PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Gugurnya tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan saat menggerebek bandar narkoba di Kabupaten Katingan memunculkan tanda tanya di tengah publik.
Banyak pihak mempertanyakan pertimbangan kepolisian yang hanya menerjunkan 12 personel tanpa membawa persenjataan berat maupun pasukan tambahan, mengingat operasi tersebut berujung pada perlawanan mematikan.
Menanggapi hal itu, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah (Kapolda Kalteng) Irjen Pol Iwan Kurniawan menegaskan, pengerahan 12 personel telah melalui proses penyelidikan, pemetaan (mapping), dan evaluasi risiko yang dilakukan selama beberapa bulan.
Menurutnya, keputusan untuk tidak mengerahkan pasukan dalam jumlah besar didasarkan pada pengalaman penangkapan sebelumnya terhadap target yang berlangsung tanpa perlawanan.
“Informasi ini kan dari bulan Maret. Kemudian anggota sudah melakukan penyelidikan. Ternyata diketahui bahwa pelakunya adalah Saudara B, dan mereka (anggota) pernah melakukan penangkapan terhadap si Saudara B tersebut,” ujarnya usai konferensi pers, Kamis (23/7/2026).
Sebelum operasi dilakukan, personel juga telah menjalankan undercover buy (pembelian terselubung) serta memetakan lokasi sasaran. Hasilnya, petugas meyakini penindakan dapat berlangsung aman.
“Hasil mappingnya kan anggota sudah meyakini betul bahwa pada saat melakukan penangkapan dulu pun tidak ada masalah,” tegasnya.
Kapolda menjelaskan, meski hanya melibatkan 12 personel, strategi penangkapan telah disusun secara matang. Setiap anggota memiliki peran dan posisi masing-masing untuk mengepung target.
“Bahkan strategi menangkap si B yang dilakukan itu sudah dibagi. Anggota ada yang jauh di Polwan, kemudian dibagi tugas, ada yang di depan rumah, yang masuk semua,” jelasnya.
Ia mengatakan, operasi penangkapan terhadap Bio beserta penyitaan barang bukti sabu pada awalnya berjalan lancar. Situasi berubah setelah muncul provokasi dari seorang perempuan di lokasi yang berteriak “rampok”, sehingga memancing warga berdatangan.
“Ini sebenarnya situasi saja, ketika ada provokasi kalimat ‘rampok-rampok’ sehingga membuat masyarakat itu pada datang,” imbuhnya.
Terkait tidak digunakannya persenjataan berat untuk membubarkan massa, kepolisian menyebut langkah represif dihindari demi mencegah jatuhnya korban dari kalangan masyarakat yang ikut terprovokasi.
Meski massa datang membawa senjata tajam, senapan, dan balok kayu, mayoritas warga disebut tidak melakukan penyerangan. Aksi brutal dilakukan oleh sekelompok kerabat pelaku yang belakangan diketahui positif mengonsumsi narkoba.
“Anggota pada waktu itu berpikir, daripada nanti masyarakat menjadi korban, akhirnya mereka memilih untuk mundur,” terangnya.
Namun, keputusan mundur demi melindungi warga sipil justru dimanfaatkan para pelaku untuk terus memburu petugas. Dalam insiden tersebut, kendaraan polisi dibakar dan tiga anggota gugur saat menjalankan tugas negara. (her)


