PROKALTENG.CO-Pendhapa Art Space kembali menjadi ruang temu bagi ekosistem seni melalui penyelenggaraan Pameran Ragam Ke-8. Agenda utama dari pameran yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali ini adalah untuk menampilkan perkembangan karya para alumni SMSR Jogjakarta sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi para seniman yang terlibat. Selain itu, pameran ini juga menjadi ruang diskusi mengenai perkembangan dunia seni rupa, estetika, dan industri.
“Pameran ini digagas oleh alumni SMSR Jogjakarta,” jelas ketua acara Agus Sriyono Minggu (31/5).
Agus sebagai alumni SMSR Jogjakarta ini pun mengatakan, pameran ini menampilkan berbagai bidang seni rupa yang pernah dipelajari para alumni di masa sekolah. Sebanyak 130 karya dipamerkan, meliputi seni lukis, grafis, batik, kriya kayu, animasi, patung, Desain Komunikasi Visual (DKV), dan film.
“Pameran ini dibuka 30 Mei sampai 9 Juni, dan gratis,” katanya.
Ragam karya tersebut disajikan dalam satu kemasan kolektif yang menyatukan berbagai entitas SMSR, mulai dari alumni, para mantan guru, mantan kepala sekolah, guru yang masih aktif, hingga siswa-siswa terpilih dari SMSR Jogjakarta.
“Para seniman menampilkan karya terbaiknya, karena konsep, tema, tergantung dari senimannya tapi kemasan acaranya kita yang mengonsep,” jelasnya.
Melalui pameran ini, perkembangan karya seni dapat terbaca secara jelas mulai dari karya generasi dahulu, seniman muda, hingga karya terkini dari para remaja yang masih berstatus sebagai siswa. Ruang ini memungkinkan para siswa untuk saling melihat, berdiskusi lewat karya, sekaligus menjadi tolok ukur sejauh mana perkembangan kreativitas yang telah dicapai oleh para alumnus.
“Saya berharap, dengan adanya pameran ini, calon seniman bisa menyiapkan diri di dunia nyata,” pintanya.
Di antara sekian banyak karya yang dipamerkan, guru SMSR Jogjakarta Suranto turut serta menampilkan karya pribadinya. Karya yang diberi judul Mencari Jalan Sunyi tersebut menyimpan makna mendalam berupa metafora visual tentang Dharma. Ia mengatakan, lukisannya tidak sekadar memotret keindahan arsitektur Candi Borobudur, melainkan juga menangkap esensi filosofis bahwa pencerahan berada di atas segalanya. Namun, untuk menggapai pencerahan tersebut, diperlukan langkah kaki yang konsisten serta keyakinan yang teguh.
Lanjutnya, karyanya menjadi sebuah penggambaran tentang transendensi, di mana batas antara bumi dan langit tampak kabur oleh kehadiran cahaya spiritual yang menuntun jiwa untuk kembali ke pusat ketenangan.
“Narasi dalam lukisan ini berbicara tentang perjalanan spiritual manusia,” tuturnya.
Di dalam lukisan, terdapat figur Bhante atau Biksu tertinggi Buddha yang menjadi representasi dari sosok pencari kebenaran. Posisi figur tersebut digambarkan membelakangi audiens, sebuah teknik visual yang sengaja mengajak para penikmat lukisan untuk ikut serta dalam perjalanan spiritual tersebut. “Melangkah menuju satu tujuan yang sama,” Katanya.
Secara semiotik, visual Borobudur yang dibuat melayang dalam lukisan ini bukan sekadar merepresentasikan bangunan fisik candi yang ada di Magelang. Candi tersebut merupakan simbol dari Gunung Guci. Dengan penggambaran melayang di atas awan, candi ini disimbolkan telah lepas dari beban duniawi dan menjadi tujuan akhir dari sebuah perjalanan batin yang suci.
“Elemen kabut melambangkan ketidaktahuan yang harus ditembus manusia melalui meditasi dan laku prihatin demi mencapai pencerahan,” pungkasnya. (cin/jpg)


