Oleh: Dr. Miar, S.E., M.Si., CERA
KINERJA perekonomian Kalimantan Tengah (Kalteng) pada tahun 2026 menunjukkan sinyal yang patut dicermati.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Kalteng Triwulan II-2026 sebesar 3,53 persen (year-on-year), lebih rendah dibandingkan Triwulan I-2026 yang mencapai 3,79 persen.
Meski masih berada pada zona positif, perlambatan inimenjadi pengingat bahwa ekonomi daerah memerlukan sumberpertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.
Selama ini struktur ekonomi Kalteng masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, perikanan, industri pengolahan, perdagangan, dan pertambangan.
Pada Triwulan I-2026, sektor pertanian masih memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB dengan porsi sekitar 23 persen, disusul industri pengolahan dan perdagangan.
Namun ketergantungan yang tinggi terhadapkomoditas primer membuat ekonomi daerah sangat sensitifterhadap perubahan harga global maupun faktor cuaca.
Laporan Bank Indonesia menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi pada awal tahun antara lain dipengaruhi menurunnya produksi kelapa sawit akibat curah hujan tinggi dan dampakbanjir yang terjadi sebelumnya.
Produksi CPO juga mengalamikontraksi sehingga menekan kinerja industri pengolahan.
Di sisilain, ekspor CPO tumbuh lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya.
Kini, tantangan baru muncul dalam bentuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Kalteng.


