PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dua kasus bunuh diri yang melibatkan mahasiswa di Palangka Raya pada bulan Juni ini menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, khususnya di lingkungan pendidikan.
Psikolog sekaligus dosen UIN Palangka Raya, Ari Pamungkas mengatakan tindakan bunuh diri tidak pernah dipicu oleh satu faktor tunggal. Menurutnya, kondisi tersebut umumnya merupakan akumulasi berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, hingga lingkungan.
“Depresi, stres berkepanjangan, trauma, konflik keluarga, tekanan akademik, masalah ekonomi, hingga minimnya dukungan sosial dapat saling berinteraksi. Karena itu, bunuh diri tidak bisa disimpulkan hanya karena satu persoalan,” ujarnya, Sabtu (27/6/2026).
Ia menjelaskan, individu yang mengalami krisis psikologis juga tidak selalu memperlihatkan tanda yang jelas. Namun, perubahan perilaku drastis, menarik diri dari lingkungan, kehilangan minat terhadap aktivitas, perubahan pola tidur dan makan, serta sering mengungkapkan rasa putus asa merupakan beberapa tanda yang patut diwaspadai.
Menurut Ari, keluarga, teman, maupun lingkungan kampus memiliki peran penting dalam upaya pencegahan. Dukungan emosional, komunikasi yang terbuka, serta kemudahan akses terhadap layanan konseling menjadi langkah yang perlu untuk diperkuat.
Ia menambahkan, setelah terjadi kasus bunuh diri, keluarga dan orang-orang terdekat juga membutuhkan pendampingan psikologis karena berisiko mengalami duka mendalam, rasa bersalah, kecemasan, hingga depresi.
“Saya mengajak masyarakat membangun budaya yang lebih peduli terhadap kesehatan mental dan mengurangi stigma terhadap individu yang sedang mengalami tekanan psikologis,”ujarnya. (jef)

