NANGA BULIK, PROKALTENG.CO — BPBD Kabupaten Lamandau memantau 20 titik panas atau hotspot dalam 24 jam terakhir. Puluhan titik panas tersebut tersebar di empat kecamatan, di tengah kondisi cuaca yang membuat wilayah Lamandau masuk kategori sangat mudah terbakar.
Data tersebut berdasarkan rekapitulasi BMKG Stasiun Meteorologi Iskandar Kotawaringin Barat. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lamandau, Hendikel, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Berdasarkan laporan pemantauan BMKG, akumulasi titik panas selama 24 jam terakhir mencatat ada 20 titik yang terdeteksi di wilayah kita,” ujar Hendikel kepada wartawan, Sabtu (8/8).
Dari 20 titik panas yang terdeteksi, sebanyak 18 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, sedangkan dua titik lainnya masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi berdasarkan data rincian BMKG.
Sebaran hotspot tersebut meliputi Kecamatan Lamandau sebanyak enam titik, terdiri dari lima titik kategori menengah dan satu titik kategori tinggi. Kemudian Kecamatan Bulik lima titik yang seluruhnya berada pada kategori menengah.
Selanjutnya, Kecamatan Belantikan Raya terdeteksi lima titik, terdiri dari empat titik kategori menengah dan satu titik kategori tinggi. Sementara Kecamatan Bulik Timur terdapat empat titik yang seluruhnya masuk kategori menengah.
Adapun Kecamatan Delang, Menthobi Raya, Sematu Jaya, dan Batang Kawa saat ini masih tercatat nihil titik panas.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena berdasarkan analisis parameter cuaca Fine Fuel Moisture Code (FFMC) wilayah Kalimantan Tengah pada 8 hingga 9 Agustus 2026, tingkat kemudahan terjadinya kebakaran di Lamandau berada pada kategori Sangat Mudah Terbakar atau zona merah.
Selain faktor kondisi bahan bakar yang mudah terbakar, arah angin juga menjadi perhatian. Angin diperkirakan bertiup dari Timur hingga Tenggara menuju Barat Laut sehingga sejumlah wilayah, termasuk Lamandau, Kotawaringin Barat, dan Sukamara, berpotensi terdampak sebaran asap karhutla.
Sementara itu, kualitas udara berdasarkan pengukuran konsentrasi PM2,5 saat ini masih berada pada kategori sedang, dengan konsentrasi 28,1 μg/m³.
“Kami dari pihak BPBD mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan guna mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan,” tandas Hendikel. (bib)


