Hingga saat ini, Program Desa Migran Emas telah ditetapkan pada 756 desa/kelurahan yang tersebar di 27 provinsi, 128 kabupaten/kota, dan 345 kecamatan di Indonesia.
Mukhtarudin menilai pendekatan tersebut semakin relevan untuk Pekerja Migran perempuan yang jumlahnya mencapai lebih dari separuh total Pekerja Migran.
Penguatan Pekerja Migran perempuan, lanjutnya, harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari penyiapan sebelum bekerja, peningkatan kompetensi, pemahaman migrasi aman dan prosedural, pelindungan selama bekerja, hingga pemberdayaan dan reintegrasi setelah kembali ke Indonesia.
“Dengan demikian, Pekerja Migran perempuan diharapkan tidak hanya mampu bekerja secara aman, tetapi juga semakin berdaya, kompeten, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi keluarga serta masyarakat,” pungkas Menteri P2MI Mukhtarudin.
FPPI Siapkan Sosialisasi Pekerja Migran Perempuan
Dalam kesempatan yang sama, DPP FPPI menyampaikan komitmennya untuk ikut memperkuat pemberdayaan perempuan, termasuk melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, kesiapan, dan kualitas perempuan.
Ketua Umum DPP FPPI Prof. Dr. Marlinda Irwanti mengatakan, pemberdayaan perempuan harus dilakukan melalui penguatan pengetahuan, keterampilan, kapasitas, dan kemandirian agar perempuan mampu mengambil peran lebih besar dalam pembangunan.
“FPPI berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan kualitas dan pemberdayaan perempuan Indonesia. Dalam konteks pekerja migran perempuan, sinergi dengan Kementerian P2MI menjadi penting untuk memperluas edukasi, meningkatkan kapasitas, serta memastikan perempuan yang bekerja di luar negeri memiliki kesiapan dan pemahaman yang memadai,” kata Marlinda.
Marlinda mengatakan kolaborasi antara pemerintah dan organisasi perempuan diperlukan agar upaya pemberdayaan dapat menjangkau lebih banyak perempuan, termasuk PMI yang membutuhkan informasi mengenai migrasi aman, hak dan kewajiban, peningkatan kompetensi, hingga kesiapan setelah kembali ke Indonesia.
“Harapan kami, audiensi ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk membangun perempuan Indonesia yang semakin berdaya, kompeten, mandiri, dan mampu memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa,” beber Marlinda.


