Kabut Asap Makin Pekat, Wali Kota Palangka Raya Ungkap 800 Titik Api

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir semakin pekat. Kondisi tersebut dipicu banyaknya titik api, arah angin yang mengarah ke kota, serta kekeringan ekstrem yang melanda wilayah Kalteng.

Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengatakan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), arah angin saat ini cenderung bergerak dari wilayah tenggara maupun barat menuju Kota Palangka Raya.

“Jadi kita perlu pahami, angin di Kota Palangka Raya itu kebanyakan dari tenggara ke timur ataupun dari barat ke timur. Berdasarkan BMKG, artinya angin itu mengarah ke Kota Palangka Raya. Malam sampai pagi angin belum keluar,” ujarnya Rabu (2/9/2026).

Menurut Fairid, kondisi tersebut menyebabkan asap dari berbagai wilayah terdorong dan berkumpul di Kota Palangka Raya. Dampaknya, kualitas udara semakin memburuk terutama pada malam hingga pagi hari.

Baca Juga :  Harga Bahan Pokok di Palangka Raya Dipastikan Relatif Stabil

Selain faktor angin, Fairid menilai musim kemarau tahun ini menimbulkan kekeringan yang jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dampaknya terlihat dari semakin sulitnya mendapatkan sumber air, termasuk dari sumur bor.

“Dulu sekitar 12 sampai 14 meter biasanya sudah mendapatkan air. Sekarang hampir di angka 20 meter baru mendapatkan air. Artinya kekeringannya sudah cukup luar biasa,” katanya.

Electronic money exchangers listing

Kondisi kekeringan ekstrem tersebut membuat lahan gambut menjadi sangat mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api di berbagai lokasi

Fairid mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, jumlah titik api yang terpantau di wilayah Kota Palangka Raya pada pekan lalu malam sekitar 800 titik.

“Pada waktu itu totalnya ada sekitar 800 titik api yang ada di Kota Palangka Raya,” ungkapnya.

Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Kota Palangka Raya terus mengerahkan personel gabungan untuk melakukan pemadaman dan pembasahan lahan. Saat ini hampir 500 personel yang terdiri dari relawan, pemerintah daerah, TNI, dan Polri diterjunkan ke lapangan.

Baca Juga :  Tragedi Tjilik Riwut Km 18, Pasangan Tunangan yang Hendak Menikah Tewas Bersama Polisi

“Tim kita bekerja siang dan malam. Karena cukup kelelahan, saat ini kami bagi menjadi dua shift agar penanganan tetap berjalan maksimal,” jelas Fairid.

Di tengah kondisi asap yang semakin pekat, Fairid mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas.

“Yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat, pertama jaga kesehatan dan pakai masker. Kurangi kegiatan-kegiatan di luar. Api memang sudah sangat-sangat luar biasa,” tegasnya.

Dia berharap hujan segera turun untuk membantu proses pemadaman dan mengurangi dampak kabut asap yang saat ini dirasakan hampir seluruh wilayah Kota Palangka Raya. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir semakin pekat. Kondisi tersebut dipicu banyaknya titik api, arah angin yang mengarah ke kota, serta kekeringan ekstrem yang melanda wilayah Kalteng.

Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengatakan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), arah angin saat ini cenderung bergerak dari wilayah tenggara maupun barat menuju Kota Palangka Raya.

“Jadi kita perlu pahami, angin di Kota Palangka Raya itu kebanyakan dari tenggara ke timur ataupun dari barat ke timur. Berdasarkan BMKG, artinya angin itu mengarah ke Kota Palangka Raya. Malam sampai pagi angin belum keluar,” ujarnya Rabu (2/9/2026).

Electronic money exchangers listing

Menurut Fairid, kondisi tersebut menyebabkan asap dari berbagai wilayah terdorong dan berkumpul di Kota Palangka Raya. Dampaknya, kualitas udara semakin memburuk terutama pada malam hingga pagi hari.

Baca Juga :  Harga Bahan Pokok di Palangka Raya Dipastikan Relatif Stabil

Selain faktor angin, Fairid menilai musim kemarau tahun ini menimbulkan kekeringan yang jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dampaknya terlihat dari semakin sulitnya mendapatkan sumber air, termasuk dari sumur bor.

“Dulu sekitar 12 sampai 14 meter biasanya sudah mendapatkan air. Sekarang hampir di angka 20 meter baru mendapatkan air. Artinya kekeringannya sudah cukup luar biasa,” katanya.

Kondisi kekeringan ekstrem tersebut membuat lahan gambut menjadi sangat mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api di berbagai lokasi

Fairid mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, jumlah titik api yang terpantau di wilayah Kota Palangka Raya pada pekan lalu malam sekitar 800 titik.

“Pada waktu itu totalnya ada sekitar 800 titik api yang ada di Kota Palangka Raya,” ungkapnya.

Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Kota Palangka Raya terus mengerahkan personel gabungan untuk melakukan pemadaman dan pembasahan lahan. Saat ini hampir 500 personel yang terdiri dari relawan, pemerintah daerah, TNI, dan Polri diterjunkan ke lapangan.

Baca Juga :  Tragedi Tjilik Riwut Km 18, Pasangan Tunangan yang Hendak Menikah Tewas Bersama Polisi

“Tim kita bekerja siang dan malam. Karena cukup kelelahan, saat ini kami bagi menjadi dua shift agar penanganan tetap berjalan maksimal,” jelas Fairid.

Di tengah kondisi asap yang semakin pekat, Fairid mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas.

“Yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat, pertama jaga kesehatan dan pakai masker. Kurangi kegiatan-kegiatan di luar. Api memang sudah sangat-sangat luar biasa,” tegasnya.

Dia berharap hujan segera turun untuk membantu proses pemadaman dan mengurangi dampak kabut asap yang saat ini dirasakan hampir seluruh wilayah Kota Palangka Raya. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru