Kebijakan tersebut dilakukan agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung ketika kondisi udara masih memungkinkan, sekaligus memberi kesempatan sekolah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran.
Pihak sekolah juga menyampaikan kebutuhan pompa air dan selang pemadam agar penanganan ketika terjadi kebakaran di sekitar lingkungan sekolah dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Menanggapi aspirasi tersebut, Reza mengatakan kebutuhan setiap sekolah perlu dipetakan secara menyeluruh. Dengan demikian, bantuan yang nantinya diusulkan dapat menyasar satuan pendidikan dengan tingkat kerawanan karhutla yang tinggi.
“Kita harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada di sekolah masing-masing,” katanya.
Karena itu, Disdik Kalteng akan melakukan pendataan terhadap sekolah-sekolah yang berada di sekitar titik rawan kebakaran. Data tersebut akan menjadi bahan koordinasi dan pengusulan dukungan peralatan sesuai kebutuhan di lapangan.
Selain menampung aspirasi terkait peralatan pemadam, Disdik Kalteng juga memanfaatkan perkembangan teknologi untuk membantu memantau kondisi kebakaran di sekitar satuan pendidikan.
Integrasi data sensor satelit dan informasi BMKG, seperti SI-KARHUTLA (Sistem Informasi Karhutla Kalimantan), pemantauan suhu kecerahan dan probabilitas kebakaran, disinergikan dengan data Dapodik/PENA untuk membantu memantau titik panas di sekitar lokasi sekolah secara real-time.
Melalui pemetaan tersebut, sekolah yang berada di kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi dapat menjadi perhatian lebih dalam pengambilan kebijakan selama masa karhutla.
Reza menegaskan, penanganan dampak karhutla di lingkungan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pengaturan jam belajar, tetapi juga menyangkut kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi kondisi darurat.
Menurutnya, setiap aspirasi dari sekolah perlu dicatat dan disesuaikan dengan kondisi faktual di lapangan agar langkah pemerintah dapat dilakukan secara tepat sasaran.


