Induk dan Anak Orangutan Terjebak Karhutla, Begini Nasibnya

PROKALTENG.CO– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya mengancam permukiman dan aktivitas masyarakat, tetapi juga kehidupan satwa liar. Seekor induk orangutan bersama anaknya ditemukan bertahan di tengah kawasan lahan gambut yang baru terbakar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Kedua orangutan tersebut ditemukan berada di atas pohon di kawasan Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Di sekitar lokasi masih terdapat sisa kebakaran, bara, dan nyala api sehingga petugas harus berhati-hati saat melakukan penyelamatan.

Informasi mengenai keberadaan orangutan awalnya diterima dari anggota TNI bernama Husin yang sedang melakukan patroli karhutla pada Rabu (2/9/2026). Laporan tersebut diterima BKSDA Resort Sampit sekitar pukul 11.00 WIB.

Setelah menerima laporan, petugas BKSDA bersama anggota TNI mendatangi lokasi untuk memastikan keberadaan satwa dilindungi tersebut. Petugas kemudian menemukan orangutan masih bertahan di atas pohon yang berada di tengah kawasan gambut yang baru terbakar.

Baca Juga :  Pemko Palangka Raya Ajukan Peralatan Kelengkapan Personel untuk 12 Regu yang Bertugas di Lapangan

Setelah dilakukan koordinasi, BKSDA Kalteng bersama Orangutan Foundation International (OFI) bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi. Tim menghadapi kondisi medan yang sulit karena beberapa bagian lahan masih mengeluarkan bara dan api.

Di lokasi, petugas menemukan bahwa orangutan tersebut terdiri atas seekor induk dan anak. Induk orangutan tersebut kemudian diberi nama Raya, sedangkan anaknya diberi nama Rayu. Nama tersebut diambil dari lokasi penyelamatan di kawasan Jalan Sawit Raya.

Proses evakuasi dilakukan pada Rabu malam dengan bantuan senter dan lampu portabel. Tim melakukan penyelamatan dengan cepat karena khawatir kedua orangutan berpindah sebelum petugas kembali ke lokasi pada keesokan harinya.

Electronic money exchangers listing

Evakuasi dilakukan dengan pembiusan untuk mengamankan kedua satwa. Proses penyelamatan berlangsung sekitar 47 menit, mulai pukul 21.00 hingga 21.47 WIB. Setelah berhasil dievakuasi, Raya dan Rayu menjalani pemeriksaan oleh dokter hewan dari OFI.

Baca Juga :  Bupati Bangga Paskibraka Sukses Menjalankan Tugas

Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi keduanya secara umum masih baik. Dokter hewan tidak menemukan luka bakar maupun luka terbuka pada tubuh kedua orangutan. Paparan asap juga dinilai belum menunjukkan kondisi yang berat.

Raya diperkirakan berusia sekitar 20 tahun, sedangkan Rayu diperkirakan berusia sekitar satu tahun dan berjenis kelamin betina. Tim juga mengambil sampel darah dan rambut untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah pemeriksaan awal, kedua orangutan dibawa ke Kantor BKSDA Kalteng Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Pangkalan Bun. Jika kondisi kesehatan keduanya dinyatakan baik, BKSDA akan menentukan lokasi translokasi dan pelepasliaran.

Penyelamatan Raya dan Rayu menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga mengancam satwa liar yang kehilangan habitatnya. BKSDA mengimbau masyarakat segera melapor apabila menemukan satwa dilindungi di kawasan terdampak kebakaran agar dapat ditangani dengan aman. (jpg)

PROKALTENG.CO– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya mengancam permukiman dan aktivitas masyarakat, tetapi juga kehidupan satwa liar. Seekor induk orangutan bersama anaknya ditemukan bertahan di tengah kawasan lahan gambut yang baru terbakar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Kedua orangutan tersebut ditemukan berada di atas pohon di kawasan Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Di sekitar lokasi masih terdapat sisa kebakaran, bara, dan nyala api sehingga petugas harus berhati-hati saat melakukan penyelamatan.

Informasi mengenai keberadaan orangutan awalnya diterima dari anggota TNI bernama Husin yang sedang melakukan patroli karhutla pada Rabu (2/9/2026). Laporan tersebut diterima BKSDA Resort Sampit sekitar pukul 11.00 WIB.

Electronic money exchangers listing

Setelah menerima laporan, petugas BKSDA bersama anggota TNI mendatangi lokasi untuk memastikan keberadaan satwa dilindungi tersebut. Petugas kemudian menemukan orangutan masih bertahan di atas pohon yang berada di tengah kawasan gambut yang baru terbakar.

Baca Juga :  Pemko Palangka Raya Ajukan Peralatan Kelengkapan Personel untuk 12 Regu yang Bertugas di Lapangan

Setelah dilakukan koordinasi, BKSDA Kalteng bersama Orangutan Foundation International (OFI) bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi. Tim menghadapi kondisi medan yang sulit karena beberapa bagian lahan masih mengeluarkan bara dan api.

Di lokasi, petugas menemukan bahwa orangutan tersebut terdiri atas seekor induk dan anak. Induk orangutan tersebut kemudian diberi nama Raya, sedangkan anaknya diberi nama Rayu. Nama tersebut diambil dari lokasi penyelamatan di kawasan Jalan Sawit Raya.

Proses evakuasi dilakukan pada Rabu malam dengan bantuan senter dan lampu portabel. Tim melakukan penyelamatan dengan cepat karena khawatir kedua orangutan berpindah sebelum petugas kembali ke lokasi pada keesokan harinya.

Evakuasi dilakukan dengan pembiusan untuk mengamankan kedua satwa. Proses penyelamatan berlangsung sekitar 47 menit, mulai pukul 21.00 hingga 21.47 WIB. Setelah berhasil dievakuasi, Raya dan Rayu menjalani pemeriksaan oleh dokter hewan dari OFI.

Baca Juga :  Bupati Bangga Paskibraka Sukses Menjalankan Tugas

Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi keduanya secara umum masih baik. Dokter hewan tidak menemukan luka bakar maupun luka terbuka pada tubuh kedua orangutan. Paparan asap juga dinilai belum menunjukkan kondisi yang berat.

Raya diperkirakan berusia sekitar 20 tahun, sedangkan Rayu diperkirakan berusia sekitar satu tahun dan berjenis kelamin betina. Tim juga mengambil sampel darah dan rambut untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah pemeriksaan awal, kedua orangutan dibawa ke Kantor BKSDA Kalteng Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Pangkalan Bun. Jika kondisi kesehatan keduanya dinyatakan baik, BKSDA akan menentukan lokasi translokasi dan pelepasliaran.

Penyelamatan Raya dan Rayu menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga mengancam satwa liar yang kehilangan habitatnya. BKSDA mengimbau masyarakat segera melapor apabila menemukan satwa dilindungi di kawasan terdampak kebakaran agar dapat ditangani dengan aman. (jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru