NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Sengketa lahan atau batas tanah (babas) kembali terjadi di Kabupaten Lamandau. Kali ini, Candra Sio atau biasa disebut Kontra (54), seorang tokoh adat yang menjabat sebagai Sekretaris Damang Kecamatan Lamandau, diduga menjadi korban pengeroyokan dan pengancaman oleh sekelompok orang saat berada di kawasan hutan Kelurahan Tapin Bini, Kecamatan Lamandau, Selasa (26/5/2026) pagi. Peristiwa tersebut terjadi ketika korban hendak membuka lahan untuk menanam padi (behuma) di area yang menjadi objek sengketa.
Insiden tersebut dilaporkan terjadi di sebuah rumah ladang milik warga bernama Teni yang lokasinya tidak jauh dari lahan yang diperselisihkan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian bermula saat korban berencana menggarap lahan tersebut. Namun, secara tiba-tiba datang sekelompok orang yang merupakan satu keluarga, terdiri dari terduga pelaku berinisial E bersama anak, keponakan, dan menantunya yang berjumlah sekitar 10 orang. Mereka kemudian melakukan aksi penyerangan dengan alasan mengklaim kepemilikan atas lahan tersebut.
Salah satu anggota keluarga korban yang enggan disebutkan namanya mengatakan, pihak keluarga sebenarnya telah berupaya menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan maupun melalui jalur hukum adat. Menurutnya, korban dan pihak yang diduga melakukan penyerangan masih memiliki hubungan kekerabatan.
“Sebenarnya bukan orang lain, masih keluarga. Tetapi kami mencoba menyelesaikannya melalui adat. Sayangnya, pihak yang melakukan penyerangan kemarin tidak kunjung datang saat sidang adat di tempat Mantir adat kelurahan hari Senin 15 Juni 2026 ini kemarin. Kalau memang itu tanah mereka, kenapa tidak datang? Kan begitu, adapun luasan tanah tersebut kurang lebih 1 Hektar bang,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (19/6/2026) di Nanga Bulik.
Pihak keluarga korban juga menyayangkan beredarnya potongan video terkait insiden tersebut di tengah masyarakat. Mereka menilai video yang beredar tidak memperlihatkan keseluruhan rangkaian peristiwa yang sebenarnya terjadi di lokasi kejadian.
“Video itu sebenarnya masih terpotong. Mereka berkata kasar kepada orang tua tersebut, bahkan ingin mencabut parang dan melakukan pengancaman,” jelasnya.
Atas peristiwa tersebut, keluarga korban meminta perhatian serius dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Mereka berharap kasus ini dapat diproses secara adil agar memberikan efek jera kepada pihak yang melakukan penyerangan.
“Di sini kita tidak mencari kesalahan satu sama lain, tetapi biar publik yang menilai. Kami berharap pihak pemerintah dan instansi terkait bisa melihat sendiri bahwa aksi tersebut sangat tidak terpuji, bahkan mengarah pada tindakan pengeroyokan,” pungkasnya. (bib)


