SAMPIT, PROKALTENG.CO – Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), harus tetap mengedepankan keselamatan personel.
Petugas dari unsur pemerintah, perusahaan, maupun relawan diminta tidak bertindak gegabah ketika menghadapi kobaran api di lapangan.
Wakil Koordinator III Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotawaringin Timur, Rihel. Menegaskan semangat untuk memadamkan api tidak boleh membuat petugas mengabaikan kondisi dan situasi di lokasi kebakaran.
“Jangan sembarangan menyerang api. Jangan sampai malah terkepung. Jangan sampai karena modal nekat dan terlalu bersemangat sampai lupa keselamatan sendiri,” kata Rihel, Senin (7/9).
Menurutnya, medan karhutla memiliki risiko tinggi dan kondisi api dapat berubah dengan cepat. Karena itu, setiap personel harus memahami situasi sebelum memasuki lokasi serta memastikan jalur keluar tetap tersedia.
Rihel menyebut, peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Sejumlah kejadian di daerah lain menunjukkan bahwa penanganan karhutla dapat mengancam keselamatan petugas, baik akibat kelelahan maupun terjebak dalam kepungan api.
Di Kotim, kondisi serupa juga mulai terjadi. Sedikitnya lima orang yang terlibat dalam penanganan karhutla dilaporkan sempat membutuhkan pertolongan medis karena mengalami kelelahan.
Salah satunya Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, yang bahkan sempat harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa stamina personel harus menjadi perhatian serius. Rihel meminta seluruh petugas mengenali batas kemampuan fisiknya dan tidak memaksakan diri ketika kondisi tubuh sudah tidak memungkinkan.
Jika merasa lelah, personel diminta segera beristirahat. Begitu pula bagi mereka yang sedang tidak sehat, tidak dianjurkan turun langsung ke lokasi kebakaran karena justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
“Kalau merasa lelah, harus segera beristirahat dan tidak boleh dipaksakan. Siapa pun tidak boleh mengambil risiko memaksakan diri ikut turun ke lapangan memadamkan karhutla jika kondisi fisik sedang tidak sehat,” tegasnya.
Selain kondisi fisik, faktor keselamatan saat berada di lokasi kebakaran juga harus diperhatikan. Rihel mengingatkan agar tidak ada petugas yang masuk ke kawasan terbakar seorang diri.
“Saat masuk ke lokasi kebakaran juga jangan sendirian. Harus ada teman. Jangan sampai tidak sadar posisi sehingga malah terjebak kebakaran dan tidak bisa keluar. Hal seperti ini penting untuk dipahami,” ujarnya.
Di tengah tingginya aktivitas penanganan karhutla, Rihel mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak. Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, masyarakat dan relawan dinilai menjadi kekuatan penting untuk mempercepat penanganan kebakaran di wilayah Kotim.
Menurutnya, keberadaan posko juga sangat penting sebagai pusat koordinasi dan komando agar pengerahan personel maupun peralatan di lapangan dapat dilakukan secara terarah dan efektif.
Dukungan dari sektor swasta, lanjut Rihel, turut memperkuat kemampuan penanganan di lapangan. Bantuan peralatan maupun dukungan operasional dari perusahaan dinilai mampu memperluas jangkauan penanganan, terutama hingga tingkat kecamatan dan desa.
“Bantuan dari perusahaan tentu tidak ternilai harganya. Ini membantu mengurangi beban kami di lapangan. Mudah-mudahan melalui bantuan yang diberikan ini, khususnya di wilayah kecamatan dan desa, paling tidak mengurangi kejadian kebakaran karena bisa ditangani regu damkar kecamatan dan desa,” katanya.
Rihel berharap penguatan personel dan dukungan sarana di tingkat kecamatan hingga desa dapat membuat respons terhadap titik kebakaran semakin cepat. Dengan demikian, api bisa ditangani sebelum meluas dan membutuhkan pengerahan kekuatan yang lebih besar.
“Selama ini hanya beberapa yang bisa kami jangkau,” pungkasnya.(bah/kpg)


