Ketiadaan Akses Darat Menuju Titik Kebakaran dan Cuaca Jadi Kendala Pemadaman Karhutla di Kapuas

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Kapuas, terus dioptimalkan melalui jalur udara seiring sulitnya akses darat di sejumlah lokasi kebakaran.

Meski jumlah titik api (hotspot) secara keseluruhan mulai berkurang dan wilayah hulu mulai diguyur hujan, pemadaman menggunakan helikopter water bombing tetap dikerahkan, khususnya untuk kawasan yang terisolasi seperti Kecamatan Pulau Petak.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan. Mengungkapkan, bahwa salah satu kendala terbesar penanganan karhutla di lapangan adalah ketiadaan akses darat menuju titik kebakaran. Seperti yang terjadi di area Handiwung, Kecamatan Pulau Petak, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Barito Kuala.

“Apinya itu dari tengah menuju ke pemukiman. Nah di sana tidak ada jalur darat, tidak bisa, dan adanya jalur sungai. Waktu itu kemarin tuh sudah mulai gelap, kita kewalahan, balik kanan. Dan saya langsung telepon kepada BNPB yang menangani, dan puji syukur tadi pagi sudah dikerahkan water bombing untuk memadamkan,” ujarnya saat diwawancara Prokalteng, Rabu (39/9/2026).

Baca Juga :  7 Kebakaran Terjadi di Kapuas dalam 4 Bulan, Ini Rinciannya

Selain keterbatasan akses medan, operasional pemadaman udara juga sempat terkendala cuaca dan jarak pandang (visibility).

Armada helikopter water bombing yang menangani wilayah Kapuas terpaksa diterbangkan dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, alih-alih dari Palangka Raya.

“Heli kita itu ada di Palangka Raya, dan saat ini banyak digunakan heli yang dari Banjarmasin, Bandara Syamsudin Noor. Kenapa? Karena di Palangka Raya visibility-nya tidak sesuai. Harus minimal 5 kilometer, tapi jarak pandangnya 3 kilometer. Sehingga yang dipakai ini dari Banjarmasin,” jelasnya.

Electronic money exchangers listing

Di sisi lain, Pangeran menyampaikan kabar baik terkait tren penanggulangan karhutla secara umum di Kabupaten Kapuas yang menunjukkan penurunan jumlah titik api (hotspot).

Baca Juga :  Pemkab Kapuas Sinkronkan Program 3 Juta Rumah untuk MBR

Faktor cuaca sangat membantu penanggulangan di wilayah Kapuas bagian hulu. Seperti di Kecamatan Pasah Telawang dan Mandau Telawang.

“Titik apinya berkurang. Kalau yang di hulu itu, misalnya Pasah Telawang, Mandau Telawang itu kan jarang. Apalagi saat ini kan sudah mulai hujan di sana, bahkan sudah naik air sungai di sana,” kata Pangeran.

Dengan meredanya potensi karhutla di bagian hulu akibat intensitas hujan yang mulai meningkat, fokus operasi pemadaman udara dialihkan ke wilayah-wilayah rawan di bagian tengah dan hilir Kapuas.

“Lebih banyak malah kita itu beberapa kali di-water bombing di Mantangai, di Katunjung dan Tabore. Dan yang terakhir dalam catatan saya, yang Pulau Petak ini,” pungkas Pangeran. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Kapuas, terus dioptimalkan melalui jalur udara seiring sulitnya akses darat di sejumlah lokasi kebakaran.

Meski jumlah titik api (hotspot) secara keseluruhan mulai berkurang dan wilayah hulu mulai diguyur hujan, pemadaman menggunakan helikopter water bombing tetap dikerahkan, khususnya untuk kawasan yang terisolasi seperti Kecamatan Pulau Petak.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan. Mengungkapkan, bahwa salah satu kendala terbesar penanganan karhutla di lapangan adalah ketiadaan akses darat menuju titik kebakaran. Seperti yang terjadi di area Handiwung, Kecamatan Pulau Petak, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Barito Kuala.

Electronic money exchangers listing

“Apinya itu dari tengah menuju ke pemukiman. Nah di sana tidak ada jalur darat, tidak bisa, dan adanya jalur sungai. Waktu itu kemarin tuh sudah mulai gelap, kita kewalahan, balik kanan. Dan saya langsung telepon kepada BNPB yang menangani, dan puji syukur tadi pagi sudah dikerahkan water bombing untuk memadamkan,” ujarnya saat diwawancara Prokalteng, Rabu (39/9/2026).

Baca Juga :  7 Kebakaran Terjadi di Kapuas dalam 4 Bulan, Ini Rinciannya

Selain keterbatasan akses medan, operasional pemadaman udara juga sempat terkendala cuaca dan jarak pandang (visibility).

Armada helikopter water bombing yang menangani wilayah Kapuas terpaksa diterbangkan dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, alih-alih dari Palangka Raya.

“Heli kita itu ada di Palangka Raya, dan saat ini banyak digunakan heli yang dari Banjarmasin, Bandara Syamsudin Noor. Kenapa? Karena di Palangka Raya visibility-nya tidak sesuai. Harus minimal 5 kilometer, tapi jarak pandangnya 3 kilometer. Sehingga yang dipakai ini dari Banjarmasin,” jelasnya.

Di sisi lain, Pangeran menyampaikan kabar baik terkait tren penanggulangan karhutla secara umum di Kabupaten Kapuas yang menunjukkan penurunan jumlah titik api (hotspot).

Baca Juga :  Pemkab Kapuas Sinkronkan Program 3 Juta Rumah untuk MBR

Faktor cuaca sangat membantu penanggulangan di wilayah Kapuas bagian hulu. Seperti di Kecamatan Pasah Telawang dan Mandau Telawang.

“Titik apinya berkurang. Kalau yang di hulu itu, misalnya Pasah Telawang, Mandau Telawang itu kan jarang. Apalagi saat ini kan sudah mulai hujan di sana, bahkan sudah naik air sungai di sana,” kata Pangeran.

Dengan meredanya potensi karhutla di bagian hulu akibat intensitas hujan yang mulai meningkat, fokus operasi pemadaman udara dialihkan ke wilayah-wilayah rawan di bagian tengah dan hilir Kapuas.

“Lebih banyak malah kita itu beberapa kali di-water bombing di Mantangai, di Katunjung dan Tabore. Dan yang terakhir dalam catatan saya, yang Pulau Petak ini,” pungkas Pangeran. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru