Dari 400 Target, Baru 8 Gerai Koperasi Merah Putih Kalteng Selesai Dibangun

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Realisasi pembangunan gerai Koperasi Merah Putih di Kalimantan Tengah (Kalteng) masih jauh dari target. Hingga Senin (20/4), dari lebih 400 gerai yang direncanakan, baru 8 unit yang rampung dibangun.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalteng, Rahmawati, mengakui capaian tersebut tertinggal dan menjadi kendala utama dalam percepatan operasional koperasi di lapangan.

“Dari target 400 lebih gerai, yang baru selesai itu 8. Jadi memang cukup tertinggal,” ujarnya,belum lama ini.

Menurutnya, pembangunan gerai sepenuhnya dikerjakan oleh pihak ketiga, yakni PT Agrinas. Pemprov Kalteng terus melakukan evaluasi rutin guna mendorong percepatan progres.

“Kami setiap minggu melakukan evaluasi dan meminta agar progres ini dipercepat,” katanya.

Baca Juga :  Covid-19 di Kalteng Mengganas, Hari Ini 256 Orang Positif

Ia menjelaskan, lambannya pembangunan salah satunya disebabkan kendala tenaga kerja. Namun, persoalan tersebut dinilai lebih pada lemahnya koordinasi di lapangan, mengingat ketersediaan tenaga tukang di desa sebenarnya mencukupi.

Target operasional koperasi yang direncanakan mulai April pun berpotensi terganggu, lantaran pembangunan fisik gerai belum siap.
“Kalau operasional April, sementara gerainya baru 8 yang selesai, tentu ini jadi kendala,” tegasnya.

Electronic money exchangers listing

Meski demikian, dari sisi operasional terbatas, saat ini sudah ada 56 gerai yang berjalan. Gerai tersebut menjual berbagai kebutuhan pokok seperti sembako, benih, hingga kebutuhan lainnya.

“Sebenarnya datanya ada lebih dari 100, tapi sebagian masih menunggu karena syarat dari mitra harus memiliki gerai sendiri,” jelasnya.

Baca Juga :  Selama Bulan Mei, 25 Hotspot Muncul di Seruyan

Kondisi ini membuat sebagian koperasi belum dapat mengakses dukungan mitra, sehingga memperlambat pengembangan usaha di tingkat desa. Ia menegaskan, persoalan utama saat ini bukan pada pembentukan kelembagaan, melainkan pembangunan fisik gerai yang belum maksimal.

“Yang jadi persoalan sekarang itu pembangunan gerainya yang lambat, bukan kelembagaannya,” pungkasnya. (*rif/ans/kpg)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Realisasi pembangunan gerai Koperasi Merah Putih di Kalimantan Tengah (Kalteng) masih jauh dari target. Hingga Senin (20/4), dari lebih 400 gerai yang direncanakan, baru 8 unit yang rampung dibangun.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalteng, Rahmawati, mengakui capaian tersebut tertinggal dan menjadi kendala utama dalam percepatan operasional koperasi di lapangan.

“Dari target 400 lebih gerai, yang baru selesai itu 8. Jadi memang cukup tertinggal,” ujarnya,belum lama ini.

Electronic money exchangers listing

Menurutnya, pembangunan gerai sepenuhnya dikerjakan oleh pihak ketiga, yakni PT Agrinas. Pemprov Kalteng terus melakukan evaluasi rutin guna mendorong percepatan progres.

“Kami setiap minggu melakukan evaluasi dan meminta agar progres ini dipercepat,” katanya.

Baca Juga :  Covid-19 di Kalteng Mengganas, Hari Ini 256 Orang Positif

Ia menjelaskan, lambannya pembangunan salah satunya disebabkan kendala tenaga kerja. Namun, persoalan tersebut dinilai lebih pada lemahnya koordinasi di lapangan, mengingat ketersediaan tenaga tukang di desa sebenarnya mencukupi.

Target operasional koperasi yang direncanakan mulai April pun berpotensi terganggu, lantaran pembangunan fisik gerai belum siap.
“Kalau operasional April, sementara gerainya baru 8 yang selesai, tentu ini jadi kendala,” tegasnya.

Meski demikian, dari sisi operasional terbatas, saat ini sudah ada 56 gerai yang berjalan. Gerai tersebut menjual berbagai kebutuhan pokok seperti sembako, benih, hingga kebutuhan lainnya.

“Sebenarnya datanya ada lebih dari 100, tapi sebagian masih menunggu karena syarat dari mitra harus memiliki gerai sendiri,” jelasnya.

Baca Juga :  Selama Bulan Mei, 25 Hotspot Muncul di Seruyan

Kondisi ini membuat sebagian koperasi belum dapat mengakses dukungan mitra, sehingga memperlambat pengembangan usaha di tingkat desa. Ia menegaskan, persoalan utama saat ini bukan pada pembentukan kelembagaan, melainkan pembangunan fisik gerai yang belum maksimal.

“Yang jadi persoalan sekarang itu pembangunan gerainya yang lambat, bukan kelembagaannya,” pungkasnya. (*rif/ans/kpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru