Sepekan, Kasus ISPA di Kalteng Capai 2.903: Dinkes Sebut Situasi Masih Terkendali

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat terdapat 2.903 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di 14 kabupaten/kota selama periode 7 hingga 13 Agustus 2026.

Meski angka sebaran terbilang tinggi di tengah status siaga darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), pemerintah daerah mengklaim situasi masih terkendali dan belum menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan laporan resmi Dinkes Kalteng, tren harian kasus ISPA terpantau fluktuatif. Puncak tertinggi terjadi pada 11 Agustus dengan 600 kasus baru, sedangkan angka terendah tercatat pada 9 Agustus dengan 16 kasus. Rendahnya angka pada 9 Agustus tersebut dipengaruhi oleh hari libur (Minggu) yang membuat layanan pelaporan di fasilitas kesehatan tidak berjalan penuh.

Secara akumulatif, Kota Palangka Raya menjadi wilayah dengan temuan kasus tertinggi, yakni mencapai 700 kasus dalam sepekan. Wilayah penyumbang kasus terbanyak berikutnya adalah Kabupaten Kapuas (457 kasus), Kotawaringin Barat (431 kasus), Seruyan (215 kasus), dan Gunung Mas (179 kasus).

Baca Juga :  Jumlah SDM Kurang, Sarpras Terbatas

Sementara itu, tingkat keparahan terpantau rendah dengan total 29 pasien yang memerlukan perawatan inap (23 pasien di Palangka Raya dan 6 pasien di Kotawaringin Barat), serta tidak ada satupun pasien yang dirujuk.

Laporan Dinkes juga menegaskan bahwa paparan asap Karhutla memang menjadi faktor yang berpotensi memperburuk gangguan pernapasan.  Namun, tingginya angka ISPA ini tidak bisa sepenuhnya diklaim akibat Karhutla semata, melainkan turut dipengaruhi oleh perubahan cuaca, alergi, dan faktor lingkungan lainnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, dr. Mikko Uriamapas Ludjen, menanggapi data tersebut dengan optimisme. Menurutnya, kesadaran dan langkah proaktif masyarakat menjadi kunci utama terkendalinya dampak kesehatan dari kabut asap.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Kreativitas Warga Lamandau Tersalurkan dalam Lomba Desain Gapura

“Melihat keadaan ini, situasi kabut asap saat ini kalau menurut saya tidak terlalu parah. Dan ISPA-nya juga tidak terlalu meningkat tajam, karena memang masyarakat juga sudah mulai mengerti,” ujar dr. Mikko dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).

Ia menjelaskan, masyarakat kini telah melakukan berbagai upaya pencegahan secara mandiri, seperti mengurangi aktivitas di luar ruangan, lebih banyak berdiam di dalam rumah, serta disiplin mengenakan masker saat harus keluar rumah.

“Kesadaran warga untuk mencari pengobatan dini ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebelum gejala memberat juga patut diapresiasi,” tutupnya. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat terdapat 2.903 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di 14 kabupaten/kota selama periode 7 hingga 13 Agustus 2026.

Meski angka sebaran terbilang tinggi di tengah status siaga darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), pemerintah daerah mengklaim situasi masih terkendali dan belum menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan laporan resmi Dinkes Kalteng, tren harian kasus ISPA terpantau fluktuatif. Puncak tertinggi terjadi pada 11 Agustus dengan 600 kasus baru, sedangkan angka terendah tercatat pada 9 Agustus dengan 16 kasus. Rendahnya angka pada 9 Agustus tersebut dipengaruhi oleh hari libur (Minggu) yang membuat layanan pelaporan di fasilitas kesehatan tidak berjalan penuh.

Electronic money exchangers listing

Secara akumulatif, Kota Palangka Raya menjadi wilayah dengan temuan kasus tertinggi, yakni mencapai 700 kasus dalam sepekan. Wilayah penyumbang kasus terbanyak berikutnya adalah Kabupaten Kapuas (457 kasus), Kotawaringin Barat (431 kasus), Seruyan (215 kasus), dan Gunung Mas (179 kasus).

Baca Juga :  Jumlah SDM Kurang, Sarpras Terbatas

Sementara itu, tingkat keparahan terpantau rendah dengan total 29 pasien yang memerlukan perawatan inap (23 pasien di Palangka Raya dan 6 pasien di Kotawaringin Barat), serta tidak ada satupun pasien yang dirujuk.

Laporan Dinkes juga menegaskan bahwa paparan asap Karhutla memang menjadi faktor yang berpotensi memperburuk gangguan pernapasan.  Namun, tingginya angka ISPA ini tidak bisa sepenuhnya diklaim akibat Karhutla semata, melainkan turut dipengaruhi oleh perubahan cuaca, alergi, dan faktor lingkungan lainnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, dr. Mikko Uriamapas Ludjen, menanggapi data tersebut dengan optimisme. Menurutnya, kesadaran dan langkah proaktif masyarakat menjadi kunci utama terkendalinya dampak kesehatan dari kabut asap.

Baca Juga :  Kreativitas Warga Lamandau Tersalurkan dalam Lomba Desain Gapura

“Melihat keadaan ini, situasi kabut asap saat ini kalau menurut saya tidak terlalu parah. Dan ISPA-nya juga tidak terlalu meningkat tajam, karena memang masyarakat juga sudah mulai mengerti,” ujar dr. Mikko dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).

Ia menjelaskan, masyarakat kini telah melakukan berbagai upaya pencegahan secara mandiri, seperti mengurangi aktivitas di luar ruangan, lebih banyak berdiam di dalam rumah, serta disiplin mengenakan masker saat harus keluar rumah.

“Kesadaran warga untuk mencari pengobatan dini ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebelum gejala memberat juga patut diapresiasi,” tutupnya. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru