“Saya juga kaget, kemarin baik-baik saja, ternyata hari ini tiba-tiba kabut asapnya semakin tebal. Saya dapat informasi memang ada kebakaran besar di daerah Tumbang Nusa, jadi harus direspons cepat,” katanya.
Ia menegaskan bahwa penanganan pada fase awal merupakan langkah paling efektif untuk mencegah api meluas ke kawasan hutan maupun lahan lainnya.
Oleh sebab itu, seluruh sumber daya yang dimiliki pemerintah harus segera digerakkan ketika muncul titik-titik kebakaran yang berpotensi membesar.
Menurutnya, apabila kondisi di lapangan menyulitkan petugas menjangkau lokasi kebakaran melalui jalur darat, maka penggunaan sarana pemadaman udara harus segera dipertimbangkan.
“Water bombing itu pasti harus segera. Penanganan dini lah yang harus dilakukan,” tegasnya.
Tomy menjelaskan, langkah cepat tidak hanya bertujuan memadamkan api, tetapi juga melindungi masyarakat dari dampak kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga proses belajar mengajar apabila kondisi terus memburuk.
Ia juga mendorong agar koordinasi lintas sektor terus diperkuat, melibatkan pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, TNI-Polri, relawan, hingga perusahaan yang berada di sekitar wilayah rawan kebakaran.
Sinergi seluruh pihak dinilai menjadi kunci agar penanganan karhutla berjalan lebih efektif.
“Kami berharap seluruh instansi terkait bergerak cepat memanfaatkan anggaran yang sudah tersedia. Penanganan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan menunggu kebakaran semakin meluas. Yang paling penting adalah keselamatan masyarakat, menjaga kualitas udara tetap baik, serta mencegah karhutla meluas ke wilayah lain,” pungkasnya. (zia/kpg)


