UKRI menjadi salah satu mitra pelaksana program tersebut dengan kegiatan pelatihan yang telah berjalan sejak awal September 2026.
Kementerian P2MI juga menetapkan target penempatan pekerja migran melalui program SMK Go Global secara bertahap, yakni 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.
Menteri Mukhtarudin berpesan agar seluruh peserta memanfaatkan kesempatan pelatihan dengan sungguh-sungguh.
Selain meningkatkan keterampilan sesuai bidang masing-masing, peserta diminta memperkuat kemampuan bahasa, kedisiplinan, dan pemahaman budaya kerja sebagai bekal memasuki lingkungan kerja internasional.
Ia menegaskan, penyiapan kompetensi sejak dari dalam negeri merupakan bagian penting dari pelindungan pekerja migran.
Dengan bekal keterampilan dan sertifikasi yang sesuai, calon pekerja migran diharapkan dapat mengakses peluang kerja melalui prosedur resmi serta terhindar dari risiko penempatan nonprosedural.
UKRI Dorong Kolaborasi Berkelanjutan
Sementara itu, Wakil Rektor II UKRI Erdiansyah menyampaikan apresiasi atas kunjungan Menteri P2MI dan pelaksanaan program SMK Go Global di lingkungan kampusnya.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi awal kolaborasi yang lebih konkret dan berkelanjutan antara UKRI, Kementerian P2MI, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, BP3MI Jawa Barat, Dinas Tenaga Kerja, serta para pemangku kepentingan lainnya.
Menurut Erdiansyah, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah diperlukan untuk membangun ekosistem pendidikan dan pelatihan yang mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja global.
“Kita ingin agar ketika anak-anak muda Indonesia bekerja di luar negeri, mereka bukan hanya dikenal sebagai tenaga kerja, tetapi dikenal sebagai tenaga profesional Indonesia yang kompeten, berintegritas, berbudaya, dan mampu menjaga nama baik bangsa,” ujar Erdiansyah.


