Akibatnya, kampus perlahan kehilangan fungsinya sebagai ruang bebas untuk berpikir, berdebat, dan mengorganisirperlawanan terhadap ketidakadilan.
Bahaya terbesar dari praktik semacam ini bukan terjadi hari ini, melainkan pada masa depan gerakan mahasiswa itu sendiri.
Ketika keberadaan intel di lingkungan organisasi dianggap normal, maka budaya saling percaya akan runtuh.
Organisasi mahasiswa tidak lagi sibuk merumuskan gagasan perubahan, tetapi justru sibuk mencurigai satu sama lain.
Gerakan kehilangan energi politiknya, sementara kekuasaan memperoleh keuntungan dari perpecahan yang tercipta.
Karena itu, kritik terhadap aktivis mahasiswa yang memilih menjadi intel bukanlah kritik terhadap profesi intelijen itu sendiri.
Akibatnya, kampus perlahan kehilangan fungsinya sebagai ruang bebas untuk berpikir, berdebat, dan mengorganisirperlawanan terhadap ketidakadilan.
Bahaya terbesar dari praktik semacam ini bukan terjadi hari ini, melainkan pada masa depan gerakan mahasiswa itu sendiri.
Ketika keberadaan intel di lingkungan organisasi dianggap normal, maka budaya saling percaya akan runtuh.
Organisasi mahasiswa tidak lagi sibuk merumuskan gagasan perubahan, tetapi justru sibuk mencurigai satu sama lain.
Gerakan kehilangan energi politiknya, sementara kekuasaan memperoleh keuntungan dari perpecahan yang tercipta.
Karena itu, kritik terhadap aktivis mahasiswa yang memilih menjadi intel bukanlah kritik terhadap profesi intelijen itu sendiri.