Ketika Asap Membakar Ekonomi Kalimantan Tengah

Dampak ekonomi karhutla bekerja melalui beberapa saluran.

Pertama, sektor pertanian dan perkebunan menghadapi risiko kerusakan tanaman, gangguan aktivitas pekerja, serta penurunan produktivitas.

Petani kecil dan buruh harian menjadi kelompok rentan karena kehilangan hari kerja dapat langsung mengurangi pendapatan keluarga.

Kedua, perdagangan, transportasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat mengalami penurunan aktivitas ketika asap mengganggu mobilitas dan masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah.

Biaya masker, pengobatan, dan perlindungan kesehatan juga menambah beban rumah tangga.

Ketiga, pemerintah harus mengalokasikan sumber daya untuk pemadaman, pelayanan kesehatan, dan pemulihan lingkungan.

Dana yang semestinya memperkuat pendidikan, infrastruktur, atau pemberdayaan ekonomi akhirnya terserap untuk menangani bencana berulang.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Status Karhutla Kalteng Diusulkan Naik Jadi Tanggap Darurat

Pengalaman nasional memperkuat peringatan tersebut.

Bank Dunia memperkirakan kebakaran hutan dan lahan di delapan provinsi Indonesia pada Juni-Oktober 2019 menimbulkan kerusakan dan kerugian ekonomi sekitar US$5,2 miliar atau setara 0,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Estimasi itu mencakup berbagai sektor, termasuk pertanian, transportasi, perdagangan, industri, dan lingkungan hidup.

Dampak ekonomi karhutla bekerja melalui beberapa saluran.

Pertama, sektor pertanian dan perkebunan menghadapi risiko kerusakan tanaman, gangguan aktivitas pekerja, serta penurunan produktivitas.

Petani kecil dan buruh harian menjadi kelompok rentan karena kehilangan hari kerja dapat langsung mengurangi pendapatan keluarga.

Electronic money exchangers listing

Kedua, perdagangan, transportasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat mengalami penurunan aktivitas ketika asap mengganggu mobilitas dan masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah.

Biaya masker, pengobatan, dan perlindungan kesehatan juga menambah beban rumah tangga.

Ketiga, pemerintah harus mengalokasikan sumber daya untuk pemadaman, pelayanan kesehatan, dan pemulihan lingkungan.

Dana yang semestinya memperkuat pendidikan, infrastruktur, atau pemberdayaan ekonomi akhirnya terserap untuk menangani bencana berulang.

Baca Juga :  Status Karhutla Kalteng Diusulkan Naik Jadi Tanggap Darurat

Pengalaman nasional memperkuat peringatan tersebut.

Bank Dunia memperkirakan kebakaran hutan dan lahan di delapan provinsi Indonesia pada Juni-Oktober 2019 menimbulkan kerusakan dan kerugian ekonomi sekitar US$5,2 miliar atau setara 0,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Estimasi itu mencakup berbagai sektor, termasuk pertanian, transportasi, perdagangan, industri, dan lingkungan hidup.

Terpopuler

Artikel Terbaru