26.1 C
Jakarta
Sunday, April 14, 2024

Sajikan Ratusan Porsi Makanan, 150 Anak Serentak Mainkan Kecapi

Pesta rakyat dalam
rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 kota Palangka Raya dan hari
jadi ke-54 Pemko benar-benar semarak. Kemeriahannya dirasakan semua khalayak, ada
disajikan makanan gratis hingga penampilan menarik dari anak-anak Sekolah Dasar
(SD) dalam memainkan kecapi, alat musik tradisional khas Dayak.

 

ANISA
B WAHDAH-APRIANDO, Palangka Raya


MASYARAKAT berbondong-bondong
datang untuk ikut memeriahkan HUT Kota Palangka Raya dan HUT Pemko Palangka
Raya yang dilaksanakan di Balai Kota, kemarin (17/7).  Pemko Palangka Raya telah menyiapkan sajian
kuliner sebanyak 6.200 porsi untuk masyarakat Kota Cantik ini. Sajian makanan
yang disiapkan bermacam-macam bahkan habis dalam kurun waktu yang sangat cepat.

Salah satu warga Yeni,
ia menyempatkan waktunya datang usai menjemput anaknya pulang dari Kelompok
Bermain (KB).

“Saya dapat informasi
di Facebook, dan menyempatkan untuk datang. Bukan karena makanan gratis tapi
keramaiannya,” kata Yeni saat dibincangi di tengah-tengah menikmati sajian di
pesta rakyat tersebut.

Berbeda dengan Masadah,
yang tidak kebagian makanan di pesta itu lantaran datang terlambat. Ia juga
mengetahui informasi dari grup Whatsapp dan membuatnya ingin meramaikan hari
bahagia bagi Kota Cantik ini.

“Saya dapat informasi
dari bahwa Pemko mengadakan pesta rakyat, ketika saya datang makanan sudah
habis,” kata salah satu pengunjung Masadah, saat dibincangi Kalteng Pos.

Sementara itu, salah
satu penyedia katering Aji mengatakan, pihaknya telah dipesan oleh Pemko untuk
menyediakan 300 porsi soto. Tetapi di luar dugaan, masyarakat yang antusias
menyerbu makanan yang ia sajikan begitu membludak.

Baca Juga :  Endus Ketidakberesan TWK sejak Jauh Hari

“Awalnya diminta
sediakan 300 porsi, tetapi kami sediakan 400 cup. Dan syukur makanan yang kami
siapkan bisa menyajikan hingga 400 porsi,” tegasnya.

Diakuinya, hal ini ia
lakukan untuk turut berpartisipasi memeriahkan hari bahagia untuk Kota Cantik
ini.

 

Perayaan semakin
meriah, karena dalam HUT ke-62 dan hari jadi ke-54 Pemko ini tidak hanya
menyajikan makanan gratis saja di Balai Kota. Namun ada kegiatan kesenian daerah
yang ditampilkan di Tugu Soekarno. Anak-anak anak membawakan Gebyar Kecapi
diiringi dengan lagu karungut di Tugu Soekarno, Rabu (17/7) sore

Kegiatan tersebut
dibuka langsung oleh Wakil Walikota Palangka Raya, Umi Mastikah dan dihadiri
langsung oleh semua komponen PD dan semua instansi terkait. Lomba tersebut
menarik banyak perhatian masyarakat kota.

Puluhan pasang mata
tertuju untuk melihat kegiatan tersebut yang didominasi dari kalangan siswa
siswa Sekolah Dasar (SD). Sebanyak 150 siswa perwakilan dari Kesenian dari SD mengelilingi
tugu dengan memegang kecapi masing-masing.

Penampilan demi
penampilan ditunjukan dengan banyak mengambil tema karungut terkait dengan
pendidikan SD. Salah satunya penampilan yang dilakukan Putri (8) tampil dengan
membawakan lagu karungut Anak Sakula (Anak Sekolah).

Baca Juga :  Dua Sengatan Buat Petugas Meringis Kesakitan

Wakil Wali kota
Palangka Raya, Umi Mustikah mengatakan sangat mendukung dan  mengapresiasi kegiatan tersebut, karena
memotivasi dan membuat peserta didik melestarikan budaya.

“Saya sangat mendukung
dan sangat mengapresiasi dengan adanya kegiatan lomba karungut dan kecapi ini
dengan diadakannya lomba dan kecapi Ini bisa memberikan manfaat dan memotivasi
anak-anak didik kita dan bisa melestarikan budaya,”katanya.

Orang nomor dua di
lingkungan pemerintahan kota tersbeut menilai, seni budaya dan kecapi adalah
sebuah kesenian tradisional dari Kalimantan Tengah yang wajib diletarikan oleh
generasi penerus. Menurutnya, seni ini merupakan sastra lisan atau juga bisa
disebut pantun yang dilakukan merupakan karya yang dijunjung masyarakat Dayak
sebagai sastra besar dan merupakan semacam pantun atau gurindam.

Karungut merupakan
bermacam legenda, nasehat, teguran dan peringatan mengenai kehidupan sehari-hari
pada acara penyambutan tamu yang dihormati salah satu ekspresi kegembiraan dan
kebahagiaan diungkapkan.

Ditambahkannya,
karungut merupakan salah satu kesenian tradisional yang sangat komunikatif
karena pesan-pesan yang disampaikan berbentuk pantun dalam bahasa daerah Dayak
dan mudah dimengerti penontonnya atau pendengarnya karungut diiringi alat musik
kecapi bisa memakai band atau organ sastra lisan Nusantara untuk Kalteng.

