34 C
Jakarta
Monday, May 20, 2024
spot_img

Karhutla Terindikasi Disengaja, Belasan TKP Kebakaran Disegel

PALANGKA RAYA–Beberapa
pekan terakhir kabut asap sudah menyelimuti Kota Palangka Raya. Kebakaran hutan
dan lahan (Karhutla) yang terjadi secara beruntun sejak Juni hingga pertengahan
Juli diduga menjadi pemicunya. Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya
menjadi lokasi terbanyak terjadinya kebakaran lahan. Luasnya berpariasi mulai
dari setengah hektare (ha) hingga 5 ha.

Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) Palangka Raya telah merilis kejadian Karhutla sejak Maret
lalu. Berdasarkan data yang telah direkap, pada Maret 2019 ada dua lokasi
Karhutla yang sengaja dibakar yakni di Kelurahan Danau Tahai dan Tanjung
Pinang. Kemudian BPBD menemukan ada 23 Karhutla yang terjadi di Palangka Raya
selama enam bulan terakhir terindikasi sengaja dibakar.

Dari puluhan kejadian
itu, Polres Palangka Raya telah menangani sebanyak 21 lokasi karhutla dan total
ada 11 tempat kejadian perkara (TKP) terpaksa dilakukan penyegelan. Itu
dilakukan guna proses penyelidikan lebih medalam.  

Kapolres Palangka Raya
AKBP Timbul R.K Siregar mengatakan, pihaknya masih dalam proses penyelidikan
lebih lanjut terhadap kejadian tersebut dan kejadian paling banyak terjadi
adalah di KIecamatan Jekan Raya sebanyak 15 titik api.

Baca Juga :  Kapuas Terima Penghargaan ProKlim Utama dari KLHK

“Selama satu bulan ini
dari awal bulan juni kita menangani 21 lokasi kebakaran lahan di Kota Palangka
Raya tersebar di tiga kecamatan, yang kita police line ada 11,”katanya kepada
wartawan di Mapolres Palangka Raya,  Sabtu
(20/7).

Orang nomor satu di kops
Bhayangkara Polres Palangka Raya tersebut menuturkan, beberapa lokasi yang
dilakukan penyegelan adalah karena ada bekas api yang tidak tuntas, yang
kemudian terbakar lagi yang merembet dan membesar ke tempat lainnya.

Mayoritas karhutla
terjadi sekarang adalah karena faktor dibakar, untuk itu pihak kepolisan masih
melakukan penyelidikan terhadap pelaku pembakaran yang saat ini paling banyak terjadi
adalah Kecamatan Jekan Raya hampir 15 titik di wilayah Jekan Raya yang  didominasi lahan kosong.

“Ini terus Kita lakukan
identifikasi kalau sampai saat ini  tidak
ada pemilik lahan yang mengaku maka pihaknya akan melakukan koordinasi dengan
pemerintah kota untuk melakukan penyitaan terhadap lahan tersebut dan
dikembalikan ke negara,” tegas Perwira Menengah dengan melati dua di pundak
tersebut.

Baca Juga :  Waspada! Banjir Mulai Melanda Tiga Kabupaten di Kalteng

Sementara dalam kurun
waktu enam bulan Pusdalops BPBD Palangka Raya 
mencatat sekitar 37 kejadian Karhutla yang menghanguskan 42 Hektare (Ha)
lahan.

Plt Kepala BPBD kota
Palangka Raya Supriadi melalui Kepala Bidang penanggulangan Bencana Kaffeno Nahan
mengatakan, pihaknya terus waspada terhadap titik-titik rawan dan melakukan
pemadaman terhadap tempat  titik api
masih terlihat.

“Dengan kondisi
terakhir dan keadaan saat ini kita sudah menyiapkan personel maupun peralatan
yang ada, karena kita tahu kebanyakan sumber api ini kebanyakan kita lihat
sulit pada karena kondisi Gambut, kurangnya sumber air. Api memang terlihat
padam dari luar namun jika gambut bara di dalam tanah masih hidup,” terangnya.

