Di tengah keheningan salah satu rumah sakit swasta di Kota Palangka Raya saat jarum jam telah melampaui angka dua belas malam, ada satu sosok yang tetap tenang bergerak. Ia berdiri di ruangan tertutup, menyempurnakan penampilan seseorang yang baru saja berpulang. Ini bukan pekerjaan biasa. Bukan pula bagi siapa saja yang sanggup melakukannya.
Jefrie Pratama – Palangka raya
AIDA, perempuan berusia 38 tahun asal Kota Palangka Raya ini, memilih jalur yang jarang orang lalui. Ya, menjadi perias jenazah baginya bukan sekadar pekerjaan. Ia harus berhadapan dengan kesunyian, keheningan, dan terkadang sesuatu yang tak kasat mata.
Menurut pengakuannya, suatu malam di dalam ruangan jenazah yang pintunya terkunci rapat dan hanya ada dirinya bersama seorang perawat, tiba-tiba terdengar suara ketukan. Tak, tek, tak, tek. Berulang dan jelas terdengar dari balik pintu.
Keduanya pun membuka pintu itu dengan cepat. Namun di luar sana, tak ada siapa-siapa. Keluarga jenazah ternyata berada cukup jauh dari ruangan tersebut. Tidak ada orang yang mengetuk. Namun suara itu nyata terdengar.
“Padahal pintunya jelas terkunci. Kami buka karena mendengar ketukan, ternyata tidak ada siapa-siapa,” kenang Aida saat dibincangi Prokalteng.co, belum lama ini.
Bukan hanya sekali. Pengalaman serupa pun terus berulang. Lampu yang tiba-tiba padam di tengah proses merias. Suara petir yang terdengar luar biasa keras meski cuaca sedang cerah. Bahkan saat berjalan pulang meninggalkan rumah sakit, ia kerap merasa seolah ada langkah yang mengiringi di belakangnya. Namun saat menoleh, sepi.
Meski begitu, Aida tak pernah membiarkan rasa takut menguasai hatinya. Baginya, setiap jenazah adalah seseorang yang patut dihormati setinggi-tingginya. Sebelum menyentuh jenazah, ia selalu menyampaikan permisi. Setelah selesai merias, ia pun memohon maaf apabila ada hal yang kurang berkenan.
“Kalau ada yang janggal, saya selalu bilang, jangan ikuti kami,” ucapnya dengan lembut namun teguh.
Lama berkecimpung di dunia yang perbatasannya tipis dengan keheningan itu, Aida menyadari satu hal penting. Menjadi perias jenazah bukan sekadar memberi penampilan cantik di wajah yang telah dingin. Lebih dari itu, dibutuhkan ketenangan hati, ketelitian, dan penghormatan yang tulus dari sanubari.
“Setiap kali memandikan dan merias, saya tidak pernah merasa sendiri. Rasanya selalu ada sesuatu yang berdiri di dekat kita,” ungkapnya perlahan.
Bagi Aida, sesuatu itu bukan hal yang harus ditakuti. Melainkan pengingat agar selalu bersikap rendah hati, sopan, dan menghargai setiap nyawa yang pernah ada. Di tangan Aida, jenazah bukan sekadar ditinggalkan pergi. Ia dipersiapkan dengan kasih sayang, penghormatan, dan doa sederhana sebagai perpisahan terakhir yang indah.(*)


