alexametrics
23.1 C
Palangkaraya
Wednesday, August 17, 2022

Kolektif Hysteria Bagikan Penta KLabs

Kolektif Hysteria (Semarang) membagikan video
yang mengantar mereka memenangkan Grand Prize Youfab Award 2020 di Shibuya,
Tokyo, Jepang, akhir Februari lalu. Penghargaan itu adalah apresiasi tertinggi
dalam ajang tahunan yang ditaja oleh Fabcafe Tokyo di bawah manajemen Loftwork
Inc, sebuah perusahaan kreatif global yang punya cabang di kota-kota besar
dunia seperti Hong Kong, Hida, Tokyo, Kyoto, Bangkok, Taipei, Barcelona,
Toulouse, Strasbourg, dan Monterrey. Tahun ini, kompetisi kelas dunia ini
diikuti oleh 285 partisipan dari 43 negara.

Lewat kanal Youtube Kolektif Hysteria, video
yang bersanding dengan 20 finalis lain dari berbagai negara dan dipamerkan
Februari lalu di Shibuya QWS, Tokyo, tersebut kini dapat diakses publik.
’’Kolektif Hysteria  mengajukan Penta KLabs, sebuah sites spesifik art
project biennale,’’ terang Adin, Direktur Kolektif Hysteria. Karya ini
berhadapan dengan berbagai inovasi lain menggunakan artificial
intellegent, big data analyst, internet of things, dan semacamnya.
Adin menyebut, Youfab Award kali ini bertema Conviviality: Emerging
from the Space Between the Old and New OS. Tema ini menyoal relasi antara yang
manual dan digital dan perubahan terus menerus dalam sistem operasi secara
sosial maupun kultural.

Baca Juga :  Begini Penjelasan Sebuah Cuitan Bisa Jadi Trending di Twitter

Penta KLabs bukanlah karya bertabur teknologi
canggih dan mutakhir. Penta KLabs diciptakan sebagai karya tumbuh dua tahunan
dengan berbasis lokasi penciptaan. Kehadiran teknologi dalam karya ini
bersentuhan kerja-kerja pengorganisasian dalam lingkup sosiokultural berbasis
lokasi. Karya ini mengandalkan aplikasi teknologi yang sudah tersedia seperti
media sosial untuk sarana advokasi komunitas. Serangkaian wawancara tentang
bagaimana sebuah karya secanggih apa pun senyatanya selalu dipengaruhi oleh
lokasi dan lingkungan sosiokultural penciptaannya yang kemudian disajikan
bersama mural dan instalasi dalam Penta KLabs menjadi semacam interupsi bagi
ajang kompetisi sarat teknologi canggih itu.

’’Mayoritas karya peserta lain sangat
teknologis dan canggih seperti lazimnya karya-karya new media art atau multimedia,’’
tutur Adin. Misalnya  karya Amir Zobel dan Itay Blumenthal (Israel)
peraih penghargaan utama yang menggunakan teknologi pemrosesan data spesifik.
 Juga Bird Language karya Helena Nikonole + Credits: Veronica
Samotskaya, Natalia Soboleva, Konstantin Yakovlev, Nikita Prudnikov (Russia)
yang mencoba alat penerjemah bahasa burung ke manusia dan sebaliknya.

Baca Juga :  KUA Jekan Raya Laksanakan Manasik Haji

Youfab
Award award adalah sebuah kompetisi global yang mencari inovasi teknologi dari
para seniman, inovator, maupun pencipta dari dunia yang mencari solusi atau
inspirasi dari relasi tradisional antara individu dan industri untuk
kepentingan masyarakat. Award ini sudah berlangsung sejak 2012 dan memenangkan
banyak inovasi menggunakan teknologi. Penta Klabs sendiri sudah
berlangsung dua kali di Semarang. Yaitu di Kemijen bertajuk Narasi
Kemijen (2016) tentang ketahanan kampung dan di Nongkosawit (2018)
bertajuk Sedulur Banyu tentang ekosistem air. 

