PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU, pemadaman listrik dan meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi tantangan yang dihadapi Kota Palangka Raya dalam beberapa waktu terakhir.
“Masalah itu kita hadapi, tapi saya lagi memperhatikan itu. Tetap terkait masalah-masalah yang memang harus kita hadapi,” kata Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin, Selasa (18/8/2026).
Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya terus melakukan koordinasi dengan Pertamina untuk mengatasi persoalan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang menyebabkan antrean kendaraan di sejumlah SPBU.
“Yang penting tidak kosong. Kami setiap hari berkomunikasi dengan Pertamina,” ujarnya.
Menurut Fairid, kondisi antrean tidak selalu menunjukkan stok BBM benar-benar habis. Ia menyebut terdapat sejumlah faktor teknis yang dapat memengaruhi kelancaran distribusi, mulai dari proses pengiriman hingga kendala pada sarana pendukung distribusi.
“Stok BBM saat ini memang ada, kalau ada pun terjadi pengurangan-pengurangan. Kami meminta semacam subsidi silang, diganti,” lanjutnya.
Sebagai langkah penanganan, Pemko Palangka Raya mendorong agar distribusi BBM dilakukan lebih merata. Apabila terjadi pengurangan pasokan di satu lokasi, pemerintah meminta adanya penyesuaian pasokan dari titik lain agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Tidak ada yang menjamin kepastian waktu itu akan berhenti besok,” ungkap Fairid.
Hingga saat ini, pemerintah daerah masih menunggu upaya yang dilakukan Pertamina untuk memperbaiki kondisi distribusi BBM sekaligus mengatasi berbagai kendala teknis yang terjadi di lapangan.
“Yang kami dapatkan adalah komitmen dari Pertamina untuk berupaya maksimal memperbaiki kondisi yang ada,” jelasnya.
Selain persoalan distribusi BBM, Fairid juga menyoroti dampak pemadaman listrik terhadap pelayanan di SPBU. Menurutnya, sistem pembelian BBM berbasis barcode sangat bergantung pada jaringan komunikasi yang dapat terganggu saat listrik padam dalam waktu lama.
“Kalau listrik padam dan jaringan ikut terganggu, tentu pelayanan di SPBU juga bisa terdampak,” tuturnya.
Di sisi lain, Kota Palangka Raya juga tengah menghadapi ancaman karhutla yang meningkat seiring musim kemarau. Kondisi tersebut menuntut perhatian serius karena berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan kualitas lingkungan.
Pemerintah Kota Palangka Raya menilai persoalan distribusi BBM, kelistrikan, dan karhutla merupakan tantangan yang saling berkaitan. Sehingga membutuhkan penanganan cepat dan koordinasi lintas sektor agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terjaga. (adr)


