PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran melakukan pemancangan tiang perdana pembangunan Huma Betang di kawasan eks Kantor Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Tengah, Jalan Imam Bonjol, Kamis (23/7/2026).
Agustiar mengatakan, pembangunan Huma Betang memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar pembangunan fisik. Menurutnya, Huma Betang merupakan simbol keragaman, kebersamaan, toleransi, dan semangat gotong royong yang telah diwariskan oleh para leluhur masyarakat Dayak.
“Kami hari ini meletakkan tiang pancang untuk membangun Huma Betang. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan, Huma Betang ini adalah rumah besar, rumah adat tempo dulu sejak zaman leluhur kita. Peletakan ini memiliki makna tentang keragaman, kebersamaan, toleransi, dan gotong royong,” ujarnya.
Dia menegaskan, nilai-nilai tersebut harus tetap dijaga oleh generasi penerus agar tidak tergerus oleh arus digitalisasi, globalisasi, maupun perkembangan zaman yang semakin cepat. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) juga berkomitmen menjaga dan memperkuat identitas budaya daerah.
“Kami sebagai generasi penerus harus menjaga itu. Jangan sampai tergerus oleh digitalisasi, globalisasi, dan perkembangan dunia yang begitu cepat,” katanya.
Menurut Agustiar, pembangunan Huma Betang tetap dilaksanakan meski pemerintah tengah menghadapi kebijakan efisiensi anggaran. Ia mengapresiasi dukungan seluruh pihak yang terlibat sehingga proyek tersebut dapat dimulai.
Huma Betang itu nantinya dibangun dengan dominasi material kayu ulin yang dikenal memiliki daya tahan sangat tinggi. Sekitar 80 persen material bangunan menggunakan kayu ulin, meskipun saat ini ketersediaannya semakin terbatas.
“Huma Betang ini dibangun menggunakan kayu ulin, sehingga nantinya akan kuat hingga berabad-abad. Hampir 80 persen materialnya menggunakan kayu ulin, meskipun saat ini kayu ulin sudah cukup sulit didapat,” ucapnya.
Lebih lanjut, Agustiar berharap keberadaan Huma Betang mampu menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar tetap mengenal sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Dayak. Ia menilai bangsa yang menghargai sejarah akan memiliki fondasi yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman.
Untuk memperkuat pelestarian budaya, pemerintah juga mendorong sekolah-sekolah melalui Dinas Pendidikan agar mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler yang mengangkat kearifan lokal.
“Jangan sampai budaya kita tergerus oleh perkembangan zaman. Negara-negara maju justru sangat menjaga identitas dan budayanya. Karena itu kami bersama Forkopimda juga turun ke sekolah-sekolah agar ada kegiatan ekstrakurikuler yang mengangkat kearifan lokal,” tuturnya.
Selain menjadi pusat pelestarian budaya, kawasan Huma Betang juga dirancang sebagai pusat kegiatan masyarakat. Bangunan tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 7.000 hingga 8.000 orang dengan luas kawasan mencapai sekitar 4 hingga 5 hektare.
Agustiar menambahkan, Huma Betang juga diproyeksikan menjadi destinasi wisata baru di Kalimantan Tengah. Di kawasan tersebut nantinya akan dibangun pusat kuliner, herbal, serta berbagai produk makanan khas Dayak sebagai upaya memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.
“Tentunya ini akan menjadi destinasi wisata baru. Di sini nantinya akan ada pusat kuliner, herbal, dan berbagai makanan khas Dayak sehingga budaya dan makanan khas kita tidak akan tertinggal,” lanjutnya.
Dia menargetkan pembangunan Huma Betang dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua tahun. Menurutnya, tantangan utama pembangunan saat ini adalah keterbatasan anggaran dan semakin langkanya pasokan kayu ulin sebagai material utama bangunan.
“Sekitar dua tahun. Kendalanya ada dua, yaitu anggaran dan kayu ulin yang saat ini memang cukup langka. Mohon doa dan dukungan semua pihak agar pembangunan ini terus dikawal,” pungkasnya. (adr)


