Jelang Waisak, Para Biksu Tiba di Candi Borobudur, Lakukan Pradaksina dan Doa Bersama

PROKALTENG.CO-Perjalanan panjang para biksu peserta Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 akhirnya mencapai puncaknya.

Pada Kamis (29/5/2026) siang, rombongan biksu tiba di Candi Borobudur sebagai tujuan akhir perjalanan menandai berakhirnya rute ratusan kilometer (km) yang ditempuh dengan berjalan kaki dari Bali.

Sekitar pukul 07.00, para biksu berjalan dari TITD Hok An Kiong Muntilan menuju Vihara Mendut.

Di sana, mereka disambut hangat oleh Bante Sri Pannavaro Mahathera. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah dinas bupati.

Usai beristirahat, para biksu kembali berjalan menuju Candi Borobudur yang menjadi tujuan akhir. Sekitar pukul 13.54, mereka mulai memasuki kawasan candi melalui Gerbang Kalpataru.

Mereka berjalan beriringan menuju tangga utama, sebelum kemudian menaiki satu per satu undakan candi.

Di puncak, mereka melangsungkan pradaksina sekaligus melantunkan doa. Suasana hening dan khidmat menyelimuti prosesi tersebut.

Electronic money exchangers listing

Ketua Nasional IWFP 2026 Tosin menjelaskan, dari total 50 peserta awal, sebanyak 48 biksu berhasil mencapai dan naik ke Candi Borobudur.

Mereka berasal dari tiga negara, yakni Thailand, Malaysia, dan Laos, ditambah sejumlah biksu lokal Indonesia yang turut bergabung dalam etape akhir perjalanan.

Baca Juga :  Adaro Siapkan Satu Motor

“Yang naik hari ini 48 biksu, ditambah biksu lokal sekitar lima sampai 10 orang,” ujarnya.

Menurut Tosin, perjalanan yang ditempuh para biksu bukanlah perjalanan biasa. Terlebih, mereka rata-rata berjalan mulai 30 hingga 40 km per hari.

Selain itu, mereka juga harus menghadapi berbagai kondisi ekstrem, mulai dari terik matahari hingga hujan.

“Banyak yang kakinya lecet bahkan terluka. Tapi mereka tidak berhenti. Besoknya tetap berjalan. Ini komitmen yang sangat luar biasa,” bebernya.

Dia menyebut, setibanya di puncak candi, para biksu langsung melaksanakan doa bersama.

Doa tersebut menjadi puncak dari perjalanan spiritual yang telah mereka mulai sejak berangkat dari Bali. “Doa yang dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, negara, dan juga dunia,” paparnya.

Selain berdoa, lanjut dia, para biksu juga melakukan ritual pradaksina sebagai bentuk penghormatan dan praktik spiritual dalam tradisi Buddha.

Ritual ini menjadi simbol penyempurnaan perjalanan sekaligus penguatan niat damai yang mereka bawa sejak awal.

Baca Juga :  Semua Fakultas Menjadikan Kelapa Sawit sebagai Subjek Studi

Tosin menjelaskan, Borobudur dipilih sebagai tujuan akhir bukan tanpa alasan.

Sebagai candi Buddha terbesar di dunia, situs ini memiliki makna simbolis yang kuat bagi umat Buddha, sekaligus menjadi representasi kejayaan peradaban dan spiritualitas.

“Borobudur adalah kebanggaan, simbol kejayaan, dan memiliki aspirasi besar dalam ajaran Buddha.

Sangat relevan untuk menyuarakan perdamaian dari sini,” jelas Tosin.

Perjalanan IWFP 2026 tidak berhenti di Candi Borobudur. Tosin menambahkan, mereka akan diajak mengunjungi sejumlah situs candi lain di Indonesia pada Jumat (29/5/2026).

Seperti Candi Prambanan dan Candi Sewu sebagai bagian dari pengenalan kekayaan budaya Nusantara.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan budaya dan peninggalan sejarah. Tidak hanya Borobudur,” terangnya.

Tosin menyebut, para biksu dijadwalkan tetap berada di kawasan Borobudur untuk mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya.

Termasuk penyambutan secara simbolis oleh para pemangku kepentingan pada Sabtu (30/5) serta perayaan Waisak Nasional pada Minggu (31/5). (aya/laz/jpg)

 

 

PROKALTENG.CO-Perjalanan panjang para biksu peserta Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 akhirnya mencapai puncaknya.

