SAMPIT, PROKALTENG.CO – Bupati Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) H.Halikinnor. Meminta masyarakat ikut aktif menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Warga diminta segera bertindak ketika menemukan titik api, terutama di sekitar permukiman, tanpa menunggu kebakaran meluas.
Halikinnor mengatakan. Kondisi cuaca saat ini sesuai dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang sebelumnya memperingatkan potensi kemarau panjang disertai suhu panas. Bahkan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.
“Sebagaimana kita dari awal dulu sudah melihat gejolak dan berdasarkan ramalan BMKG bahwa ini kemarau panjang dan panas dan ternyata benar. Puncaknya Agustus dan September, ini baru Agustus,” kata Halikinnor, Selasa (18/8).
Dampak kemarau mulai dirasakan dengan mengeringnya sejumlah embung dan parit. Minimnya sumber air tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam melakukan pemadaman, sementara titik api terus bermunculan.
“Kita lihat embung-embung, parit-parit sudah kering semua karena memang panasnya yang luar biasa. Dan ini banyak sekali titik api,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Kotim telah mengerahkan personel dan berbagai sumber daya untuk memperkuat penanganan Karhutla. Upaya tersebut juga melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD), TNI, Polri, serta sejumlah instansi vertikal.
Halikinnor mengapresiasi dukungan seluruh pihak yang turun langsung membantu penanganan di lapangan.
“Saya terima kasih semua OPD, termasuk juga dari instansi vertikal, dari batalyon, dari korem, dari kodim, dari polres membantu semua,” katanya.
Meski demikian, keterbatasan personel, peralatan, serta kondisi medan dan sumber air membuat pemadaman Karhutla tidak selalu berjalan mudah. Karena itu, peran masyarakat menjadi bagian penting dalam memutus penyebaran api sejak dini.
Halikinnor menyoroti masih adanya warga yang memilih pasif meski kebakaran terjadi tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
“Saya juga minta masyarakat, paling tidak masyarakat karena saya terima informasi ada masyarakat yang dekat rumahnya dia santai saja, dia tidur-tiduran dalam rumahnya sementara petugas bekerja,” tegasnya.
Ia meminta warga tidak hanya mengandalkan BPBD maupun pemadam kebakaran. Jika menemukan api kecil yang masih memungkinkan ditangani, masyarakat diharapkan segera melakukan upaya pemadaman dengan tetap memperhatikan keselamatan.
“Saya juga minta bantuan masyarakat paling tidak mencegah dari api yang kecil di lingkungan perumahan terutama, dipadamkanlah. Jangan menunggu itu besar baru nanti menelepon pihak BPBD atau pihak Damkar,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi panas ekstrem dan keringnya vegetasi membuat api berpotensi menjalar dengan cepat. Terbatasnya sumber air juga semakin memperberat proses pemadaman.
“Baru setengah bulan, panasnya luar biasa, jadi sehingga embung-embung itu kering,” katanya.
Halikinnor menegaskan penanganan Karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat. Kolaborasi antara pemerintah, TNI-Polri, dunia usaha dan masyarakat diperlukan agar kebakaran dapat dicegah sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
“Tanpa kebersamaan, tanpa kolaborasi, sinergi kita semua pihak, bagaimana kita menanggulangi Karhutla ini,” pungkasnya.(bah/kpg)


