PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Serta kabut asap yang terjadi berulang di Kalimantan Tengah tidak hanya berdampak terhadap kesehatan fisik masyarakat.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, terutama ketika berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
Psikolog sekaligus Dosen UIN Palangka Raya, Ari Pamungkas, M.Psi., Psikolog, mengatakan
”Masyarakat yang sudah terbiasa menghadapi karhutla bukan berarti tidak terdampak secara psikologis. Asap yang semakin pekat, bau terbakar, munculnya titik api, serta ketidakpastian mengenai kapan kondisi akan membaik dapat mengurangi rasa aman masyarakat,”kata Psikolog sekaligus Dosen UIN Palangka Raya, Ari Pamungkas, M.Psi, Psikolog, Senin (14/9/2026).
Secara psikologis jelas Ari. Manusia membutuhkan rasa aman, kepastian dan kemampuan mengendalikan keadaan.
”Ketika ketiganya terganggu, pikiran dan tubuh akan terus berada dalam kondisi waspada,” jelas Ari pada
Jika kondisi tersebut berlangsung berkepanjangan, kewaspadaan dapat berkembang menjadi kelelahan fisik dan emosional.
Ari menjelaskan. Salah satu dampak psikologis yang dapat muncul adalah kecemasan. Ancaman terhadap keselamatan membuat masyarakat terus memikirkan kemungkinan api mendekati permukiman, kondisi udara semakin buruk, hingga kekhawatiran anggota keluarga mengalami gangguan kesehatan.
Tidak hanya itu, keluhan fisik akibat paparan asap juga dapat memperkuat tekanan psikologis. Batuk, mata perih, sakit kepala dan sesak napas dapat membuat seseorang semakin khawatir terhadap kondisi kesehatannya.
“Sebaliknya, kecemasan juga dapat membuat napas terasa semakin berat dan tubuh semakin tidak nyaman,” ujarnya.
Menurut Ari, ketidakpastian juga menjadi salah satu faktor yang membuat pikiran terus berada dalam kondisi waspada. Masyarakat dapat terus memantau berita maupun kondisi di sekitar karena tidak mengetahui kapan hujan turun, api dapat dikendalikan atau kualitas udara kembali sehat.
Kondisi tersebut berpotensi membuat seseorang sulit tidur, mudah lelah dan sulit berkonsentrasi.
Ari menyebut dampak psikologis karhutla dapat terlihat berbeda pada setiap kelompok usia.
“Pada anak-anak, tekanan psikologis tidak selalu disampaikan melalui kata-kata. Namun, kondisi tersebut dapat terlihat dari perubahan perilaku. Seperti menjadi lebih rewel, takut berpisah dari orang tua, sulit tidur, mudah menangis, lebih pendiam, kehilangan konsentrasi maupun motivasi belajar,” ungkapnya.
Sementara pada orang dewasa, tekanan yang dihadapi lebih kompleks karena harus memikirkan keselamatan keluarga, pekerjaan dan kebutuhan sehari-hari.
“Sedangkan lansia dapat merasa semakin tidak berdaya karena kondisi kesehatan, keterbatasan fisik dan ketergantungan kepada anggota keluarga lainnya,” terangnya.
Gangguan terhadap pendidikan dan perekonomian juga dapat menambah tekanan psikologis masyarakat.
Ketika kegiatan belajar terganggu akibat kondisi udara, anak dapat kehilangan rutinitas, merasa jenuh dan khawatir tertinggal dalam pelajaran. Di sisi lain, orang tua turut mencemaskan kesehatan sekaligus keberlanjutan pendidikan anak.
“Begitu pula dengan pekerjaan yang terdampak, terutama pekerjaan di luar ruangan, pertanian, perdagangan maupun transportasi. Berkurangnya penghasilan dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Jika tekanan berlangsung lama, kondisi tersebut bahkan dapat memicu perasaan gagal, tidak berdaya, konflik keluarga, menarik diri hingga kehilangan harapan.
Karena itu, Ari menilai karhutla tidak cukup dilihat hanya dari luas lahan yang terbakar atau pekatnya asap. Ada dampak psikologis yang juga dirasakan masyarakat, mulai dari anak yang kehilangan kenyamanan belajar, orang dewasa yang mencemaskan kesehatan dan penghasilan keluarga, hingga lansia yang merasa semakin rentan.
Untuk menjaga kondisi psikologis, dukungan dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Di antaranya dengan menjaga komunikasi, mempertahankan rutinitas yang masih bisa dilakukan, memberikan informasi yang jelas, serta membatasi paparan berita yang dapat memicu kepanikan.
Perubahan emosi maupun perilaku anggota keluarga juga perlu diperhatikan. “Sebab, ketika asap mengganggu rasa aman dan kehidupan sehari-hari, yang terdampak bukan hanya pernapasan, tetapi juga ketenangan pikiran masyarakat,” pungkasnya. (jef)


