Tiga Menteri Keuangan, Satu Pertanyaan: Kemana Arah Fiskal Indonesia?

Investor melihat Suahasil sebagai teknokrat yang lebih familiar dan memiliki pengalaman panjang dalam kebijakan fiskal.

Reuters mencatat bahwa pengangkatannya dipandang dapat memberikan stabilitas dan prediktabilitas kebijakan.

Namun, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa persoalan selesai hanya karena Menteri Keuangan telah berganti.

Masalah sesungguhnya bukan siapa Menteri Keuangannya, melainkan bagaimana arah fiskal negara ditentukan.

Jika kebijakan fiskal tetap sulit diprediksi, pergantian figur hanya memberikan ketenangan sementara.

Pasar akan kembali bertanya: apakah pemerintah benar-benar berkomitmen pada disiplin fiskal?

Pertanyaan itu penting karena Fitch dan Moody’s yang adalahlembaga pemeringkat kredit internasional (credit rating agencies) telah memberikan outlook negatif terhadap Indonesia.

Electronic money exchangers listing

Fitch, misalnya, memperkirakan defisit fiskal 2026 berada di sekitar 2,9 persen PDB dan utang pemerintah meningkat.

Baca Juga :  Kalteng Expo 2026 Jadi Ajang Promosi UMKM dan Potensi Daerah

Kementerian Keuangan juga mencatat posisi outlook Indonesia dari Fitch dan Moody’s telah berada pada kategori negatif.

Sementara S&P (Standard & Poor’s) yang merupakan lembaga pemeringkat kredit internasional untuk menilai kemampuan suatu negara, perusahaan, atau penerbit surat utang dalammemenuhi kewajiban finansialnya masih memberikan outlook stabil.

Investor melihat Suahasil sebagai teknokrat yang lebih familiar dan memiliki pengalaman panjang dalam kebijakan fiskal.

Reuters mencatat bahwa pengangkatannya dipandang dapat memberikan stabilitas dan prediktabilitas kebijakan.

Namun, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa persoalan selesai hanya karena Menteri Keuangan telah berganti.

Electronic money exchangers listing

Masalah sesungguhnya bukan siapa Menteri Keuangannya, melainkan bagaimana arah fiskal negara ditentukan.

Jika kebijakan fiskal tetap sulit diprediksi, pergantian figur hanya memberikan ketenangan sementara.

Pasar akan kembali bertanya: apakah pemerintah benar-benar berkomitmen pada disiplin fiskal?

Pertanyaan itu penting karena Fitch dan Moody’s yang adalahlembaga pemeringkat kredit internasional (credit rating agencies) telah memberikan outlook negatif terhadap Indonesia.

Fitch, misalnya, memperkirakan defisit fiskal 2026 berada di sekitar 2,9 persen PDB dan utang pemerintah meningkat.

Baca Juga :  Kalteng Expo 2026 Jadi Ajang Promosi UMKM dan Potensi Daerah

Kementerian Keuangan juga mencatat posisi outlook Indonesia dari Fitch dan Moody’s telah berada pada kategori negatif.

Sementara S&P (Standard & Poor’s) yang merupakan lembaga pemeringkat kredit internasional untuk menilai kemampuan suatu negara, perusahaan, atau penerbit surat utang dalammemenuhi kewajiban finansialnya masih memberikan outlook stabil.

Terpopuler

Artikel Terbaru