BPBD juga meminta agar
masyarakat terutama dari RT dan RW turut proaktif dalam menjaga kawasan
lingkungannya sehingga Karhutla ini dapat dicegah bersama-sama semua komponen. “Saya
harapakan RT dan RW maupun kelurahan yang ada agar proaktif dalam menjaga
kawasannya agar kota palangka bebas asap,” pungkasnya. (ndo/ala) 

PALANGKA RAYA–Beberapa
pekan terakhir kabut asap sudah menyelimuti Kota Palangka Raya. Kebakaran hutan
dan lahan (Karhutla) yang terjadi secara beruntun sejak Juni hingga pertengahan
Juli diduga menjadi pemicunya. Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya
menjadi lokasi terbanyak terjadinya kebakaran lahan. Luasnya berpariasi mulai
dari setengah hektare (ha) hingga 5 ha.

Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) Palangka Raya telah merilis kejadian Karhutla sejak Maret
lalu. Berdasarkan data yang telah direkap, pada Maret 2019 ada dua lokasi
Karhutla yang sengaja dibakar yakni di Kelurahan Danau Tahai dan Tanjung
Pinang. Kemudian BPBD menemukan ada 23 Karhutla yang terjadi di Palangka Raya
selama enam bulan terakhir terindikasi sengaja dibakar.

Dari puluhan kejadian
itu, Polres Palangka Raya telah menangani sebanyak 21 lokasi karhutla dan total
ada 11 tempat kejadian perkara (TKP) terpaksa dilakukan penyegelan. Itu
dilakukan guna proses penyelidikan lebih medalam.  

Kapolres Palangka Raya
AKBP Timbul R.K Siregar mengatakan, pihaknya masih dalam proses penyelidikan
lebih lanjut terhadap kejadian tersebut dan kejadian paling banyak terjadi
adalah di KIecamatan Jekan Raya sebanyak 15 titik api.

Baca Juga :  Kapuas Terima Penghargaan ProKlim Utama dari KLHK

“Selama satu bulan ini
dari awal bulan juni kita menangani 21 lokasi kebakaran lahan di Kota Palangka
Raya tersebar di tiga kecamatan, yang kita police line ada 11,”katanya kepada
wartawan di Mapolres Palangka Raya,  Sabtu
(20/7).

Orang nomor satu di kops
Bhayangkara Polres Palangka Raya tersebut menuturkan, beberapa lokasi yang
dilakukan penyegelan adalah karena ada bekas api yang tidak tuntas, yang
kemudian terbakar lagi yang merembet dan membesar ke tempat lainnya.

Mayoritas karhutla
terjadi sekarang adalah karena faktor dibakar, untuk itu pihak kepolisan masih
melakukan penyelidikan terhadap pelaku pembakaran yang saat ini paling banyak terjadi
adalah Kecamatan Jekan Raya hampir 15 titik di wilayah Jekan Raya yang  didominasi lahan kosong.

“Ini terus Kita lakukan
identifikasi kalau sampai saat ini  tidak
ada pemilik lahan yang mengaku maka pihaknya akan melakukan koordinasi dengan
pemerintah kota untuk melakukan penyitaan terhadap lahan tersebut dan
dikembalikan ke negara,” tegas Perwira Menengah dengan melati dua di pundak
tersebut.

Baca Juga :  Waspada! Banjir Mulai Melanda Tiga Kabupaten di Kalteng

Sementara dalam kurun
waktu enam bulan Pusdalops BPBD Palangka Raya 
mencatat sekitar 37 kejadian Karhutla yang menghanguskan 42 Hektare (Ha)
lahan.

Plt Kepala BPBD kota
Palangka Raya Supriadi melalui Kepala Bidang penanggulangan Bencana Kaffeno Nahan
mengatakan, pihaknya terus waspada terhadap titik-titik rawan dan melakukan
pemadaman terhadap tempat  titik api
masih terlihat.

“Dengan kondisi
terakhir dan keadaan saat ini kita sudah menyiapkan personel maupun peralatan
yang ada, karena kita tahu kebanyakan sumber api ini kebanyakan kita lihat
sulit pada karena kondisi Gambut, kurangnya sumber air. Api memang terlihat
padam dari luar namun jika gambut bara di dalam tanah masih hidup,” terangnya.

BPBD juga meminta agar
masyarakat terutama dari RT dan RW turut proaktif dalam menjaga kawasan
lingkungannya sehingga Karhutla ini dapat dicegah bersama-sama semua komponen. “Saya
harapakan RT dan RW maupun kelurahan yang ada agar proaktif dalam menjaga
kawasannya agar kota palangka bebas asap,” pungkasnya. (ndo/ala) 

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru