Kemarau Belum Dominan, BMKG Prediksi Hujan Masih Mengguyur Kalteng

“Mulai tanggal 21 sampai 23 Juni diperkirakan terjadi penurunan intensitas hujan, terutama di wilayah selatan Kalimantan Tengah. Namun pada 24 hingga 26 Juni peluang hujan kembali meningkat meskipun tidak setinggi sebelumnya,” jelasnya.

Ia menjelaskan, musim kemarau bukan berarti hujan akan berhenti sepenuhnya. Curah hujan masih tetap terjadi, tetapi intensitas lebih sedikit dibandingkan saat musim penghujan.

“Kalau pada musim hujan, curah hujan bisa mencapai sekitar 150 milimeter per bulan. Saat musim kemarau bisa turun menjadi sekitar 70 hingga 80 milimeter per bulan,” katanya.

Dengan kondisi ini, Chandra menyebut musim kemarau tahun ini masih akan diwarnai hujan di sejumlah wilayah, meski frekuensi dan intensitasnya lebih rendah dibandingkan periode musim hujan.

Baca Juga :  Korban yang Jatuh dari Jembatan Katingan Belum Ditemukan

Selain itu, pihaknya terus memantau perkembangan fenomena El Nino yang diprediksi berpotensi terjadi dengan kategori moderat pada tahun ini. Apabila fenomena tersebut berlangsung bersamaan dengan musim kemarau, maka curah hujan diperkirakan akan semakin berkurang.

“Berdasarkan prediksi terbaru, El Nino berpeluang terjadi dengan kategori moderat. Jika terjadi bersamaan dengan musim kemarau, maka kondisi kering akan semakin dominan dan risiko kekeringan di beberapa wilayah dapat meningkat,” sebutnya.

Chandra mengatakan, tingginya suhu udara pada siang hari berpengaruh langsung terhadap peningkatan proses penguapan yang terjadi di permukaan bumi. Kondisi geografis Kalteng yang memiliki banyak sungai, rawa, dan danau turut mendukung terbentuknya uap air dalam jumlah besar.

Baca Juga :  Ribuan Umat Kristiani di Palangka Raya Rayakan Jumat Agung

“Mulai tanggal 21 sampai 23 Juni diperkirakan terjadi penurunan intensitas hujan, terutama di wilayah selatan Kalimantan Tengah. Namun pada 24 hingga 26 Juni peluang hujan kembali meningkat meskipun tidak setinggi sebelumnya,” jelasnya.

Ia menjelaskan, musim kemarau bukan berarti hujan akan berhenti sepenuhnya. Curah hujan masih tetap terjadi, tetapi intensitas lebih sedikit dibandingkan saat musim penghujan.

“Kalau pada musim hujan, curah hujan bisa mencapai sekitar 150 milimeter per bulan. Saat musim kemarau bisa turun menjadi sekitar 70 hingga 80 milimeter per bulan,” katanya.

Electronic money exchangers listing

Dengan kondisi ini, Chandra menyebut musim kemarau tahun ini masih akan diwarnai hujan di sejumlah wilayah, meski frekuensi dan intensitasnya lebih rendah dibandingkan periode musim hujan.

Baca Juga :  Korban yang Jatuh dari Jembatan Katingan Belum Ditemukan

Selain itu, pihaknya terus memantau perkembangan fenomena El Nino yang diprediksi berpotensi terjadi dengan kategori moderat pada tahun ini. Apabila fenomena tersebut berlangsung bersamaan dengan musim kemarau, maka curah hujan diperkirakan akan semakin berkurang.

“Berdasarkan prediksi terbaru, El Nino berpeluang terjadi dengan kategori moderat. Jika terjadi bersamaan dengan musim kemarau, maka kondisi kering akan semakin dominan dan risiko kekeringan di beberapa wilayah dapat meningkat,” sebutnya.

Chandra mengatakan, tingginya suhu udara pada siang hari berpengaruh langsung terhadap peningkatan proses penguapan yang terjadi di permukaan bumi. Kondisi geografis Kalteng yang memiliki banyak sungai, rawa, dan danau turut mendukung terbentuknya uap air dalam jumlah besar.

Baca Juga :  Ribuan Umat Kristiani di Palangka Raya Rayakan Jumat Agung

Terpopuler

Artikel Terbaru