Kutukan Daerah Kaya: Ketika Sawit dan Tambang Menghasilkan Triliunan, tetapi APBD Kalimantan Tengah Justru Menyusut

Ketika dana sebesar itu hilang dari struktur pendapat daerah, kemampuan pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan otomatis ikut melemah.

Ironisnya, pemangkasan tersebut terjadi ketika aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam masih berlangsung kuat.

Perkebunan sawit tetap berproduksi, batu bara tetap dikirim kepasar ekspor, dan berbagai komoditas primer tetap menghasilkan devisa bagi negara.

Dengan kata lain, sumber daya alam Kalimantan Tengah tetap bekerja untukperekonomian nasional, tetapi manfaat fiskalnya semakin kecildirasakan oleh daerah penghasil.

Data Kementerian Keuangan memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan.

Hingga Maret 2026, penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) di Kalimantan Tengah mengalami kontraksi17,33 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penyebab utamanya adalah kontraksi Dana Bagi Hasil yang mencapai 73,08 persen secara tahunan.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Tragedi Penambang Emas di Kapuas, Dewan Dorong Penataan Ulang Pertambangan Rakyat

Bahkan beberapa daerah tidakmemperoleh alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik pada tahun berjalan.

Kondisi tersebut secara langsung menekankemampuan fiskal daerah penghasil.

Ketika dana sebesar itu hilang dari struktur pendapat daerah, kemampuan pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan otomatis ikut melemah.

Ironisnya, pemangkasan tersebut terjadi ketika aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam masih berlangsung kuat.

Perkebunan sawit tetap berproduksi, batu bara tetap dikirim kepasar ekspor, dan berbagai komoditas primer tetap menghasilkan devisa bagi negara.

Electronic money exchangers listing

Dengan kata lain, sumber daya alam Kalimantan Tengah tetap bekerja untukperekonomian nasional, tetapi manfaat fiskalnya semakin kecildirasakan oleh daerah penghasil.

Data Kementerian Keuangan memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan.

Hingga Maret 2026, penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) di Kalimantan Tengah mengalami kontraksi17,33 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penyebab utamanya adalah kontraksi Dana Bagi Hasil yang mencapai 73,08 persen secara tahunan.

Baca Juga :  Tragedi Penambang Emas di Kapuas, Dewan Dorong Penataan Ulang Pertambangan Rakyat

Bahkan beberapa daerah tidakmemperoleh alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik pada tahun berjalan.

Kondisi tersebut secara langsung menekankemampuan fiskal daerah penghasil.

Terpopuler

Artikel Terbaru