Pada Kamis (29/5/2026) siang, rombongan biksu tiba di Candi Borobudur sebagai tujuan akhir perjalanan menandai berakhirnya rute ratusan kilometer (km) yang ditempuh dengan berjalan kaki dari Bali.

Sekitar pukul 07.00, para biksu berjalan dari TITD Hok An Kiong Muntilan menuju Vihara Mendut.

Electronic money exchangers listing

Di sana, mereka disambut hangat oleh Bante Sri Pannavaro Mahathera. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah dinas bupati.

Usai beristirahat, para biksu kembali berjalan menuju Candi Borobudur yang menjadi tujuan akhir. Sekitar pukul 13.54, mereka mulai memasuki kawasan candi melalui Gerbang Kalpataru.

Mereka berjalan beriringan menuju tangga utama, sebelum kemudian menaiki satu per satu undakan candi.

Di puncak, mereka melangsungkan pradaksina sekaligus melantunkan doa. Suasana hening dan khidmat menyelimuti prosesi tersebut.

Ketua Nasional IWFP 2026 Tosin menjelaskan, dari total 50 peserta awal, sebanyak 48 biksu berhasil mencapai dan naik ke Candi Borobudur.

Mereka berasal dari tiga negara, yakni Thailand, Malaysia, dan Laos, ditambah sejumlah biksu lokal Indonesia yang turut bergabung dalam etape akhir perjalanan.

Baca Juga :  Adaro Siapkan Satu Motor

“Yang naik hari ini 48 biksu, ditambah biksu lokal sekitar lima sampai 10 orang,” ujarnya.

Menurut Tosin, perjalanan yang ditempuh para biksu bukanlah perjalanan biasa. Terlebih, mereka rata-rata berjalan mulai 30 hingga 40 km per hari.

Selain itu, mereka juga harus menghadapi berbagai kondisi ekstrem, mulai dari terik matahari hingga hujan.

“Banyak yang kakinya lecet bahkan terluka. Tapi mereka tidak berhenti. Besoknya tetap berjalan. Ini komitmen yang sangat luar biasa,” bebernya.

Dia menyebut, setibanya di puncak candi, para biksu langsung melaksanakan doa bersama.

Doa tersebut menjadi puncak dari perjalanan spiritual yang telah mereka mulai sejak berangkat dari Bali. “Doa yang dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, negara, dan juga dunia,” paparnya.

Selain berdoa, lanjut dia, para biksu juga melakukan ritual pradaksina sebagai bentuk penghormatan dan praktik spiritual dalam tradisi Buddha.

Ritual ini menjadi simbol penyempurnaan perjalanan sekaligus penguatan niat damai yang mereka bawa sejak awal.

Baca Juga :  Semua Fakultas Menjadikan Kelapa Sawit sebagai Subjek Studi

Tosin menjelaskan, Borobudur dipilih sebagai tujuan akhir bukan tanpa alasan.

Sebagai candi Buddha terbesar di dunia, situs ini memiliki makna simbolis yang kuat bagi umat Buddha, sekaligus menjadi representasi kejayaan peradaban dan spiritualitas.

“Borobudur adalah kebanggaan, simbol kejayaan, dan memiliki aspirasi besar dalam ajaran Buddha.

Sangat relevan untuk menyuarakan perdamaian dari sini,” jelas Tosin.

Perjalanan IWFP 2026 tidak berhenti di Candi Borobudur. Tosin menambahkan, mereka akan diajak mengunjungi sejumlah situs candi lain di Indonesia pada Jumat (29/5/2026).

Seperti Candi Prambanan dan Candi Sewu sebagai bagian dari pengenalan kekayaan budaya Nusantara.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan budaya dan peninggalan sejarah. Tidak hanya Borobudur,” terangnya.

Tosin menyebut, para biksu dijadwalkan tetap berada di kawasan Borobudur untuk mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya.

Termasuk penyambutan secara simbolis oleh para pemangku kepentingan pada Sabtu (30/5) serta perayaan Waisak Nasional pada Minggu (31/5). (aya/laz/jpg)

 

 

Terpopuler

Artikel Terbaru