hubungan heteroseksual, tetapi juga pada kelompok laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki (LSL). Karena itu, edukasi mengenai risiko penularan terus dilakukan secara berkelanjutan.

“Kami terus melakukan edukasi dan pendampingan agar masyarakat memahami risiko penularan HIV serta terdorong untuk menjalani perilaku hidup yang sehat dan positif,” tegas Riduan.

Dinkes Kota Palangka Raya bersama Dinkes Provinsi Kalteng, organisasi masyarakat, dan berbagai pihak yang bergerak dalam penanggulangan HIV/AIDS juga terus menggencarkan sosialisasi, deteksi dini, serta pendampingan kepada kelompok rentan.

“Kami berharap masyarakat tidak hanya fokus pada angka kasus, tetapi juga memahami pentingnya deteksi dini, pengobatan yang berkelanjutan, serta peran keluarga dan lingkungan dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS di Kota Palangka Raya maupun Kalteng,” pungkasnya. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya menjelaskan data 60 kasus HIV yang menempatkan ibu kota Kalteng sebagai daerah dengan kasus HIV tertinggi di provinsi ini. Angka tersebut ternyata tidak seluruhnya merupakan warga Kota Palangka Raya.

Kepala Dinkes Kota Palangka Raya, Riduan, mengatakan sebagian pasien yang tercatat dalam data layanan kesehatan di Palangka Raya berasal dari daerah lain. Mereka datang untuk berobat maupun mengambil obat secara rutin di fasilitas kesehatan yang ada di kota tersebut.

“Angka 60 kasus itu tidak semuanya warga Kota Palangka Raya. Ada juga warga dari daerah lain yang berobat dan mengambil obat di Palangka Raya sehingga tercatat dalam layanan kesehatan di kota ini,” ujar Riduan, Sabtu (8/8/2026).

Electronic money exchangers listing

Penjelasan itu disampaikan menyusul data Dinkes Provinsi Kalteng yang menempatkan Palangka Raya sebagai daerah dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Kalteng.

Menurut Riduan, posisi Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi sekaligus pusat layanan kesehatan rujukan membuat banyak pasien dari kabupaten lain memilih mendapatkan pengobatan di kota ini. Kondisi tersebut turut memengaruhi jumlah kasus yang tercatat dalam sistem layanan kesehatan.

Baca Juga :  Viral Isu Penagihan Pajak Kafe TKB usai Terbakar, Bapenda Palangka Raya Beri Klarifikasi

“Palangka Raya merupakan ibu kota provinsi sekaligus pusat layanan kesehatan rujukan. Banyak pasien dari kabupaten lain memilih menjalani pengobatan di sini, sehingga turut memengaruhi jumlah kasus yang tercatat dalam data layanan kesehatan,” katanya.

Riduan menegaskan, data layanan kesehatan tidak dapat langsung disamakan dengan data berdasarkan domisili penduduk. Karena itu, angka 60 kasus tersebut tidak bisa serta-merta diartikan seluruhnya merupakan warga yang tinggal di Palangka Raya.

“Karena itu masyarakat perlu memahami bahwa data pelayanan kesehatan berbeda dengan data berdasarkan domisili penduduk. Ada pasien dari luar daerah yang memang rutin mengambil obat di Palangka Raya,” jelasnya.

Di sisi lain, Dinkes Palangka Raya terus memperkuat pencegahan HIV/AIDS melalui edukasi dan sosialisasi. Upaya tersebut melibatkan keluarga, tokoh agama, organisasi masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan.

Riduan menilai penguatan keluarga dan nilai-nilai agama menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman masyarakat, terutama di tengah semakin mudahnya akses informasi melalui teknologi.

“Yang perlu kita tanamkan kepada masyarakat adalah penguatan keluarga dan penguatan nilai-nilai agama. Teknologi saat ini sangat mudah diakses melalui telepon genggam, sehingga perlu ada benteng yang kuat agar tidak terjerumus pada perilaku berisiko,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ingat! WFH Bukan Long Weekend, Wali Kota Palangka Raya Siapkan Sanksi Tegas bagi ASN Nakal

Dia juga menilai perkembangan teknologi informasi dapat memengaruhi perilaku masyarakat, terutama kelompok usia muda dan kelompok rentan.

“Peran keluarga menjadi sangat penting dalam memberikan pemahaman, pendampingan, dan pengawasan agar generasi muda memiliki ketahanan terhadap berbagai pengaruh negatif yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV,” tuturnya.

Berdasarkan temuan kasus yang ada, penularan HIV tidak hanya ditemukan pada hubungan heteroseksual, tetapi juga pada kelompok laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki (LSL). Karena itu, edukasi mengenai risiko penularan terus dilakukan secara berkelanjutan.

“Kami terus melakukan edukasi dan pendampingan agar masyarakat memahami risiko penularan HIV serta terdorong untuk menjalani perilaku hidup yang sehat dan positif,” tegas Riduan.

Dinkes Kota Palangka Raya bersama Dinkes Provinsi Kalteng, organisasi masyarakat, dan berbagai pihak yang bergerak dalam penanggulangan HIV/AIDS juga terus menggencarkan sosialisasi, deteksi dini, serta pendampingan kepada kelompok rentan.

“Kami berharap masyarakat tidak hanya fokus pada angka kasus, tetapi juga memahami pentingnya deteksi dini, pengobatan yang berkelanjutan, serta peran keluarga dan lingkungan dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS di Kota Palangka Raya maupun Kalteng,” pungkasnya. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru