Dampak Sosial Karhutla: Warga Berpenghasilan Rendah Paling Terpukul

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya meninggalkan jejak kesehatan yang buruk bagi masyarakat. Bencana tahunan ini turut mengacaukan rutinitas sosial hingga melumpuhkan aktivitas ekonomi warga sehari-hari.

Dosen Sosiologi FISIP Universitas Palangka Raya, Atem, M. Sos, menegaskan bahwa dampak sosiologis karhutla sangat terasa pada terganggunya sendi kehidupan dasar. Mulai dari urusan pekerjaan, pendidikan, hingga interaksi antarwarga di ruang publik kini menjadi terbatas.

“Karhutla sangat menghambat aktivitas masyarakat. Aktivitas di ruang publik menjadi terbatas, termasuk kegiatan di pasar, bekerja, dan mobilitas untuk bepergian,” ujar Atem, Jumat (16/10/2026).

Atem menyoroti bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan. Berbeda dengan pekerja bergaji tetap, kelompok informal ini sering kali tidak memiliki pilihan untuk beristirahat meski kualitas udara memburuk.

Baca Juga :  Pendaftaran Sekolah Kedinasan Resmi Dibuka, Ini Formasi dan Caranya

Mereka terjepit antara dilema kesehatan dan tuntutan bertahan hidup. Jika aktivitas di luar ruangan dihentikan, pendapatan harian mereka pun akan terancam hilang, sementara kebutuhan pokok tetap harus dipenuhi.

“Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah ini rentan secara struktural. Mereka harus tetap bekerja di lapangan untuk mendapatkan penghasilan, meskipun kondisi lingkungan sedang tidak sehat,” jelasnya.

Kondisi ini, menurut Atem, menciptakan persoalan sosial yang kompleks terkait ketimpangan ekonomi. Ia mencontohkan buruh bangunan atau pelaku UMKM yang pendapatannya langsung merosot drastis saat pelanggan berkurang akibat kabut asap.

Electronic money exchangers listing

“Misalnya, pekerjaan yang biasanya bisa dilakukan dengan kapasitas lima orang, karena kondisi karhutla hanya bisa dilakukan oleh dua orang. Sementara itu, kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi,” tutur pengajar lulusan Universitas Padjadjaran tersebut.

Baca Juga :  20 Titik Panas Terdeteksi di Lamandau, BPBD Minta Warga Waspada Karhutla

Secara keseluruhan, karhutla harus dilihat sebagai krisis multidimensi. Bencana ini bukan sekadar persoalan lingkungan dan kesehatan, melainkan ujian bagi keberlangsungan penghidupan masyarakat kelas bawah di tengah ancaman bencana. (jef/hnd)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya meninggalkan jejak kesehatan yang buruk bagi masyarakat. Bencana tahunan ini turut mengacaukan rutinitas sosial hingga melumpuhkan aktivitas ekonomi warga sehari-hari.

Dosen Sosiologi FISIP Universitas Palangka Raya, Atem, M. Sos, menegaskan bahwa dampak sosiologis karhutla sangat terasa pada terganggunya sendi kehidupan dasar. Mulai dari urusan pekerjaan, pendidikan, hingga interaksi antarwarga di ruang publik kini menjadi terbatas.

“Karhutla sangat menghambat aktivitas masyarakat. Aktivitas di ruang publik menjadi terbatas, termasuk kegiatan di pasar, bekerja, dan mobilitas untuk bepergian,” ujar Atem, Jumat (16/10/2026).

Electronic money exchangers listing

Atem menyoroti bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan. Berbeda dengan pekerja bergaji tetap, kelompok informal ini sering kali tidak memiliki pilihan untuk beristirahat meski kualitas udara memburuk.

Baca Juga :  Pendaftaran Sekolah Kedinasan Resmi Dibuka, Ini Formasi dan Caranya

Mereka terjepit antara dilema kesehatan dan tuntutan bertahan hidup. Jika aktivitas di luar ruangan dihentikan, pendapatan harian mereka pun akan terancam hilang, sementara kebutuhan pokok tetap harus dipenuhi.

“Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah ini rentan secara struktural. Mereka harus tetap bekerja di lapangan untuk mendapatkan penghasilan, meskipun kondisi lingkungan sedang tidak sehat,” jelasnya.

Kondisi ini, menurut Atem, menciptakan persoalan sosial yang kompleks terkait ketimpangan ekonomi. Ia mencontohkan buruh bangunan atau pelaku UMKM yang pendapatannya langsung merosot drastis saat pelanggan berkurang akibat kabut asap.

“Misalnya, pekerjaan yang biasanya bisa dilakukan dengan kapasitas lima orang, karena kondisi karhutla hanya bisa dilakukan oleh dua orang. Sementara itu, kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi,” tutur pengajar lulusan Universitas Padjadjaran tersebut.

Baca Juga :  20 Titik Panas Terdeteksi di Lamandau, BPBD Minta Warga Waspada Karhutla

Secara keseluruhan, karhutla harus dilihat sebagai krisis multidimensi. Bencana ini bukan sekadar persoalan lingkungan dan kesehatan, melainkan ujian bagi keberlangsungan penghidupan masyarakat kelas bawah di tengah ancaman bencana. (jef/hnd)

Terpopuler

Artikel Terbaru