“Saya harapkan
kegiatan positif ini tidak berhenti disini saja namun terus berkelanjutan agar
para generasi muda dapat melestarikan sehingg tidak hilang ditelan zaman,”
pungkasnya. (*/ala)

Pesta rakyat dalam
rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 kota Palangka Raya dan hari
jadi ke-54 Pemko benar-benar semarak. Kemeriahannya dirasakan semua khalayak, ada
disajikan makanan gratis hingga penampilan menarik dari anak-anak Sekolah Dasar
(SD) dalam memainkan kecapi, alat musik tradisional khas Dayak.

 

ANISA
B WAHDAH-APRIANDO, Palangka Raya


MASYARAKAT berbondong-bondong
datang untuk ikut memeriahkan HUT Kota Palangka Raya dan HUT Pemko Palangka
Raya yang dilaksanakan di Balai Kota, kemarin (17/7).  Pemko Palangka Raya telah menyiapkan sajian
kuliner sebanyak 6.200 porsi untuk masyarakat Kota Cantik ini. Sajian makanan
yang disiapkan bermacam-macam bahkan habis dalam kurun waktu yang sangat cepat.

Salah satu warga Yeni,
ia menyempatkan waktunya datang usai menjemput anaknya pulang dari Kelompok
Bermain (KB).

“Saya dapat informasi
di Facebook, dan menyempatkan untuk datang. Bukan karena makanan gratis tapi
keramaiannya,” kata Yeni saat dibincangi di tengah-tengah menikmati sajian di
pesta rakyat tersebut.

Berbeda dengan Masadah,
yang tidak kebagian makanan di pesta itu lantaran datang terlambat. Ia juga
mengetahui informasi dari grup Whatsapp dan membuatnya ingin meramaikan hari
bahagia bagi Kota Cantik ini.

“Saya dapat informasi
dari bahwa Pemko mengadakan pesta rakyat, ketika saya datang makanan sudah
habis,” kata salah satu pengunjung Masadah, saat dibincangi Kalteng Pos.

Sementara itu, salah
satu penyedia katering Aji mengatakan, pihaknya telah dipesan oleh Pemko untuk
menyediakan 300 porsi soto. Tetapi di luar dugaan, masyarakat yang antusias
menyerbu makanan yang ia sajikan begitu membludak.

Baca Juga :  Endus Ketidakberesan TWK sejak Jauh Hari

“Awalnya diminta
sediakan 300 porsi, tetapi kami sediakan 400 cup. Dan syukur makanan yang kami
siapkan bisa menyajikan hingga 400 porsi,” tegasnya.

Diakuinya, hal ini ia
lakukan untuk turut berpartisipasi memeriahkan hari bahagia untuk Kota Cantik
ini.

 

Perayaan semakin
meriah, karena dalam HUT ke-62 dan hari jadi ke-54 Pemko ini tidak hanya
menyajikan makanan gratis saja di Balai Kota. Namun ada kegiatan kesenian daerah
yang ditampilkan di Tugu Soekarno. Anak-anak anak membawakan Gebyar Kecapi
diiringi dengan lagu karungut di Tugu Soekarno, Rabu (17/7) sore

Kegiatan tersebut
dibuka langsung oleh Wakil Walikota Palangka Raya, Umi Mastikah dan dihadiri
langsung oleh semua komponen PD dan semua instansi terkait. Lomba tersebut
menarik banyak perhatian masyarakat kota.

Puluhan pasang mata
tertuju untuk melihat kegiatan tersebut yang didominasi dari kalangan siswa
siswa Sekolah Dasar (SD). Sebanyak 150 siswa perwakilan dari Kesenian dari SD mengelilingi
tugu dengan memegang kecapi masing-masing.

Penampilan demi
penampilan ditunjukan dengan banyak mengambil tema karungut terkait dengan
pendidikan SD. Salah satunya penampilan yang dilakukan Putri (8) tampil dengan
membawakan lagu karungut Anak Sakula (Anak Sekolah).

Baca Juga :  Dua Sengatan Buat Petugas Meringis Kesakitan

Wakil Wali kota
Palangka Raya, Umi Mustikah mengatakan sangat mendukung dan  mengapresiasi kegiatan tersebut, karena
memotivasi dan membuat peserta didik melestarikan budaya.

“Saya sangat mendukung
dan sangat mengapresiasi dengan adanya kegiatan lomba karungut dan kecapi ini
dengan diadakannya lomba dan kecapi Ini bisa memberikan manfaat dan memotivasi
anak-anak didik kita dan bisa melestarikan budaya,”katanya.

Orang nomor dua di
lingkungan pemerintahan kota tersbeut menilai, seni budaya dan kecapi adalah
sebuah kesenian tradisional dari Kalimantan Tengah yang wajib diletarikan oleh
generasi penerus. Menurutnya, seni ini merupakan sastra lisan atau juga bisa
disebut pantun yang dilakukan merupakan karya yang dijunjung masyarakat Dayak
sebagai sastra besar dan merupakan semacam pantun atau gurindam.

Karungut merupakan
bermacam legenda, nasehat, teguran dan peringatan mengenai kehidupan sehari-hari
pada acara penyambutan tamu yang dihormati salah satu ekspresi kegembiraan dan
kebahagiaan diungkapkan.

Ditambahkannya,
karungut merupakan salah satu kesenian tradisional yang sangat komunikatif
karena pesan-pesan yang disampaikan berbentuk pantun dalam bahasa daerah Dayak
dan mudah dimengerti penontonnya atau pendengarnya karungut diiringi alat musik
kecapi bisa memakai band atau organ sastra lisan Nusantara untuk Kalteng.

“Saya harapkan
kegiatan positif ini tidak berhenti disini saja namun terus berkelanjutan agar
para generasi muda dapat melestarikan sehingg tidak hilang ditelan zaman,”
pungkasnya. (*/ala)

Terpopuler

Artikel Terbaru