Menurut Mukhtarudin, pelatihan tersebut merupakan program peningkatan kompetensi atau upskilling bagi peserta yang telah memiliki kemampuan dasar sesuai bidangnya.
Melalui pelatihan dan sertifikasi, kemampuan peserta diharapkan semakin memenuhi standar kompetensi dan kebutuhan dunia kerja internasional.
“Penguatan tenaga kerja terampil semakin penting di tengah bonus demografi Indonesia. Ketika Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar, sejumlah negara justru menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat fenomena penuaan penduduk atau aging population,” imbuh Menteri.
Kondisi tersebut, lanjut Menteri, membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di pasar global.
Namun, peluang itu harus diimbangi dengan peningkatan keterampilan, penguasaan bahasa asing, kedisiplinan, serta pemahaman terhadap budaya kerja di negara tujuan.
“Pelatihan dalam Program SMK Go Global ini sepenuhnya dibiayai melalui APBN. Ini merupakan wujud komitmen Kementerian P2MI untuk menghadirkan pelatihan berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional,” ujar Menteri.
Asta Mandala SMK Go Global
Mukhtarudin menjelaskan, pelaksanaan program tersebut berlandaskan Asta Mandala SMK Go Global yang dirancang agar kebijakan penempatan pekerja migran tidak semata-mata berorientasi pada jumlah tenaga kerja yang diberangkatkan.
Melalui landasan tersebut, pemerintah mendorong pencapaian Panca Sukses yang meliputi sukses kompetensi, sukses pelindungan, sukses penempatan, sukses remitansi, dan sukses tata kelola.
Kelima sasaran itu diharapkan menghasilkan Tri Dampak, yakni dampak sosial, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan dampak ekonomi.
Untuk memperluas jangkauan program, Kementerian P2MI menargetkan pembentukan 2.000 kelas pelatihan di seluruh 23 wilayah kerja BP3MI.