Kolektif Hysteria (Semarang) membagikan video
yang mengantar mereka memenangkan Grand Prize Youfab Award 2020 di Shibuya,
Tokyo, Jepang, akhir Februari lalu. Penghargaan itu adalah apresiasi tertinggi
dalam ajang tahunan yang ditaja oleh Fabcafe Tokyo di bawah manajemen Loftwork
Inc, sebuah perusahaan kreatif global yang punya cabang di kota-kota besar
dunia seperti Hong Kong, Hida, Tokyo, Kyoto, Bangkok, Taipei, Barcelona,
Toulouse, Strasbourg, dan Monterrey. Tahun ini, kompetisi kelas dunia ini
diikuti oleh 285 partisipan dari 43 negara.

Lewat kanal Youtube Kolektif Hysteria, video
yang bersanding dengan 20 finalis lain dari berbagai negara dan dipamerkan
Februari lalu di Shibuya QWS, Tokyo, tersebut kini dapat diakses publik.
’’Kolektif Hysteria  mengajukan Penta KLabs, sebuah sites spesifik art
project biennale,’’ terang Adin, Direktur Kolektif Hysteria. Karya ini
berhadapan dengan berbagai inovasi lain menggunakan artificial
intellegent, big data analyst, internet of things, dan semacamnya.
Adin menyebut, Youfab Award kali ini bertema Conviviality: Emerging
from the Space Between the Old and New OS. Tema ini menyoal relasi antara yang
manual dan digital dan perubahan terus menerus dalam sistem operasi secara
sosial maupun kultural.

Baca Juga :  Mampu Kendalikan Emosi, 5 Zodiak Ini Paling Tangguh Hadapi Masalah

Penta KLabs bukanlah karya bertabur teknologi
canggih dan mutakhir. Penta KLabs diciptakan sebagai karya tumbuh dua tahunan
dengan berbasis lokasi penciptaan. Kehadiran teknologi dalam karya ini
bersentuhan kerja-kerja pengorganisasian dalam lingkup sosiokultural berbasis
lokasi. Karya ini mengandalkan aplikasi teknologi yang sudah tersedia seperti
media sosial untuk sarana advokasi komunitas. Serangkaian wawancara tentang
bagaimana sebuah karya secanggih apa pun senyatanya selalu dipengaruhi oleh
lokasi dan lingkungan sosiokultural penciptaannya yang kemudian disajikan
bersama mural dan instalasi dalam Penta KLabs menjadi semacam interupsi bagi
ajang kompetisi sarat teknologi canggih itu.

’’Mayoritas karya peserta lain sangat
teknologis dan canggih seperti lazimnya karya-karya new media art atau multimedia,’’
tutur Adin. Misalnya  karya Amir Zobel dan Itay Blumenthal (Israel)
peraih penghargaan utama yang menggunakan teknologi pemrosesan data spesifik.
 Juga Bird Language karya Helena Nikonole + Credits: Veronica
Samotskaya, Natalia Soboleva, Konstantin Yakovlev, Nikita Prudnikov (Russia)
yang mencoba alat penerjemah bahasa burung ke manusia dan sebaliknya.

Baca Juga :  KUA Jekan Raya Laksanakan Manasik Haji

Youfab
Award award adalah sebuah kompetisi global yang mencari inovasi teknologi dari
para seniman, inovator, maupun pencipta dari dunia yang mencari solusi atau
inspirasi dari relasi tradisional antara individu dan industri untuk
kepentingan masyarakat. Award ini sudah berlangsung sejak 2012 dan memenangkan
banyak inovasi menggunakan teknologi. Penta Klabs sendiri sudah
berlangsung dua kali di Semarang. Yaitu di Kemijen bertajuk Narasi
Kemijen (2016) tentang ketahanan kampung dan di Nongkosawit (2018)
bertajuk Sedulur Banyu tentang ekosistem air. 

Most Read

Artikel Terbaru

/