Musim Kemarau, Harga Cabai di Nanga Bulik Tembus Rp150 Ribu per Kilogram

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO –Harga komoditas cabai segar di pasar tradisional Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, merangkak naik hingga menembus angka Rp150.000 per kilogram, Selasa (22/9/2026).

Lonjakan harga yang dipicu berkurangnya pasokan akibat dampak musim kemarau tersebut dikeluhkan masyarakat serta memaksa para pelaku usaha kuliner lokal memutar otak guna menekan biaya operasional harian.

Salah satu warga Nanga Bulik, Siti, mengeluhkan lonjakan harga yang dinilainya cukup memberatkan tersebut. Ia mengaku terkejut saat berbelanja kebutuhan pokok pada Selasa pagi.

“Tadi pagi saya beli cabai di pasar harganya sudah mencapai Rp150 ribu per kilogram,” ungkap Siti kepada Prokalteng.co, Selasa (22/9).

Tingginya harga cabai di pasaran juga berdampak langsung pada para pelaku usaha kuliner.

Baca Juga :  Demi kepatuhan Hukum, BPJAMSOSTEK Sinergi dengan Kejaksaan se-Kalteng

Gatot, seorang pemilik rumah makan di Nanga Bulik, mengaku harus memutar otak agar bisnis usahanya tetap berjalan tanpa terbebani biaya bahan baku yang tinggi.

Gatot memilih langkah mandiri dengan memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam cabai sendiri guna memenuhi kebutuhan warungnya.

Electronic money exchangers listing

“Saya lebih memilih menanam sendiri daripada membeli dengan harga pasar yang mahal sampai Rp150 ribu per kilogram. Nanti kalau ada warga yang mau beli, bisa saya jual juga dengan harga lebih murah, sekitar Rp120 ribu sampai Rp130 ribu per kilogram,” tutur Gatot.

Fenomena kenaikan harga cabai saat musim kemarau ini disinyalir terjadi akibat berkurangnya pasokan dari daerah penghasil serta terganggunya hasil panen petani lokal.

Baca Juga :  PN Nanga Bulik Jatuhkan Vonis 7 Bulan Penjara Kasus Pencurian Sawit

Warga berharap harga komoditas bumbu dapur ini dapat segera stabil kembali. (bib)

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO –Harga komoditas cabai segar di pasar tradisional Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, merangkak naik hingga menembus angka Rp150.000 per kilogram, Selasa (22/9/2026).

Lonjakan harga yang dipicu berkurangnya pasokan akibat dampak musim kemarau tersebut dikeluhkan masyarakat serta memaksa para pelaku usaha kuliner lokal memutar otak guna menekan biaya operasional harian.

Salah satu warga Nanga Bulik, Siti, mengeluhkan lonjakan harga yang dinilainya cukup memberatkan tersebut. Ia mengaku terkejut saat berbelanja kebutuhan pokok pada Selasa pagi.

Electronic money exchangers listing

“Tadi pagi saya beli cabai di pasar harganya sudah mencapai Rp150 ribu per kilogram,” ungkap Siti kepada Prokalteng.co, Selasa (22/9).

Tingginya harga cabai di pasaran juga berdampak langsung pada para pelaku usaha kuliner.

Baca Juga :  Demi kepatuhan Hukum, BPJAMSOSTEK Sinergi dengan Kejaksaan se-Kalteng

Gatot, seorang pemilik rumah makan di Nanga Bulik, mengaku harus memutar otak agar bisnis usahanya tetap berjalan tanpa terbebani biaya bahan baku yang tinggi.

Gatot memilih langkah mandiri dengan memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam cabai sendiri guna memenuhi kebutuhan warungnya.

“Saya lebih memilih menanam sendiri daripada membeli dengan harga pasar yang mahal sampai Rp150 ribu per kilogram. Nanti kalau ada warga yang mau beli, bisa saya jual juga dengan harga lebih murah, sekitar Rp120 ribu sampai Rp130 ribu per kilogram,” tutur Gatot.

Fenomena kenaikan harga cabai saat musim kemarau ini disinyalir terjadi akibat berkurangnya pasokan dari daerah penghasil serta terganggunya hasil panen petani lokal.

Baca Juga :  PN Nanga Bulik Jatuhkan Vonis 7 Bulan Penjara Kasus Pencurian Sawit

Warga berharap harga komoditas bumbu dapur ini dapat segera stabil kembali. (bib)

Terpopuler

Artikel Terbaru