Di tengah puing bangunan menghitam dan sisa asap yang masih tercium menyengat, Nawawi (53) terduduk lesu di tengah puing-puing sisa kebakaran kediamannya. Tangan kanannya bergerak hati-hati menyentuh luka di lengan kiri. Kulit memerah, bengkak, dan melepuh parah. Sementara di sekelilingnya, separuh rumah dan harta benda yang ia bangun puluhan tahun kini hanya tinggal abu.
HERI MUKTI, PALANGKA RAYA
MUSIBAH kebakaran yang melanda kawasan Jalan Murjani, Gang Sari 45, Minggu (12/7/2026) kemarin berlangsung begitu mendadak. Saat itu, Nawawi baru saja berada di warungnya, ketika tiba-tiba suara teriakan histeris memecah suasana.
Orang-orang berlarian panik, berteriak menyadarkan satu sama lain akan kobaran api yang mulai membesar dan merembet cepat ke bangunan rumah padat penduduk.
“Awalnya itu saya dengar teriakan. Orang-orang pada kuciak (berteriak,red) dari luar, pada keluaran semua,” ungkap Nawawi saat menceritakan detik-detik insiden kepada awak media, Senin (13/7/2026).
Harta benda, perabotan, kenangan keluarga, semuanya terabaikan seketika. Yang ada di benak pikirannya hanya satu. Yaitu mencegah api menyebar lebih luas dan menyelamatkan nyawa orang lain.
Bersama warga lainnya, ia segera mengambil ember dan wadah seadanya, berlari mendekati titik api untuk menyiramkan air. Ia tak peduli asap yang menyesakkan, tak menghiraukan panas yang menjilat kulit.
Namun keberanian itu berujung nahas. Meski tidak tersambar api langsung, namun suhu udara yang begitu ekstrem di dekat kobaran merusak jaringan kulit lengan kirinya hingga melepuh dan terkelupas.
“Waktu itu saya cuma fokus membantu yang lain menyiram api. Tidak kena api langsung, cuma posisinya terlalu dekat, terlalu parak (dekat,red) dengan api. Jadi sampai melepuh begini,” ceritanya sambil menahan nyeri.


