Di tahap produksi, peserta diajak mempraktikkan langsung tahapan pembuatan abon dan nugget ikan.
“Fokus kami bukan sekadar memberikan teori, tetapi langsung mengajak peserta praktik,” jelas Suherman.
Timnya juga memperkenalkan teknologi tepat guna seperti vacuum sealer dan mesin peniris minyak.
“Tujuannya agar produk olahan nelayan ini lebih higienis, profesional, dan memiliki daya simpan yang jauh lebih lama,” ungkapnya.
Penguatan kapasitas ini tidak berhenti pada proses produksi, melainkan menyasar pada perluasan pasar dengan Nelayan dibekali dengan literasi pemasaran digital (digital marketing), mencakup perancangan desain kemasan, identitas produk, dan strategi promosi.
“Inovasi produk tidak akan maksimal jika tidak dibarengi dengan strategi penjualan yang tepat,” tegas Suherman.
Pihaknya optimis pemanfaatan platform seperti Instagram, Shopee, dan Tokopedia bisa memutus rantai distribusi yang panjang dan menjangkau konsumen luas.
Langkah solutif dari perguruan tinggi ini mendapat apresiasi dari pemerintah desa setempat.
Sekretaris Desa Baun Bango, Saiful Ahmad, berharap program ini mampu menghidupkan kemandirian ekonomi warga pesisir sungai.
“Ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada penjualan ikan segar serta membangun unit usaha berkelanjutan,” tutur Saiful.
Ke depan, pendampingan dari UPR ditargetkan berlanjut hingga ke tahapan yang lebih krusial.
“Kami menargetkan pendampingan standardisasi, legalisasi, dan pembukuan agar olahan ikan Baun Bango benar-benar siap menjadi produk unggulan lokal Kabupaten Katingan,” pungkas Suherman. (her)


