Mengurangi Ketergantungan Dolar, Memperkuat Peran Rupiah di Kancah Global

GEJOLAK ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa besar pengaruh dolar Amerika Serikat terhadap perekonomian dunia.

Kenaikan suku bunga The Federal Reserve, konflik geopolitik, hingga ketidakpastian perdagangan internasional kerap memicu tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dalam situasi seperti ini, upaya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap dolar bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan kebutuhan strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Selama puluhan tahun, dolar AS menjadi mata uang utama dalam perdagangan internasional, investasi, dan cadangan devisa.

Dominasi tersebut memang memudahkan transaksi global, tetapi juga menciptakan kerentanan. Ketika dolar menguat, biaya impor meningkat, beban pembayaran utang luar negeri bertambah, dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar.

Baca Juga :  Semakin Lengkap! Investasi di Pasar Modal Kini Lebih Mudah via BRImo

Akibatnya, stabilitas ekonomi domestik sering kali dipengaruhi faktor-faktor yang berada di luar kendali pemerintah Indonesia.

Karena itu, langkah Bank Indonesia dan pemerintah mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional patut diapresiasi.

Electronic money exchangers listing

Melalui skema Local Currency Transaction (LCT), Indonesia bersama sejumlah negara mitra seperti Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Singapura, dan Korea Selatan mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar sebagai mata uang perantara.

Kebijakan ini bukan hanya bertujuan meningkatkan efisiensi transaksi, tetapi juga memperkuat kedaulatan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Hasilnya mulai terlihat. Bank Indonesia mencatat volume transaksi LCT periode Januari-April 2026 mencapai 22,61 miliar dolar AS atau meningkat sekitar 309 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Fanatisme Politik Masyarakat Indonesia

GEJOLAK ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa besar pengaruh dolar Amerika Serikat terhadap perekonomian dunia.

Kenaikan suku bunga The Federal Reserve, konflik geopolitik, hingga ketidakpastian perdagangan internasional kerap memicu tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dalam situasi seperti ini, upaya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap dolar bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan kebutuhan strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Electronic money exchangers listing

Selama puluhan tahun, dolar AS menjadi mata uang utama dalam perdagangan internasional, investasi, dan cadangan devisa.

Dominasi tersebut memang memudahkan transaksi global, tetapi juga menciptakan kerentanan. Ketika dolar menguat, biaya impor meningkat, beban pembayaran utang luar negeri bertambah, dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar.

Baca Juga :  Semakin Lengkap! Investasi di Pasar Modal Kini Lebih Mudah via BRImo

Akibatnya, stabilitas ekonomi domestik sering kali dipengaruhi faktor-faktor yang berada di luar kendali pemerintah Indonesia.

Karena itu, langkah Bank Indonesia dan pemerintah mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional patut diapresiasi.

Melalui skema Local Currency Transaction (LCT), Indonesia bersama sejumlah negara mitra seperti Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Singapura, dan Korea Selatan mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar sebagai mata uang perantara.

Kebijakan ini bukan hanya bertujuan meningkatkan efisiensi transaksi, tetapi juga memperkuat kedaulatan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Hasilnya mulai terlihat. Bank Indonesia mencatat volume transaksi LCT periode Januari-April 2026 mencapai 22,61 miliar dolar AS atau meningkat sekitar 309 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Fanatisme Politik Masyarakat Indonesia

Terpopuler

Artikel Terbaru