PROKALTENG.CO – Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berbeda di setiap daerah membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Kalimantan Tengah (Kalteng) tidak menerapkan satu pola pembelajaran secara seragam di seluruh sekolah.
Hasil tinjauan lapangan Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran menunjukkan adanya perbedaan kondisi udara di sejumlah daerah. Temuan tersebut menjadi salah satu pertimbangan Disdik Kalteng dalam menyusun kebijakan pembelajaran selama masa karhutla.
Kepala Disdik Provinsi Kalteng Muhammad Reza Prabowo menyampaikan hasil tinjauan tersebut dalam rapat koordinasi pembelajaran selama masa karhutla bersama kepala sekolah SMA, SMK, dan SKh se-Kalteng melalui Zoom, Sabtu (29/8/2026).
Di Kabupaten Sukamara, tepatnya Balai Riam, kegiatan pembelajaran masih berlangsung normal. Siswa dan guru tetap menggunakan masker karena terdapat asap tipis, namun tidak berbau.
Kondisi serupa ditemukan di Pangkalan Bun, khususnya SMAN 1 Pangkalan Bun. Aktivitas pembelajaran masih berjalan seperti biasa dengan penggunaan masker oleh warga sekolah.
Sementara itu, kondisi berbeda terlihat di Kota Palangka Raya. Kabut asap mulai menebal dan disertai bau, sehingga membutuhkan langkah kebijakan yang lebih konkret.
Perbedaan kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah tidak menerapkan satu pola pembelajaran yang sama secara kaku untuk seluruh sekolah.
Reza mengatakan, kebijakan pemerintah harus mempertimbangkan kondisi riil di lapangan. Menurutnya, kebijakan tidak dapat dibuat secara sepihak karena menyangkut pelayanan publik dan memiliki efek beruntun atau ripple effect.
“Kebijakan tidak dapat dibuat secara sepihak, melainkan harus dilaporkan dan dikonsultasikan dengan Bapak Gubernur,” katanya.
Ia menegaskan, kesehatan siswa dan guru tetap menjadi pertimbangan utama.


